Pasuruan (iddaily.net) – Tetirah Gayatri. Awalnya, tempat ini hanya lahan bekas kebun seluas 2 hektare yang tak lagi subur.
Ketika enam tahun lalu kami mulai mengolahnya, pada Mei 2026, kawasan berkonsep multi crop organik permakultur ini menjadi jujugan pelajar sekitar, untuk belajar tentang semesta alam.
Hal itu sangat menggembirakan.
Tetirah Gayatri, atau tempat menenangkan pikiran, kami bangun di awal Covid19 menerjang, pada 2020 lalu.
Bersama warga, donatur dan tentu, pembiayaan mandiri, kami hanya ingin tempat ini menjadi pusat pendidikan konservasi tanaman endemik dan budaya kawasan Gunung Bromo.
Kayu rumah lawas dari desa di Wonogiri Jawa Tengah, Sumenep Madura dan Jember Jawa Timur yang kami kumpulkan, menjelma menjadi sembilan bangunan berarsitektur jawa dan lansekap berfilosofi hasta brata.
Siapa pun, terutama warga binaan, boleh beraktivitas, dan mengambil manfaat dari Tetirah Gayatri.
Dan Semesta menitipkan tugas lain, mengembangkan budaya dan pendidikan kesadaran lingkungan bagi anak-anak.
Sejak Mei 2026, Tetirah Gayatri memiliki jadwal rutin kunjungan murid-murid sekolah, untuk belajar tentang alam.
Ada kelas berkebun, kelas gamelan, memasak hasil kebun, permainan tradisonal, hingga membatik.
Para guru pun, tertarik mengikutinya.
Di lereng pegunungan ke arah Tosari, di sela-sela jalur asli suku Tengger di desa Ngadiwono, kami diguyur rasa haru.
Dari ketinggian 1250 mdpl, tak henti-henti kami mengucap rasa syukur.