17 February 2009

Tambang Rejeki Yang Mulai Ditinggal Pergi

Prasto Wardoyo, Malang

Kawi ternyata tak cuma Pesarean Kawi yang terletak di desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang. Di atasnya lagi, sekitar 5 kilometer dari Pesarean, terdapat Pesanggrahan atau Pamuksan Prabu Kamesywara I. Kompleks yang dikenal juga dengan nama Kraton inipun lekat dengan imej tentang pesugihan dan dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ritual ziarah ke Gunung Kawi.


Pamuksan Prabu Kamesywara I atau yang lebih dikenal dengan nama Pesanggrahan terletak di dusun Gendogo, desa Balesari Kecamatan Ngajum kabupaten Malang. Dari Pesarean menuju ke pertigaan dekat pangkalan ojek sepeda motor jaraknya sekitar 2 km. Dari sini pengunjung bisa memanfaatkan jasa ojek dengan ongkos antara 20 ribu – 30 ribu Jalanan terus menanjak. 3 km kemudian akan dijumpai pertigaan jalan yang ditandai bando yang bertuliskan Pamuksan Prabu Kamesywara I. Dari sini, Pesanggrahan berjarak kurang lebih1,5 km.

Jalannya berkelok. Kiri kanan merupakan hutan dengan tanah yang mudah longsor. Jadi harus hati-hati bila melintasi jalan yang sudah diaspal ini. Areal parker yang tersedia berada persis di dekat anak tangga yang menuju kompleks Pesanggrahan. Sementara di dekat areal parkir terdapat dua warung yang menyediakan berbagai macam kebutuhan para pengunjung.

Di atas warung, setelah menaiki sejumlah anak tangga, terdapat bangunan utama yang disebut pesanggrahan atau yang dipercaya sebagai tempat muksa Prabu Kamesywara I. Di sebelah kiri bangunan yang cukup luas itu terdapat bangunan kelenteng. Di kelenteng yang terlihat tidak terawat ini berdiri di luar dengan gagah patung dewa Kwan Ong.

Sedikit di bawah bangunan utama terdapat 3 makam berjejer yang tertulis nama-nama Eyang Subroto, Eyang Djoko dan Eyang Hamit. Menurut kepala juru kunci Pesanggrahan yang biasa dipanggil Mas Giok, mereka yang dimakamkan tersebut adalah para abdi dalem Prabu Kamesywara I. Jadi kalau nama-nama itu yang dituliskan di nisan mereka, tentunya nama tersebut adalah tempelan yang diberikan oleh penduduk lokal. Menurutnya, pemberian nama yang terasa anarkhronisme itu untuk mempertautkan keberadaan mereka yang lampau dengan masyarakat sekarang.

Di areal yang terletak di atas kelenteng terdapat bangunan yang disebut Pura. Pura tersebut dipercaya sebagai situs peninggalan dari zaman Prabu Kameyswara I. Di seberang pura terdapat dua makam yang pada nisannya tertulis nama Eyang Jayadi dan Mbah Menik. Nisan tersebut menyebutkan tahun 1271 sebagai tahun meninggalnya Eyang Jayadi.

Lurus dengan Pesanggrahan, setelah menaiki puluhan anak tangga, terdapat bangunan yang dinamai Sanggar Pemujaan. Bangunan seluas 5,5 x 2,5 meter persegi itu merupakan bangunan paling atas dari kompleks Pesanggrahan.

Pada malam hari, areal yang berada di atas ketinggian sekitar 1400 m dpl itu cukup dingin. Bahkan di puncak kemarau, disertai dengan hembusan angin yang tidak terlalu kencang, suhu pada malam hari bisa mencapai 15 derajat Celsius.

Siapa Prabu Kamesywara I? Konon, Prabu Kamesywara I adalah raja dari kerajaan Kediri yang memerintah dari tahun 1115 – 1130 Masehi. Sebelum lengser keprabon madheg pandhita yang artinya turun dari tahta dan menjalani kehidupan sebagai pandhita dengan menjauhi kesenangan duniawi, Prabu Kamesywara I memerintahkan abdinya untuk mencarikan tempat yang jauh dari pusat kekuasaan. Dan biasanya, tempat yang dipilih adalah daerah pegunungan.

Menurut penuturan Mas Giok, berangkatlah empat orang untuk mencarikan tempat yang dimaksud. Empat orang tersebut adalah Panembahan Agung Kudono Warso, Panglima Sindhurejo, Mbah Jayadi dan Mbah Menik.

Dari pengembaraan mereka, maka dengan sejumlah pertimbangan dipilihlah hutan lebat yang saat ini berada di wilayah dusun Gendogo, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum. Keempat orang tersebut kemudian membuka lahan dan merawat tempat yang akan dipakai oleh Prabu Pramesywara I untuk menyepi. Mereka kemudian di sebut danyang, yaitu yang merawat tempat atau bumi. Di tempat inilah, Prabu Pramesywara I diyakini muksa, atau lenyap bersama jasadnya.

Sebagai tempat muksa, maka Pesanggrahan kemudian diyakini sebagai keramat dan memiliki tuah. Dalam perkembangan jaman, Pesanggrahan ini kemudian banyak didatangi orang untuk laku aji kasekten atau sekedar untuk mendapatkan berkah.

Jauh sebelum jaman Negara moderen, menurut penuturan Mas Giok, tempat ini pernah didatangi oleh Eyang Jugo dan Eyang Iman Sujono untuk laku ritual. Napak tilas inilah yang rupanya mempertautkan antara Pesarean Kawi dengan Pesanggrahan. Bahkan bisa jadi, pertautan itu terjadi karena letaknya yang sama-sama berada di lereng Gunung Kawi.

