Jakarta (iddaily.net) – Cerita-cerita tentang haji, tidak bisa dilepaskan dari kisah unik yang ditemui, ketika melaksanakan Ibadah di Tanah Suci.
Ada yang bilang, apa yang kita rasakan ketika melaksanakan Rukun Islam ke Lima itu adalah cerminan apa yang selama ini kita kerjakan.
Ketika banyak salah dan dosa, itu juga yang akan kita “bayar”.
Sebaliknya, ketika kita banyak melakukan hal baik, maka kebaikan itu juga yang termanifestasi di Tanah Suci.
Entah benar, entah salah, tapi inilah yang saya rasakan, ketika mendapatkan tugas meliput sekaligus menunaikan haji pada 2025.
***
Ketika kantor setuju saya berangkat, ini adalah keberangkatan saya ketiga yang sukses.
Pertama, saya pernah ditugaskan meliput umrah pertama pasca Pandemi Covid19, tapi gagal.
Kedua, ada undangan meliput pengawas haji DPR, gagal juga.
Dan ketiga, ketika ada undangan meliput Haji dari kerajaan Arab Saudi, garis nasib menunjukkan, saya menyambut panggilan Allah SWT.
Tapi, sebagai muslim yang “biasa-biasa” saja, pergi haji perlu persiapan yang matang.
Pertanyaan utama: Bagaimana doa-doanya?
Jangankan doa berhaji, salat lima waktu yang bolong-bolong saja, lebih sering membaca doa “Kulhu” dan “An Nas”.
Untung ada marketplace.
Istri tercinta membelikan kumpulan doa-doa berhaji, berukuran kecil, yang bisa digantungkan di leher.
Aha! Solusi terpecahkan.
Rencananya, ketika di Tanah Suci dan melaksanakan rukun Haji, saya membaca doa-doa yang tergantung di leher.
Tentu, ada tulisan huruf latinnya. Sebagai mantan murid mengaji di kampung yang belum tuntas juz amma, akan susah bagi saya membaca huruf arabnya.
***
Karena tidak mau terjebak “riya”, saya sengaja tidak cerita ke tetangga, kalau saya akan ke Tanah Suci.
Eh, menjelang keberangkatan, tiba-tiba pak RT dan pak Ustaz mengajak rapat panitia persiapan Idul Adha dan Pemotongan Kurban.
Mau nggak mau, sambil bisik-bisik, saya bilang ke pak RT dan Uztas,”Maaf, saya sepertinya nggak ikut bantuin pelaksanaan Idul Adha, karena ada tugas ke Tanah Suci,”
“Alhamdulilllaaaaahhhhhh,’’ kata mereka.
Saya meminta, tidak perlu rame-rame, karena “gak enak” sama tetangga.
Izin ke pak RT dan Pak Ustaz itu memunculkan kebiasaan baru, bahkan sebelum saya berangkat ke Saudi Arabia.
Ketika kita ketemu di jalan kompleks, saya selalu disapa: “Jiiiii,…”
Hadeuhhh,.. akhirnya, banyak yang tahu rencana haji diam-diam ini.
Singkat kata, hari keberangkatan tiba.
Saya dan rombongan sudah ada Terminal 3 Soekarno Hatta.
Masing-masing kami menerima tiket keberangkatan, melalui pesawat komersial.
Tapi Visa Haji jenis mujamalah-nya belum ada!
Tentu pihak maskapai dan petugas check in counter tidak bisa memproses tiket, tanpa ada visa.
Sambil menunggu waktu keberangkatan pada dini hari, kami dag dig dug menunggu visa.
Semua barang-barang ditimbang.
Karena ada yang kebanyakan barang, kami berinisiatif membagi barang-barang ke tas-tas yang kosong.
Jam terus berdetak.
Kami disarankan membuat akun di aplikasi “Saudi Visa Bio”.
Dan itu bukan hal yang mudah, dalam kondisi deg degan dan dikejar waktu.
Selain memasukkan data pribadi, ada juga face dan finger recognition.
Bandara menjadi saksi, grup kami memasukkan data-data dengan akrobatik, karena signal internet putus nyambung.

***
Jadwal penerbangan semakin dekat.
Visa Haji Mujamalah (undangan) yang kami tunggu belum juga datang melalui email.
Kegelisahan kami memuncak, ketika petugas counter mengabarkan, kalau mereka tidak bisa menunggu.
Seluruh penumpang diminta memasuki pesawat, dan bersiap untuk terbang ke Arab Saudi.
Tentu kami tidak ikut di dalamnya.
Gagal berhaji? Weits,… tunggu dulu.
(bersambung)
