Jakarta (iddaily.net) – Jauh sebelum WhatsApp, email, dan pesan instan membuat kabar bisa dikirim dalam hitungan detik, manusia mengandalkan surat untuk menyampaikan pesan kepada orang yang berada jauh dari mereka.
Sepucuk surat harus melewati perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan penerima.
Dari ditulis, dikemas, diberi perangko, dikumpulkan, disortir, diangkut hingga akhirnya diantar ke alamat tujuan.
Perjalanan panjang komunikasi melalui surat itulah yang kemudian berkembang menjadi jaringan layanan pos modern.
Setiap 9 Oktober, dunia memperingati Hari Pos Sedunia atau World Post Day.
Peringatan ini berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Universal Postal Union (UPU) atau Persatuan Pos Sedunia.
Kenapa Hari Pos Sedunia Diperingati 9 Oktober?
Tanggal 9 Oktober dipilih karena pada tanggal tersebut pada 1874, perwakilan 22 negara menandatangani Treaty of Bern di Bern, Swiss.
Perjanjian itu mendirikan General Postal Union, organisasi yang kemudian pada 1878 berganti nama menjadi Universal Postal Union (UPU).
Dilansir dari UPU, pembentukan organisasi tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah layanan pos internasional.
Sebelumnya, sistem pos antarnegara memiliki aturan yang berbeda-beda sehingga pengiriman surat lintas batas menjadi lebih rumit.
Treaty of Bern kemudian membantu menyatukan berbagai aturan dan layanan pos internasional ke dalam satu wilayah pos untuk pertukaran surat.
Hari Pos Sedunia sendiri secara resmi ditetapkan dalam Kongres Pos Sedunia 1969 di Tokyo, Jepang untuk memperingati berdirinya UPU.
Sejarah Surat Sebelum Ada WhatsApp
Jauh sebelum komunikasi digital berkembang, surat menjadi salah satu cara manusia menyampaikan informasi kepada orang yang berada di tempat lain.
Pesan pada masa lalu dapat dibawa oleh utusan dengan berjalan kaki, menggunakan kuda, kapal, maupun sarana transportasi lainnya.
Kebutuhan terhadap sistem pengiriman pesan yang lebih teratur kemudian semakin besar, terutama untuk kepentingan pemerintahan, perdagangan dan hubungan antardaerah.
Perkembangan jaringan pos membuat pengiriman pesan tidak lagi hanya bergantung pada utusan pribadi, tetapi menjadi bagian dari sistem pelayanan yang memiliki jaringan dan aturan tertentu.
Memasuki era modern, jaringan tersebut berkembang semakin luas hingga mampu menghubungkan masyarakat lintas kota bahkan lintas negara.
Bagaimana Perangko Pertama Dibuat?
Salah satu perubahan besar dalam sejarah layanan pos terjadi di Inggris pada abad ke-19.
Pada 1840, Inggris memperkenalkan Penny Black, perangko yang dikenal sebagai perangko perekat pertama yang digunakan dalam sistem pos modern.
Penny Black bernilai satu penny dan menampilkan profil Ratu Victoria.
Menurut The Postal Museum, proses pembuatannya melibatkan pelat cetak yang menghasilkan 240 cetakan dalam satu lembar.
Pelat untuk Penny Black selesai pada 1 April 1840, pencetakan dimulai 11 April, dan perangko tersebut mulai berlaku untuk pengiriman pada 6 Mei 1840.
Kenapa Perangko Ditempel di Kanan Atas Amplop?
Pernah memperhatikan posisi perangko pada amplop?
Perangko biasanya ditempatkan di sudut kanan atas sisi alamat amplop. Posisi tersebut menjadi standar dalam praktik layanan pos.
Sebagai contoh, panduan resmi United States Postal Service (USPS) menunjukkan perangko berada di bagian kanan atas amplop.
USPS juga secara spesifik menyebut bahwa perangko harus ditempatkan di sudut kanan atas.
Namun, tidak tepat jika dikatakan bahwa sejak awal ada satu aturan global yang secara khusus menentukan alasan perangko harus berada di kanan atas.
