31 August 2009

Indonesia dan Malaysia Berteman di Negeri Seberang

Maya Mandley

Meski tak rutin mengikuti, tapi aku ikut prihatin dengan pemberitaan soal Indonesia dan Malaysia. Kalo ditanya soal perasaan, aku gak tahu perasaanku, karena jauh dari tanah air. Sebab selama 6 tahun merantau di negaranya Pak Obama, justru aku punya banyak teman orang dari Malaysia. Baik yang bisa berbahasa melayu maupun yang tak bisa. Untuk yang bisa berbahasa melayu, tak banyak kesulitan berarti tiap kali aku berkomunikasi dengan mereka. Karena asal orang tua yang dari Sumatera, membuat aku bisa mengikuti dialek mereka. Tapi untuk yang tak bisa berbahasa melayu, komunikasi dilakukan dengan bahasa Inggris.


Seperti umumnya kami orang Indonesia, orang Malaysia yang aku kenal pun sosok pekerja keras. Aku yakin mereka tahu konflik yang sedang berlangsung. Dan saat bertemu denganku, sepertinya kita tak pernah mau ikut campur dalam puasara konflik itu. Sebab bagi kami, yang penting adalah bagaimana kami bisa survive di negara yang saat ini sedang mengalami krisis.

Aku juga tak mau berhenti jadi langganan restoran Malaysia. Karena menu di restoran itu cocok dengan lidahku yang seneng pedas. Aku pun cukup akrab dengan pemilik restoran dan waiter di restoran itu. Meski para waiter ini sering berganti, tapi umumnya mereka adalah orang Indonesia atau orang Malaysia. Saat kita ngobrol soal keadaan tanah air masing-masing, jauh sekali dari ranah politik. Biasanya kita bicara soal kesamaan makanan, sampai soal letak kampung halaman. Dari beberapa kali pembicaraanku dengan teman malaysia disini, umumnya mereka juga mengatakan kalo mereka juga memiliki teman-teman dari Indonesia, bahkan beberapa di antaranya berteman akrab.

Jadi gak mau ikutan berpolitiklah. Bukannya gak cinta tanah air. Aku hanya berdoa dari jauh semoga konflik ini cepat berakhir, supaya hubunganku dengan teman-teman malaysiaku tidak ikutan tegang. Meski selama ini kami tak punya masalah.

No comments:

Post a Comment

Program

Program