Jakarta (iddaiy.net) – Bersantai di rumah CIledug, memilih film Indonesia dari Netflix. Jatuh hati pada ‘Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?’
Film garapan sutradara Kuntz Agus ini dirilis pada April 2026.
Bintangnya antara lain Mawar Eva de Jongh (masih ingat peran kerennya di ’Bumi Manusia’? Sebagai Annelies Mellema pacar Minke), Dwi Sasono (spesialis peran ayah dalam banyak aspek kehidupan, seperti di ’Perayaan Mati Rasa’, ’Keluarga Super Irit’, ’Dua Garis Biru’ dan tentu saja ’Tetangga Masa Gitu?’) serta Unique Priscilla, spesialis pemeran ibu-ibu, seperti di ’Heart Series’, ’Kukira Kau Rumah’ dan ’Sampai Titik Terakhirmu’).
Film ‘Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?’ dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh Khoirul Trian dengan judul yang sama.
Film ini bukan sekadar cerita tentang sebuah keluarga. Ia seperti sebuah cermin.
Pelan-pelan kita dipaksa melihat ke dalam rumah sendiri: apakah selama ini kita benar-benar hadir untuk anak-anak kita?
Film ini berkisah tentang Dira (Mawar de Jongh), anak sulung dalam keluarga yang dari luar terlihat baik-baik saja.
Bersama adiknya, Darin (Rey Bong), ia tumbuh dalam keluarga dengan ayah bernama Yudi (Dwi Sasono) dan ibu bernama Lia Unique Priscilla). Kehidupan mereka berpusat di sekitar ’Soto Bu Lia’, sementara berbagai persoalan keluarga perlahan membuka luka yang selama ini disimpan.
Yang menarik, film ini tidak menggambarkan sosok ayah yang sama sekali tidak ada.
Yudi ada.
Ia tinggal serumah.
Ia bisa ditemui.
Tetapi persoalannya justru lebih dalam: Ia ada secara fisik, tetapi tidak selalu hadir secara emosional.
Dan ternyata, bagi seorang anak, dua hal itu sangat berbeda.
Ayah tidak harus sempurna
Salah satu kekuatan film ini adalah keberaniannya mengingatkan kita bahwa menjadi ayah bukan berarti harus selalu punya jawaban.
Ayah boleh salah. Ayah boleh lelah. Ayah boleh tidak tahu harus bagaimana.
Tetapi seorang anak membutuhkan satu hal yang sederhana Ayah tetap ada.: Ayah tetap ada.
Bukan hanya ketika anak mendapatkan juara. Bukan hanya ketika anak melakukan sesuatu yang membanggakan. Bukan hanya ketika anak sedang baik-baik saja.
Tetapi juga ketika anak sedang bingung, marah, gagal, takut, bahkan ketika anak tidak tahu bagaimana harus bercerita.
Sebab terkadang anak tidak membutuhkan nasihat.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
“Ceritakan saja. Ayah dengarkan.”
Dan mungkin, kalimat sesederhana itu bisa menyelamatkan banyak hal.
Karakter Dira juga terasa dekat bagi banyak keluarga.
Sebagai anak sulung, ia seperti dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia harus memikirkan keluarga, masa depan, bahkan pilihan hidupnya sendiri.
Di satu sisi, ia ingin mengejar impiannya.
Di sisi lain, ia merasa punya kewajiban untuk membantu keluarganya.
Inilah salah satu lapisan menarik dari film ini: anak pertama sering kali terlihat paling kuat, padahal mungkin justru paling sering menyimpan lelah.
Anak pertama sering diberi kalimat:
“Kamu kan kakaknya.”
“Kamu harus mengerti.”
“Kamu harus bisa jadi contoh.”
Padahal sebelum menjadi kakak yang harus mengerti semua orang, ia tetaplah seorang anak yang juga ingin dimengerti.
Film ini mengajak kita melihat bahwa anak tidak seharusnya dipaksa menjadi orang dewasa hanya karena keadaan keluarga.
Mereka juga berhak punya mimpi.
Berhak punya rasa takut.
Berhak menangis.
Dan berhak mengatakan:
“Aku juga capek.”
Fatherless bukan hanya soal ayah yang tidak ada
Ini mungkin pesan paling penting dari film ini.
Istilah fatherless sering dipahami sebagai keadaan ketika seorang anak kehilangan atau tidak memiliki ayah.
Tetapi film ini memperlihatkan dimensi yang lebih dalam: seorang ayah bisa berada di rumah, tetapi anak tetap merasa sendirian.
Secara fisik dekat.
Secara emosional jauh.
Dan jarak semacam itu sering kali tidak terlihat.
Tidak ada luka di kulit.
Tidak ada suara pecah.
Tidak ada darah.
