25 October 2007

Bila Kelud Meletus, Garindra Akan Melindungi Candi Penataran

Teriknya sinar Mentari yang bersinar Kamis(25/10) siang, membuat Zulaika,52, berteduh sejenak di bawah pohon Mojo di pelataran kompleks Candi Penataran, Kabupaten Blitar. Sesekali pandangannya terlempar ke sekumpulan anak-anak yang asyik bermain di tangga candi. "Meski takut kalau tiba-tiba meletus, tapi keinginan cucu saya untuk melihat Candi Penataran, membuat saya memberanikan diri untuk mengatar mereka ke sini," kata Zulaika.


Kompleks Candi Penataran yang terletak di Kecamatan Penataran, Kabupaten Blitar, Jawa Timur adalah salah satu wilayah yang terimbas bila Gunung Kelud benar-benar meletus. Selain Candi Penataran, ada dua kompleks candi lagi yang ikut terimbas. Yakni Candi Sewu dan Candi Ngambar.

Meski bukan termasuk Kawasan Rawan Bencana I, namun kompleks Candi Penataran hampir pasti akan tertutup debu gunung Kelud. Pada tahun 1990 saja, komplek candi terbesar di Jawa Timur dan terjarak 30 KM dari puncak Gunung Kelud itu dijadikan salah satu tempat pengungsian. Di areal seluas sekitar 2 KM tertutup material Gunung Kelud setinggi 15 cm. Mengubur kaki-kaki artefak yang ada di tempat itu.

Kondisi itulah yang membuat kompleks Candi Penataran menjadi khawasan yang "ditakuti" untuk dikunjungi bila Gunung Kelud sedang meningkat aktivitasnya. Seperti sekarang ini. Bisa ditebak, jumlah pengunjung pun menurun drastis. Sukriono, petugas satpam yang bertugas di Candi Penataran mengatakan, bila biasanya pengunjung candi mencapai 100-200 orang/hari, saat Gunung Kelud sedang meningkat aktivitasnya, jumlah itu turun menjadi 70-an orang saja.

"Pengunjung turun drastis, bila hari libur seperti Hari Raya Idul Fitri, jumlahnya bisa 2000-an orang, Lebaran kali ini hanya berjumlah 1000-an orang saja," kata Sukriono. Kunjungan itu pun biasanya dilakukan dengan lebih cepat. Padahal bisanya pengunjung yang datang di candi Penataran selalu meluangkan waktu untuk berlama-lama. "Mungkin mereka takut sesuatu yang buruk akan terjadi," katanya.

Candi Penataran terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Tepatnya di daerah Blitar Utara. Kompleks candi yang teletak di ketinggian 450 di atas permukaan laut ini memiliki sifat keagamaan Ciwaistis. Seorang Letnan Gubernur Jendral Kolonial Inggris Sir Thomas Stanford Raflesslah orang yang pertama kali menemukan candi ini pada tahun 1815. Diperkirakan, candi ini sudah ada sejak tahun 1119 Saka atau 1194 Masehi. Ketika Raja Crnga Kadiri masih berkuasa di wilayah itu.

Secara history, hubungan Candi Penataran dengan Gunung Kelud tergolong erat. Menurut Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca, candi ini adalah salah satu tempat yang digunakan Raja Hayam Wuruk untuk untuk memuja Dewa Gunung Girindra. Dan Gunung Kelud adalah salah satu tempat kekuasaan Girindra. "Oleh karena itu, masyarakat setempat percaya, letusan Gunung Kelud, bagaimana pun dahsyatnya, tidak akan merusak bangunan candi," kata Satpam Sukriono.

Penduduk asli Blitar ini menceritakan, pernah ketika Gunung Kelud memuntahkan lahar dan mengalir sampai ke Blitar, justru "menghindari" jalur ke Candi Penataran. Lahar itu mengalir di sebuah sungai kecil yang berada 30 meter di depan kompleks candi. "Hal itu membuat masyarakat sekitar semakin percaya, ada "kekuatan" yang melindungi Candi Penataran dari daya rusak Gunung Kelud," katanya.

Namun agaknya tidak semua orang percaya dengan hal itu. Zulaika misalnya. Perempuan asal Kecamatan Kanigoro Blitar ini mengaku, kalau saja cucu dan saudaranya dari Lampung tidak bersikeras ingin melihat Candi Penataran, dirinya lebih baik memilih untuk menghindari khawasan ini. "Cucu dan saudara saya dari Lampung ingin melihat Candi Penataran, ya bagaimana lagi," katanya.

Sementara itu, hingga Kamis (25/10) malam, status Awas Gunung Kelud belum berubah. Meski pun tidak ada meningkatan aktivitas yang berarti, namun Tim Vulkanologi tetap merekomendasi masyarakat untuk bertahan di tempat pengungsian. Tim Vulkanologi juga meminta masyarakat tidak beraktivita apapun di radius 10 KM dari puncak Gunung Kelud.

No comments:

Post a Comment

Program

Program