Penempatan tersebut berkembang menjadi standar operasional dalam sistem surat.
Sejarah Kantor Pos di Indonesia
Sejarah layanan pos di Indonesia juga memiliki perjalanan panjang.
Menurut dokumen resmi PT Pos Indonesia (Persero), kantor pos pertama didirikan di Batavia, yang kini menjadi Jakarta, pada 26 Agustus 1746 oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Imhoff.
Pendirian kantor pos tersebut bertujuan untuk menjamin keamanan surat penduduk, khususnya mereka yang memiliki kegiatan perdagangan dari kantor-kantor di luar Jawa serta masyarakat yang datang dari atau bepergian ke Belanda.
Empat tahun setelah kantor pos Batavia berdiri, kantor pos di Semarang didirikan untuk menciptakan hubungan pos yang lebih teratur antara kedua kota sekaligus mempercepat pengiriman.
Menurut dokumen Pos Indonesia, rute perjalanan pos kala itu melalui Karawang, Cirebon dan Pekalongan.
Bagaimana Perjalanan Surat dari Pengirim Sampai Penerima?
Lalu, sebenarnya apa yang terjadi setelah seseorang memasukkan surat ke layanan pos?
Secara sederhana, perjalanan surat dapat digambarkan melalui beberapa tahap.
1. Surat ditulis dan dikemas
Pengirim menulis pesan, memasukkannya ke dalam amplop, mencantumkan alamat penerima serta alamat pengirim dan memastikan biaya pengiriman telah terpenuhi.
2. Surat dikumpulkan
Surat yang masuk melalui jaringan layanan pos kemudian dikumpulkan untuk diproses.
3. Surat disortir
Surat dipisahkan berdasarkan wilayah tujuan. Penyortiran diperlukan agar surat dapat masuk ke jalur distribusi yang sesuai.
4. Surat dikirim
Setelah disortir, surat dikirim menuju wilayah atau fasilitas pos yang menjadi tujuan berikutnya.
Untuk pengiriman jarak jauh, surat dapat melewati beberapa fasilitas dan menggunakan berbagai moda transportasi.
5. Penyortiran kembali
Setelah tiba di wilayah tujuan, surat kembali diproses dan disortir berdasarkan alamat penerima.
6. Surat diantar
Tahap terakhir adalah pengantaran menuju alamat yang tercantum pada surat.
Jika seluruh proses berjalan lancar, surat akhirnya sampai ke tangan orang yang dituju.
Dari Surat Kertas hingga Pesan instan
Teknologi digital kemudian mengubah cara manusia berkomunikasi.
Jika dahulu seseorang harus menunggu berhari-hari untuk mengetahui kabar dari keluarga yang berada jauh, kini pesan dapat dikirim dalam hitungan detik melalui aplikasi pesan instan.
Namun, kemunculan internet dan WhatsApp tidak serta-merta membuat layanan pos menghilang.
Layanan pos ikut beradaptasi dan selain surat, jaringan pos kini juga berkaitan dengan pengiriman paket, logistik, dokumen, layanan keuangan dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya.
UPU sendiri menekankan bahwa jaringan pos tetap memiliki peran dalam kehidupan masyarakat dan perekonomian, sementara teknologi digital turut mengubah bentuk dan kebutuhan layanan pos.
Hari Pos Sedunia dan Arti Sebuah Surat
Di tengah komunikasi yang serba cepat, surat mungkin terasa seperti bagian dari masa lalu.
Namun, sejarah surat memperlihatkan bagaimana manusia terus mencari cara untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.
Dari utusan yang membawa pesan, lahirnya perangko, berkembangnya kantor pos hingga terbentuknya kerja sama internasional melalui UPU, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang komunikasi manusia.
Setiap 9 Oktober, Hari Pos Sedunia menjadi pengingat bahwa sebelum pesan dapat terkirim hanya dengan satu sentuhan layar, dunia telah melewati perjalanan panjang untuk membangun jaringan komunikasi yang menghubungkan manusia lintas kota dan negara.
