Jakarta (iddaily.net) –Kejutan pertama, tertahan di bandara ketika masuk Arab Saudi karena urusan surat menyurat (baca: edisi ke 2), seolah menjadi signal hal-hal unik lain yang akan saya alami dalam pelaksanaan ibadah Haji.
Apalagi, melihat “ke belakang”, jejak-jejak dosa kelihatan berserak.
Karena memang harus dijalani, saya memilih pasrah saja.
***
Rombongan haji kelompok kami, tinggal di sebuah hotel di Jeddah, sekitar 84 km dari Makkah.
Tibalah waktunya umrah tamattu’, atau umrah yang dilakukan sebelum melakukan ibadah haji.
Memakai baju ihram, saya lakukan dengan hati-hati, karena khawatir ada yang kelewat.
Membaca niat, mandi, memakai ihram, dan salat sunnah.
Tentu, baju ihram tanpa jahitan, saya usahakan cukup ketat.
Daripada melorot, kan gawat.
***
Dengan terbalut ihram, saya menunggu jemputan datang di lobi hotel.
Seorang penjemput yang datang malah mengatakan hal yang cukup bikin shock:
“Maaf, nama anda tidak ada di list,..
Nama tidak ada di list, artinya tidak bisa ikut umrah. What?!
Memang, tidak ada kewajiban umrah dalam berhaji. Keduanya ada di ranah aturan yang berbeda.
Umrah termasuk sunnah muakkad (sangat dianjurkan), sementara haji (dengan rangkaian Ihram, Wukuf di Arafah, Tawaf Ifadah, Sai, dan Tahallul) dilakukan sekali dalam seumur hidup, bila mampu.
Tapi sayang bangetkan, sudah di Tanah Suci, tapi tidak umrah.
Saya meyakinkan petugas, kemungkinan nama saya kelewat, hingga tidak ada di list.
Entah bagaimana ceritanya, setelah dicek sana sini, akhirnya saya diizinkan ikut umrah.
Alhamdulillah!
***
Rombongan bergerak dari hotel di Jeddah menuju ke Masjidil Haram di Makkah.
Perjalanan 1,5 jam ini terasa panjang. Bus berhenti berkali-kali, ketika melintas di pos pengecekan.
Sampai akhirnya, bus masuk ke kawasan Masjidil Haram.
Rasa syahdu, dan bahagia menyergap hati. Bayangan pertama kali melihat Ka’bah yang sudah di depan mata.
Seluruh anggota rombongan menyepakati pergi dulu ke kamar mandi, untuk wudhu dan ke toilet, sebelum melaksanakan umrah.
Saya segera bergegas menuju toilet, melalui tangga turun.
Entah kenapa, ketika buang air kecil di salah satu toilet, kain ikram yang saya selipkan di pinggang, tiba-tiba jatuh, dan terkena air kencing,..
Hadeuhhhh,.ada-ada saja.
Panik pasti.
Air kran saya nyalakan sampai maksimal. Bagian ikram yang terkena air kencing saya gugur hingga hilang warna dan baunya.
Setelah bersih, saya pakai ikram kembali, dan lanjut bertemu rombongan untuk masuk Masjidil Haram, langsung ke halaman ka’bah.
Rombongan berjalan beriringan.
Askar berjaga dengan ketat.
Jamaah yang akan masuk diawasi. Begitu juga rombongan kami.
Semua anggota bisa masuk dengan mudah, tapiii,… saya dicegat.
Saya tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram.
OMG!
Anggota rombongan yang berhasil masuk, memilih melanjutkan ke arah Ka’bah.
Saya sendirian berhadapand dengan Askar.
“Tasmu,.. tasmu,” kira-kira gitu kata askar, sambil memegang tas ransel yang saya taruh di depan dada.
Pas berukuran besar, memang tidak diperbolehkan. Tas saya, menurut saya tidak besar. Cukup ukuran satu sepasang sandal.
“Ini kosong, untuk sandal,” saya menjelaskan.
Askar membuka tas saya, yang memang tidak ada isinya.
Bagian dalamnya diraba dengan tangan.
Setelah dirasa aman.
Saya diperbolehkan masuk, dan langsung bergegas turun menggunakan eskalator menuju Ka’bah.
Rasa haru menyeruak.
Di sela-sela ratusan orang yang memadati sekitar Ka’bah, saya menyaksikan secara langsung keindahan dan keanggunan kiblat umat muslim seluruh dunia itu.
“Labbaik Allahumma Labbaik.. aku memenuhi panggilanmu Ya Allah,”

(bersambung)
