08 January 2010

Menyelamatkan Surabaya dengan Mangrove

Pranoto

Kampanye penanaman mangrove (bakau) gencar dilakukan Pemkot Surabaya. Antisipasi terhadap pengikisan tanah oleh air laut (abrasi) ini dinilai perlu. Menurut data yang dihimpun Mahasiswa Pecinta Alam UNESA, dari 26 km panjang pantai Surabaya, hanya 10% yang ditumbuhi mangrove, sisanya dibangun pemukiman dan tambak.

Mangrove merupakan tanaman yang mempunyai akar – akar yang kuat dan menonjol, sehingga dapat menahan hantaman air laut. Penanamannya pun juga tergolong mudah. Hanya perlu dijaga dan dibersihkan dari sampah.

Kampanye penanaman mangrove dimulai dari kawasan Pantai Timur Surabaya, Wali Kota Bambang D.H. bersama sejumlah pejabat dan tokoh publik mengajak serta warga untuk menanam 1000 benih mangrove di hutan konservasi Wonorejo, Rungkut, (13/12) lalu. Hutan mangrove di daerah tersebut dinilai punya potensi yang baik. Selain penghalang kikisan air laut dan habitat bagi flora dan satwa liar, pemberdaya mangrove di daerah itu juga cukup banyak.

Muchson atau lebih akrab dipanggil Soni, salah satu pelopor pemberdayaan tanaman mangrove di Wonorejo. Beliau mulai meneliti dan mengembangkan mangrove sejak tahun 1998. Dari situ ia bersama warga sekitar bisa mengolah mangrove menjadi makanan seperti tepung, dodol dan sirup lalu dipasarkan. “Dari situ saya sadar kalau mangrove itu banyak sekali manfaatnya” tuturnya.

Kelompok pemberdaya mangrove lain, Lulut Sri Yuliani juga pendiri kelompok Griya Karya Tiara Kusuma di daerah Kedung Asem, memanfaatkan daun, akar serta tunas mangrove sebagai bahan dasar pewarna batik.

Dari beberapa keistimewaan tanaman mangrove tersebut, Pemkot Surabaya bekerjasama dengan Bappeko, BLH dan sejumlah aktivis pecinta lingkungan gencar melakukan Kampanye menanam mangrove. Pohon masa depan ini kelak akan melindungi kota Surabaya agar tidak tenggelam karena abrasi pantai atau pengikisan tanah karena air laut.

Namun berbeda dengan kondisi Pantai Barat Surabaya, antara lain di daerah Greges dan Kali anak. Yang sangat disayangkan adalah di bibir Pantai Greges, keberadaan mangrove cukup memprihatinkan, pasalnya warga belum begitu sadar terhadap lingkungan mereka yang tercemar akibat sampah, padahal mereka juga menggantungkan hidup dari pantai tersebut.

No comments:

Post a Comment

Program

Program