Untuk menghormati Pesanggrahan, masih menurut Mas Giok, Eyang Iman Sujono, kemudian mendirikan Padepokan di desa Wonosari yang secara topografis letaknya berada di bawah Pesanggrahan.


REDUPNYA PAMOR PESANGGRAHAN

Sebelum tahun 1960 para peziarah banyak mengalir ke Pesanggrahan. Aliran peziarah ke sana, baik untuk laku maupun untuk ngalap berkah terhenti di tahun 1965 karena Pesanggrahan disinyalir sebagai tempat persembunyian PKI. Orangpun enggan ke sana karena takut diciduk tentara.

Baru pada tahun 1974, kawasan Pesanggrahan yang sudah tidak terawat mulai dibangun kembali. Sejumlah bangunan yang rusak dibenahi. Namun, pamor Pesaanggrahan sudah disalip oleh Pesarean Kawi.

Menurut catatan Mas Giok, Pesanggrahan yang biasanya ramai pada Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon itu, setiap bulan rata-rata didatangi tidak lebih dari 200 peziarah saja.

Kondisi Pesanggrahan dengan Pesarean Kawi memang berbeda. Di Pesanggrahan suasananya sepi, berbeda dengan Pesarean Kawi yang selalu riuh. Disini tak dijumpai deretan penjual kembang untuk tabur bunga, penjual souvenir ataupun deretan penjual makanan. Letaknya memang di tengah hutan.

Tempatnya yang senyap itu, justru memberikan kesan, dibandingkan Pesarean Kawi aroma mencari pesugihan di Pesanggrahan justru lebih menyengat. Konsep pesugihan biasanya lekat dengan adanya benda-benda atau makhluk yang bisa mendatangkan kekayaan pada pemiliknya. Seperti tuyul, babi ngepet, keblek atau makhluk-makhluk gaib lainnya.

Hal ini, tentu saja dibantah oleh Mas Giok. Pesanggrahan meski tidak streril dari niatan orang untuk ngalap berkah, baik dalam pengertian materiil maupun imateriil, bukanlah tempat seperti yang disangkakan orang hanya sebagai tempat mencari pesugihan dalam arti yang sempit. Semabri berkelakar dia menambahkan, kalau memang Pesanggarahan adalah tempat yang ruah dengan kekayaan, toh dirinya hingga kini belum jua kaya.

ORNAMEN CHINA

Sebagaimana Pesarean Kawi, Pesanggrahan juga tidak lepas dari sentuhan kebudayaan Cina. Di Pesarean Kawi, meski berada dalam satu kawasan, namun keberadaan bangunannya terpisah. Namun di Pesaaggrahan, bangunan China terlihat terintegrasi dengan bangunan lainnya. Seperti terlihat di sanggar pemujaan misalnya, di bagian depan pintu terdapat bangunan China.

Tidak diketahui, mulai kapan bangunan China itu ditempelkan pada bangunan lokal yang ada di kompleks Pesanggrahan. Namun mas Giok menduga, bahwa bangunan-bangunan tersebut, meski terlihat tidak matching, adalah merupakan ungkapan terima kasih etnis Tionghoa kepada tempat yang memberikan curahan berkat yang berlimpah. Dan seringkali, begitu merasa keinginannya terkabul setelah memohonkannya di sini, peziarah ini kemudian mengajak kerabatnya yang lain untuk melakukan ziarah.

Apa yang mengundang etnis Tiongha mendatangi Pesanggarahan tidak dijelaskan oleh Kepala juru kunci. Apakah karena sama-sama berada di wilayah Kawi, sehingga Pesarean tidak ada salahnya dikunjungi meski berbau spekulatif memberikan daya dorong tambahan bagi terkabulnya keinginan? Ataukah dirasa kurang lengkap dan tidak afdol bila mengunjungi Pesarean Kawi namun tidak ke Pesanggrahan? Tidak diketahui pasti.

Namun yang jelas, peziarah Pesarean Kawi dari berbagai etnis, jumlahnya relative sedikit yang berkunjung ke Pesanggrahan. Bisa dikatakan, mereka yang berkunjung ke Pesanggrahan adalah peziarah yang prioritas utamanya adalah ke Pesarean Kawi.

Akses tranportasi rupanya menjadi kendala tersendiri bagi peziarah bila hendak mengunjungi Pesanggrahan. Sulitnya transportasi ini merupakan faktor tambahan lainnya yang menyebabkan angka kunjungan ke Pesanggrahan tidak kunjung terdongkrak. Tidak seperti Pesarean Kawi yang bisa dikunjungi dengan memanfaatkan angkutan umum, bila ke Pesanggrahan, peziarah harus menggunakan ojek sepeda motor dengan ongkos yang telatif mahal antara 20 ribu – 30 ribu.

Jalanan aspal yang menembus hutan menuju Pesanggarahan menurut mas Giok, baru dibangun setelah dia mengajukannya langsung ke Dinas Kehutanan Jawa Timur yang berkantor di Gentengkali Surabaya. Hal itu terpaksa dilakukannya setelah proposal yang diajukan ke instansi yang lebih bawah, tidak mendapatkan tanggapan yang memadai.

Meski kondisinya di beberapa titik mengalami kerusakan, tapi secara umum jalan aspal tersebut bisa dikatakan cukup baik. Sebelumnya, akses jalan masih berupa jalan makadam Pemerintah setempatpun masih memprioritaskan jalan menuju ke Pesarean. Meski jalanan aspal saat ini relatif mulus, namun arus kunjungan peziarah ke Pesanggrahan tetap belum menunjukkan trend meningkat. Peningkatan yang mengarah kepada perimbangan jumlah peziarah sebagaimana yang mengalir ke Pesarean Kawi, masih belum terlihat tanda-tandanya.

No comments:

Post a Comment