Jakarta (iddaily.net) –Lengkap sudah formasi tiga tim Championship League yang berhak naik ke Superleague, dulu disebut Liga 1, musim depan.
Tangis warga Papua pecah di Stadion Lukas Enembe Jayapura karena Persipura gagal naik kasta.
Memiliki keunggulan tampil di rumah sendiri karena punya keunggulan nilai pada fase grup dibanding Adhyaksa FC Banten, Persipura justru takluk 0-1 di babak playoff Championship League.
Lebih dari 35 ribu penonton urung meluapkan kegembiraan.
Sebaliknya, polisi menetapkan 9 tersangka kerusuhan pengrusakan fasilitas, penganiayaan, pembakaran kendaraan hingga pencurian kendaraan bermotor di sekitar lokasi kejadian pada 8 Mei 2026 lalu.
Adhyaksa FC -tim berjuluk ’Sang Jaksa’ atau ’The Prosecutors’- lolos ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia melengkapi duo PSS Sleman dan Garudayaksa FC yang sudah memastikan tiket Superleague pekan sebelumnya.
Tiga tim promosi menggantikan tiga tim dari Superleague: PSBS Biak, Semen Padang dan satu lagi masih ‘diperebutkan’ antara Persis Solo atau Madura United.
Video di akun Instagram @InfoJayapuraSentani menunjukkan bagaimana Manajer Persipura Owen Rahadian mencoba menenangkan pendukung Persipura setelah hasil yang tak diinginkan itu.
”Kalian marah? Saya juga marah. Tapi ingat, kita hari ini belum kalah. Persipura masih ada di liga dan kita akan terus berjuang. Persipura sudah empat musim di Liga Dua. Semua mau ke Liga Satu, benar? Perjuangan kita belum selesai. Jangan karena hari ini kalian putus asa. Tolong jaga marwah Persipura dan para suporter. Apakah dengan kekalahan ini kita akan tidur? Tidak. Kita akan membenahi tim dan ke depan Persipura akan fight lebih keras. Mohon maaf semua untuk musim ini. Kita sangat yakin cita-cita kita untuk naik ke Liga 1,” seru pengusaha ikan tuna itu sambil memegang megaphone.
Owen Rahadian, pemilik perusahaan Ulam Laut, bersama isterinya Eveline Sanita, merupakan sosok di balik suksesnya PSBS Biak menembus Liga 1 dan dua musim bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Pertengahan musim 2025/2026, ia mundur dari PSBS dan memilih hijrah ke tim Championship alias Liga 2, Persipura.
Maka, tim ibu kota Papua pemilik empat bintang juara di jersey itu pun meledak prestasinya.
Dari akhir musim lalu nyaris terdegradasi ke Liga 3, terselamatkan berkat kemenangan 2-1 atas Persibo Bojonegoro, hingga musim ini ada di dua besar Grup B Championship League.
Kali ini, Owen berbenah cepat. Pelatih yang juga legenda Persipura, Ricardo Salampessy, diganti Rahmad Darmawan. Purnawirawan Mayor Laut TNI AL yang pernah membawa Persipura juara liga 2005 itu langsung ngegas.
Video para pemain dan ofisial bernyanyi lagu rohani di ruang briefing hotel sebelum pertandingan selalu menghiasi konten media sosial. Dari pekan ke pekan.
Namun, tiket lolos langsung ke Superleague gagal diraih.
Nilai sama 56, tapi Persipura kalah head to head dengan PSS Sleman yang menggenggam tiket otomatis naik kasta.
Tiga kali pertemuan, hasilnya PSS menang 2-0 dan dua kali seri: 1-1 serta 0-0.
Tiga poin yang tak bisa dimaksimalkan di kandang, seperti juga ketika menjamu Persela Lamongan, patut disesali. Persipura tak lolos otomatis.
Harus bertarung dengan sesama runner-up dari grup lain.
Dan, hasilnya kalah dari Adhyaksa di stadion kebanggaan masyarakat Papua.
Sayang, memang. Tak usah melempar tuduhan curang, karena partai ’play-off final’ melawan Adhyaksa FC dipimpin wasit FIFA Uzbekistan, Asker Nadjafaliev.
Juga tak usah sirik karena baik Adhyaksa maupun Garudayaksa, dua tim dari Grup A yang naik kasta ke Superleague, tak punya basis supporter kuat.
Beda dengan PSS Sleman dan Persipura yang stadionnya nyaris selau penuh.
Faktanya, sore itu Persipura gagal menembus taktis cerdas pelatih Ade Suhendra.
Adhyaksa bermain pertahanan disiplin rapat dibumbui pressing ketat begitu dapat kesempatan.
Selain itu, mental tanding Adhyaksa FC lebih siap.
Bermain di kandang Persipura dengan tekanan suporter besar bukan hal mudah.
Namun Adhyaksa terlihat lebih tenang dan fokus dalam laga penentuan promosi ini.
Sebaliknya, Persipura terlihat terburu-buru ketika masuk area akhir.
Ditambah lagi, para pemain kuncinya sangat efektif.
Kombinasi pemain berpengalaman seperti Makan Konate, Ramiro Fergonzi, dan Adilson Silva memberi pengaruh besar.
Gol kemenangan lahir dari kualitas dan ketenangan lini depan mereka.
Bandingkan dengan Persipura. Beberapa pemain pilarnya ada di atas usia 30 tahun.
Ada nama Yustinus Pae (41). Boaz Solossa (40), Ian Kabes (39), Ruben Sanadi (38), kiper Samuel Reimas (34), Marckho Meraudje (31).
Sementara ada tiga darah muda, anak legenda Persipura ada di tim.
Ada Reno Salampessy, striker yang merupakan putra dari pelatih kepala Persipura, Ricardo Salampessy.
Dennis Ivakdalam, anak Eduardo Ivakdalam. Dan Yeremia Merauje, menjadi penjaga gawang seperti ayahnya, Fison Merauje. Dari tiga nama itu, hanya Reno yang mendapat posisi pemain inti.
Kaka Ade, Pace Mace, Persipura Mania tak perlu bersedih. Ini belum waktu Tuhan untuk kembali ke pentas tertinggi sepak bola Indonesia.
Bangun tim dan manajemen lebih baik.
Lanjutkan perjuangan musim depan.
Regenerasi pemain, lahirkan kembali para legenda seperti nama-nama talenta baru yang tak pernah kering bermunculan.
Dan, mari kita berdendang lagi seperti lagu ’Black Brothers’ di era kejayaan Persipura pertengahan 1980-an…
”Orang telah tau,
semua pun tau di lapangan hijau
kini tlah muncul di ufuk timur,
Mutiara Hitam.
Timo Kapisa, Johanes Auri
dan kawan-kawannya…
bermain gemilang, menerjang lawan
dan selalu menang.
Persipura, Mutiara Hitam…
Persipura, selalu gemilang
Tiada disangka tiada diduga akan semua itu
mereka gemilang di lapangan hijau, semua gembira!“
