Jakarta (iddaily.net) – 23 Jemaah haji Indonesia meninggal di Arab Saudi sejak awal musim haji hingga awal pekan ini.
Hal ini diungkapkan Kementerian Haji dan Umrah Indonesia (Kemenhaj), sebagaimana dilansir minanews.net.
Setidaknya, 67 jemaah haji Indonesia lainnya juga diberitakan masih dirawat di rumah sakit karena beragam masalah kesehatan.
Jubir Kemenhaj Ihsan Marsa, mengatakan pihak berwenang Indonesia memantau kesehatan para jemaah haji melalui misi medis yang ditempatkan di Mekah dan Madinah.
Tim medis secara langsung mendampingi para jemaah haji di hotel, pusat layanan, dan rumah sakit, memastikan menerima perawatan intensif.
Sebagian besar jemaah yang meninggal adalah lansia, menderita penyakit kronis dan komplikasi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.
Kondisi ini bertepatan dengan gelombang panas di Arab Saudi, di mana suhu melebihi 40 derajat celcius dalam beberapa hari terakhir.
Ini menambah beban bagi para jamaah haji, terutama mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes.
Pemerintah Indonesia menngimbau para jemaah haji memperbanyak minum air, menghindari paparan sinar matahari langsung dan mematuhi instruksi tim medis.
Pemerintah juga menyarankan mereka untuk tidak terlalu memforsir diri dengan melakukan ibadah sukarela secara berlebihan, sebelum ritual utama dimulai di Arafat, Muzdalifah, dan Mina, yang diperkirakan akan menerima jutaan jamaah haji dari seluruh dunia.
Sedangkan Kementerian Agama dan Misi Haji Indonesia terus meningkatkan layanan kesehatan dengan menyediakan klinik lapangan, ambulans dan layanan rujukan cepat ke rumah sakit di Arab Saudi.
Langkah-langkah ini diambil setelah musim haji sebelumnya kasus kelelahan, cuaca panas meningkat.
Pemerintah mengimbau para jemaah melaksanakan ibadah dengan aman dan menyerukan rakyat Indonesia berdoa untuk kesehatan dan keselamatan mereka selama berada di Arab Saudi.
Sementara dilansir dikutip dari indonesiaalyoum.com seorang jemaah haji Indonesia berinisial SMP (73) asal Embarkasi Kertajati kloter KJT-14, dilaporkan wafat.
Sebelumnya sempat mengalami penurunan kondisi kesehatan saat berada di area bandara.
Mengutip laman resmi Kementerian Haji dan Umrah, Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, bahwa jemaah tersebut mengalami penurunan kesadaran saat menjalani proses imigrasi di bandara.
“Jemaah berinisial SMP, usia 73 tahun, dari Embarkasi Kertajati KJT-14, sempat turun kesadarannya saat proses imigrasi di bandara. Begitu diketahui kondisinya menurun, petugas langsung melakukan penanganan dan jemaah dibawa ke klinik bandara,” ujar Abdul Basir di Madinah, dikutip Senin (4/5/2026).
Setelah mendapat penanganan di klinik bandara, jemaah tersebut kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mouwasat Madinah untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Namun, jemaah dinyatakan wafat setelah menjalani proses rujukan dan penanganan medis.
“Dari klinik bandara, jemaah kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mouwasat Madinah untuk penanganan lebih lanjut. Namun, berdasarkan informasi yang kami terima, jemaah tersebut kemudian dinyatakan wafat,” demikian ditulis indonesiaalyoum.com
Menurutnya almarhum telah dimakamkan di Baqi.
“Almarhum telah dimakamkan di Baqi tadi pagi. Untuk jemaah haji yang wafat, pemerintah juga akan membadalhajikan sesuai ketentuan. Ini menjadi bagian dari perhatian dan tanggung jawab layanan kepada jemaah,” tambah Abdul Basir.
Kemenhaj Sampaikan Duka untuk Jemaah Muhammad Firdaus
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Muhammad Firdaus, jemaah haji Indonesia berusia 72 tahun dari Kloter JKG-27, yang sebelumnya dilaporkan dalam proses pencarian di Arab Saudi.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Haji dan Umrah RI, Moh. Hasan Afandi, mengatakan bahwa proses pencarian jemaah atas nama Muhammad Firdaus telah mencapai titik temu.
Berdasarkan laporan tim di lapangan dan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi, almarhum ditemukan dalam keadaan wafat.
“Berdasarkan laporan tim di lapangan dan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi, Bapak Muhammad Firdaus diketemukan dalam keadaan wafat,” ujar Hasan dalam keterangannya di Makkah, Jumat, 22 Mei 2026.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami segenap PPIH Arab Saudi menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhum, dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan,” sambungnya.
Hasan menyampaikan terima kasih kepada keluarga almarhum, KJRI Jeddah, otoritas Arab Saudi, pihak rumah sakit Arab Saudi, petugas haji yang melakukan pencarian, serta seluruh masyarakat Indonesia yang turut mendoakan selama proses pencarian berlangsung.
Ia menegaskan, pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi akan menyiapkan badal haji bagi almarhum. Pelaksanaan badal haji tersebut akan dilakukan oleh petugas haji.
“Pemerintah melalui PPIH Arab Saudi akan menyiapkan badal haji yang dilakukan oleh petugas haji bagi almarhum,” jelas Hasan.
Pada kesempatan tersebut, Hasan juga mengajak seluruh jemaah dan petugas untuk meningkatkan kepedulian satu sama lain, terutama terhadap jemaah lansia, disabilitas, perempuan, serta jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu.
Menurutnya, setiap jemaah dan petugas perlu lebih peka apabila melihat jemaah berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan.
“Bila melihat jemaah berjalan sendirian, tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, segera sapa dan tanyakan kondisinya. Jika jemaah tersebut tidak mengetahui arah tujuan atau membutuhkan bantuan, antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan kloter,” imbaunya.
Hasan mengingatkan agar tidak membiarkan jemaah berjalan sendiri tanpa pendampingan, khususnya jemaah yang membutuhkan perhatian lebih. Kepedulian antarsesama dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan.
“Jangan biarkan jemaah berjalan sendiri tanpa pendampingan. Kepedulian Bapak dan Ibu sekalian sangat penting untuk mengurangi kemungkinan jemaah tersesat atau terpisah dari rombongannya,” tegasnya.
Kemenhaj juga mengimbau jemaah yang membutuhkan bantuan agar tidak sungkan menyampaikan kondisi dan kebutuhannya kepada petugas. Hasan menegaskan, petugas haji Indonesia hadir untuk mendampingi, melayani, dan melindungi jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Bagi jemaah yang membutuhkan bantuan, jangan sungkan menyampaikan kepada petugas. Petugas haji Indonesia hadir untuk mendampingi, melayani, dan melindungi jemaah selama berada di Tanah Suci,” pungkasnya.
