16 August 2009

Yovie, Cendekiawan Musik Dengan Cita-cita Besar

Iman D. Nugroho

"Kalau pertunjukan musik populer, pertanyaannya, kapasitas gedung cukup atau tidak untuk penonton? Tapi kalau pertunjukan musik jazz, pertanyaannya, penontonnya ada atau tidak ya? Haha,.." Seloroh Yovie Widianto di tengah-tengah pementasan musik jazz fusion di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), minggu kedua Agustus lalu itu seperti mengingatkan lagi kondisi publik musik di Indonesia. "Masyarakat kebanyakan memang lebih suka musik yang sederhana, tapi sebagai musisi, kita tidak boleh cengeng dengan kondisi itu dan harus tetap membuat karya yang berkualitas dan jujur," kata Yovie pada The Jakarta Post.


Siapa tidak kenal Yovie Widianto? Laki-laki kelahiran Bandung, 21 Januari 1968 itu adalah salah satu musisi muda Indonesia yang namanya belakangan terus melambung. Maaf-maaf saja, sosok pemilik Yovie Widianto Music Factory/KAIn entertainment di Utan Kayu Jakarta Timur ini memang bukan musisi "kemarin sore". "Saya memang ada di setiap jaman, sejak tahun 1980-an dengan mas Fariz RM hingga kini, meskipun tidak selalu menjadi histeria," jelasnya.

Nama Yovie mulai muncul di dunia musik negeri ini ketika mojang Sunda ini terpilih sebagai finalis Festival lagu populer Indonesia pada tahun 1987, 1989, 1990 dan 1991. Setelah itu, tercatat sebagai The Best Composer dalam Young Star International Festival tahun 1991 di Taiwan. Bersama grup musik Kahitna dan Indonesia 6, Yovie sempat dua kali "mengguncang" Tokyo, Jepang dalam Band Explosion.

Di Indonesia, nama Yovie kembali menjadi warna saat Kahitna merilis album bertamanya, Cerita Cinta pada tahun 1997. Seperti tidak mau berhenti berkarya, selama sembilan tahun, hingga tahun 2006, Kahitna terus menciptakan album baru. Tentu saja, dengan jumlah hits yang berbeda di masing-masing album yang dikeluarkan. "Bersama Kahitna, perjalanan musik saya seperti tidak terlupakan," kenangnya.

Hebatnya, di antara kesibukannya dengan Kahitna, Yovie juga aktif dalam proyek musik lain, Yovie&theNUno. Dalam grup barunya ini, Yovie menelorkan dua album. Berderet penghargaan pun diraih. Panasonic Award 2000, Multy Platinum & 5 Million RBT Award, Most Favourite Artist Indonesia oleh MTV Asia Awards 2008 hingga Producer dan Album Terbaik Terbaik – The Special One Yovie&Nuno 2009. "Semua adalah berkah dari-Nya," kata Yovie pendek.

Kesuksesan Yovie dalam Kahitna dan Yovie&theNUno mendorong banyak musisi mempercayakan albumnya kepada alumni Universitas Pajajaran, Bandung ini. Kurang lebih ada 15 musisi papan atas Indonesia, seperti Rio Febrian, Glenn Fredly, Audy, The Groove Band, kuartet Warna, trio RidaSitaDewi, Ruth Sahanaya, bahkan musisi senior seperti Chrisye hadir dalam besutan musik Yovie. Plus, proyek idelalisme Yovie sebagai arranger dan conductor dalam The Indonesian Harmony, Yovie Widianto Light Orchestra dan Yovie Widianto Fusion band. Wow!

Keterlibatan Yovie dalam seabrek aktivitas itu, bagi laki-laki berpawakan kalem ini seperti menorehkan berbagai warna pada kanvas musik Indonesia. "Saya hanya ingin, musik Indonesia penuh warna yang berbeda-beda, tidak didominasi aliran musik tertentu," katanya. Ibarat musik siaran di TVRI pada jaman dulu. Di stasiun televisi milik pemerintah itu, masyarakat disuguhi berbagai jenis musik. Keroncong, jazz, pop dll.

"Jaman dulu orang bisa tahu Yoppi Item, Pah Hoegeng, Edy Sud, Rhoma Irama dan Jack Lesmana. Tapi kini, masyarakat hanya mengenal ST12, Ungu, D Masiv, Radja, Peterpan. Sangat tidak beragam," kata penggemar Chick Corea dan David Foster ini. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari pilihan 11 stasiun televisi nasional yang membuat acara hanya demi tuntutan rating dari lembaga riset tertentu. Akibatnya, apresiasi budaya di masyarakat pun mandek.

Para musisi tergoda untuk membuat musik hanya dengan harapan bisa muncul kepermukaan saja. Tidak memperdulikan kualitas, serta sekedar mengikuti trend yang ada saat ini. Akhirnya, musik yang muncul belakangan hampir-hampir sama. Bahkan ada juga yang melakukan plagiasi. "Saya tidak tahu, apakah mereka sengaja meniru atau tidak, yang jelas banyak sekali kritikan yang mengatakan grup ini sama dengan grup itu dan sebagainya," kata Yovie.

Hal itu jelas tidak dibenarkan dalam sebuah karya musik. Originalitas menjadi sangat penting. Namun, belakangan Yovie melihat banyak musisi "bersembunyi" di balik kalimat influence atau terpengaruh oleh musik orang lain. "Pengaruh atau influnce itu sah-sah saja, kita bisa menilai dari aroma musik yang sama. Tapi, kalau sudah melodi, cord, ambience dan pukulan drumnya sama persis, itu plagiasi," katanya.

Yovie mencontohkan lagu berjudul My Way karya Frank Sinatra dengan Truely karya Lionel Richie. Dua lagu itu memiliki aroma yang hampir sama, tapi banyak juga hal yang membedakan keduanya. Bagi Yovie, naluri berkesenian musisi akan bisa merasakan lagu hasil jiplakan atau tidak. "Kalau dalam mencipta lagu terlalu mirip, saya memilih untuk meninggalkan lagu itu," jelasnya.

Di Indonesia, plagiatisme kembali dibicarakan ketika sebuah band baru bernama D Massiv dituduh menjiplak lagu milik beberapa band luar negeri seperti Switchfoot, Muse, Fall Out Boy, Lifehouse, Incubus dan Keane. Sayang, masih banyak masyarakat yang tidak paham akan hal ini. Kondisi yang demikian, menurut Yovie patut disesalkan. Tapi tidak lantas membuat musisi harus berhenti berkarya.

Yovie sendiri memilih untuk tetap menjaga kemajemukan dan originalitas karya sebagai sarana untuk meningkatkan apresiasi musik di masyarakat. Karya yang berkualitas, jelasnya, akan mampu menginfiltrasi kebudayaan melalui musik . "Masyarakat tidak bisa digurui, saya lebih suka mempengaruhi masyarakat melalui pendekatan budaya yang pelan-pelan meningkatkan kualitas bermusik," katanya.

Yovie mencontohkan dalam budaya musik jazz. Musik jazz di mata Yovie berhasil mendorong meningkatnya budaya masyarakat. Dan pada ujungnya mengubah prilaku masyarakat. "Ada keengganan penikmat jazz untuk membeli bajakan, karena kualitas karya original lebih tinggi dari pada yang bajakan,"katanya. Suatu saat, masyarakat musik di Indonesia akan sampai pada kondisi menghargai musik yang berkualitas, dari pada musik popular saja," katanya.

No comments:

Post a Comment

Program

Program