Tetapi luka itu bisa tumbuh diam-diam di dalam hati seorang anak.
Karena itu, menjadi ayah sebenarnya bukan hanya persoalan mencari nafkah.
Bukan hanya membayar uang sekolah.
Bukan hanya memastikan anak makan.
Menjadi ayah juga berarti menyediakan ruang emosional bagi anak untuk pulang.
Rumah bukan hanya tempat anak tidur.
Ayah seharusnya juga menjadi salah satu tempat anak merasa aman.
Kadang kita terlalu sibuk menjadi “ayah” sampai lupa menjadi “teman”
Ada pelajaran sederhana yang saya dapat dari film ini.
Anak-anak kita tidak selamanya membutuhkan kita sebagai orang yang memberikan instruksi.
Pada suatu titik, mereka membutuhkan kita sebagai teman bicara.
Teman bertanya.
Teman bercerita.
Teman tertawa.
Bahkan teman untuk diam.
Karena anak yang merasa didengarkan akan belajar bahwa perasaannya penting.
Anak yang merasa diterima akan belajar menerima dirinya sendiri.
Dan anak yang tahu bahwa ayahnya selalu bisa menjadi tempat pulang, akan memiliki keberanian lebih besar untuk berjalan jauh.
Ironisnya, untuk membuat anak berani pergi jauh, terkadang yang perlu kita lakukan justru sederhana:
pastikan mereka tahu bahwa selalu ada rumah untuk pulang.
Film ini memang tidak sempurna
Sebagai sebuah film, tentu ada bagian yang bisa diperdebatkan.
Beberapa ulasan menilai konflik di bagian akhir terasa terlalu bertumpuk dan beberapa kejadian dibuat terlalu emosional untuk mendorong cerita menuju klimaks.
Tetapi menurut saya, kekuatan film ini bukan semata-mata pada plot atau kejutan ceritanya.
Kekuatan terbesarnya ada pada pertanyaan yang ditinggalkannya.
Sudahkah kita benar-benar hadir untuk orang-orang yang kita cintai?
Karena dalam keluarga, masalah terbesar terkadang bukan tidak adanya cinta.
Melainkan cinta yang tidak pernah berhasil dikomunikasikan.
Ayah sayang kepada anak.
Anak sayang kepada ayah.
Tetapi keduanya sama-sama diam.
Dan ternyata, kita yang salah membaca Ayah
Sepanjang film, kita ikut menghakimi Yudi.
Kita melihatnya sebagai ayah yang keras. Ayah yang sulit dipahami. Ayah yang seperti tidak mengerti apa yang diinginkan anak-anaknya.
Kita bahkan mungkin ikut bertanya:
“Ayah ini sebenarnya mau membawa keluarganya ke mana?”
Tetapi menjelang akhir, film ini seperti menarik kembali semua penilaian kita.
Ternyata kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di kepala seorang ayah.
Kita melihat diamnya, tetapi tidak melihat kegelisahannya.
Kita melihat keputusannya, tetapi tidak melihat alasan di baliknya.
Kita melihat caranya mencintai yang mungkin terasa aneh, tetapi tidak melihat pengorbanan yang menyertainya.
Dan di situlah film ini memberikan pukulan terakhir:
Bukan hanya anak-anak Yudi yang salah memahami ayahnya. Kita, sebagai penonton, juga ikut-ikutan salah.
Kita terlalu cepat menyimpulkan.
Padahal dalam kehidupan nyata, bukankah kita juga sering begitu?
Kita menilai ayah dari berapa banyak waktu yang ia habiskan bersama anak.
Padahal mungkin sebagian besar waktunya habis untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa hidup dengan baik.
Kita menganggap ayah tidak peduli karena jarang mengatakan “Ayah sayang kamu.”
Padahal mungkin seluruh hidupnya adalah cara yang tidak sempurna untuk mengatakan kalimat itu.
Ayah memang tidak selalu pandai menjelaskan cintanya.
Kadang ia terlalu sibuk bekerja.
Kadang terlalu keras.
Kadang salah bicara.
Kadang salah mengambil keputusan.
Kadang bahkan membuat anak-anaknya kecewa.
Tetapi film ini mengingatkan: sebelum menghakimi seorang ayah, mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu:
“Apa yang sebenarnya sedang ia perjuangkan?”
Sebab bisa jadi, orang yang selama ini kita kira sedang membawa keluarga ke arah yang salah…
justru sedang mencari jalan pulang untuk semuanya.
Dan mungkin itulah ironi paling manis dari film ini.
Di awal kita bertanya:
“Ayah, ini arahnya ke mana, ya?”
Di akhir, kita baru mengerti:
Ayah tahu arahnya.
Kitalah yang sejak awal salah membaca peta.
