Jakarta (iddaily.net) – Kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi bagian penting dalam sejarah Islam.
Rasulullah lahir di tengah masyarakat Arab pada masa yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah, beberapa dekade sebelum dimulainya masa kenabian.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya menjadi awal perjalanan hidup seorang manusia yang kelak menjadi Rasul Allah, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan besar yang mengubah sejarah peradaban.
Kapan Nabi Muhammad SAW Lahir?
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada Tahun Gajah, sekitar tahun 570 atau 571 Masehi menurut sejumlah riwayat sejarah.
Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad SAW disebut lahir pada hari Senin.
Tanggal 12 Rabiul Awal merupakan tanggal kelahiran yang paling populer dalam tradisi peringatan Maulid Nabi, meski para ulama dan sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya.
Disebut Tahun Gajah karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah menuju Makkah dengan tujuan menghancurkan Ka’bah.
Peristiwa tersebut dikenal dalam sejarah Islam dan dikaitkan dengan Surah Al-Fil.
Nabi Muhammad SAW Lahir sebagai Anak Yatim
Nabi Muhammad SAW merupakan putra pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab.
Ayah Nabi Muhammad SAW, Abdullah, meninggal dunia sebelum beliau lahir. Karena itu, Muhammad kecil sudah berada dalam keadaan yatim sejak kelahirannya.
Kondisi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Rasulullah.
Al-Qur’an kemudian mengingatkan keadaan tersebut dalam Surah Ad-Duha ayat 6, yang menyebut bahwa Allah mendapatinya sebagai seorang yatim lalu memberikan perlindungan.
Diasuh Halimah Sa’diyah
Dalam tradisi masyarakat Arab saat itu, bayi dari keluarga Makkah biasanya disusukan kepada perempuan dari wilayah pedalaman agar tumbuh dalam lingkungan yang dianggap lebih sehat dan sekaligus mengenal bahasa Arab yang baik.
Muhammad kecil kemudian diasuh dan disusui oleh Halimah Sa’diyah dari Bani Sa’ad.
Masa tinggal bersama Halimah menjadi salah satu bagian terkenal dalam kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW.
Setelah beberapa waktu, Muhammad kecil kembali kepada ibunya, Aminah.
Kehilangan Sang Ibu
Ketika berusia sekitar enam tahun, Muhammad pergi bersama ibunya ke Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah, untuk mengunjungi keluarga dari pihak ayah.
Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Aminah meninggal dunia di daerah Abwa.
Muhammad kecil kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.
Kehilangan kedua orang tua sejak usia sangat muda membuat masa kecil Nabi Muhammad SAW dipenuhi pengalaman kehilangan.
Namun, perjalanan hidup tersebut juga menjadi bagian dari pembentukan karakter beliau yang dikenal penuh kasih sayang dan kepedulian kepada orang lain.
Diasuh Abdul Muthalib
Setelah ibunya meninggal, Abdul Muthalib mengambil tanggung jawab untuk merawat cucunya.
Abdul Muthalib sangat menyayangi Muhammad. Namun, tidak lama kemudian Muhammad kembali mengalami kehilangan. Kakeknya meninggal ketika Muhammad berusia sekitar delapan tahun.
Setelah itu, pengasuhan Muhammad dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib.
Tumbuh dalam Asuhan Abu Thalib
Abu Thalib merawat Muhammad dengan penuh kasih sayang meskipun kondisi ekonominya tidak berlebihan.
Sejak usia muda, Muhammad dikenal sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Masyarakat Makkah kemudian memberikan julukan Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.
Sifat tersebut menjadi salah satu karakter yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW bahkan sebelum menerima wahyu.
Menggembala dan Berdagang
Seperti sebagian pemuda Arab pada masa itu, Muhammad menjalani berbagai pekerjaan sebelum menjadi Rasul.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau pernah menggembala kambing.
Pekerjaan tersebut mengajarkan kesabaran dan tanggung jawab.
Ketika beranjak dewasa, Muhammad juga terlibat dalam aktivitas perdagangan.
Kejujuran dan integritasnya dalam berdagang membuat namanya semakin dikenal oleh masyarakat Makkah.
Perjalanan Dagang dan Pertemuan dengan Khadijah
Kejujuran Muhammad dalam berdagang kemudian membuat Khadijah binti Khuwailid, seorang saudagar terpandang di Makkah, mempercayakan urusan perdagangan kepadanya.
Muhammad menjalankan tugas tersebut dengan baik.
Khadijah kemudian menjadi sosok penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Keduanya menikah ketika Muhammad berusia sekitar 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia sekitar 40 tahun menurut riwayat yang paling populer.
Pernikahan tersebut menjadi salah satu fase penting sebelum Muhammad menerima tugas sebagai Rasul.
Peristiwa Penting Sebelum Kenabian
Salah satu peristiwa penting sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu adalah ketika terjadi perselisihan di antara kelompok Quraisy mengenai siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah renovasi Ka’bah.
Muhammad kemudian memberikan solusi dengan meminta Hajar Aswad diletakkan di atas kain.
Para pemimpin kabilah diminta mengangkat kain tersebut bersama-sama, sementara Muhammad kemudian meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana masyarakat Makkah telah mengenal Muhammad sebagai sosok yang dapat dipercaya dan mampu menyelesaikan perselisihan.
Nabi Muhammad SAW Menerima Wahyu Pertama
Perjalanan awal kehidupan Nabi Muhammad SAW akhirnya mencapai titik penting ketika beliau berusia sekitar 40 tahun.
Muhammad sering melakukan perenungan dan beribadah di Gua Hira. Di tempat itulah beliau menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril.
Wahyu pertama tersebut adalah Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang diawali dengan perintah membaca.
Peristiwa tersebut menandai dimulainya kenabian Muhammad SAW sekaligus perjalanan dakwah Islam.
Dari Masa Kecil hingga Menjadi Rasul
Kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga sebelum menerima wahyu dipenuhi berbagai peristiwa penting.
Selain kehilangan ayah sebelum lahir, kehilangan ibu dan kakek ketika masih kecil, kemudian tumbuh dalam asuhan Abu Thalib.
Pengalaman hidup tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang manusia yang kelak dipercaya membawa risalah Islam.
Kisah masa kecil Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan umat Islam bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan atau keadaan hidupnya.
Keteladanan, kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan justru menjadi nilai yang membuat sosok Rasulullah tetap dikenang hingga sekarang.
Karena itu, mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui Maulid Nabi bukan hanya tentang mengetahui kapan beliau dilahirkan, tetapi juga memahami perjalanan hidup dan keteladanan sejak masa kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasul.
