Lombok (iddaily.net) – Mengapa Negeri ini tidak ditenggelamkan seperti Negeri Nabi Nuh atau tanahnya dibalik seperti Negeri Nabi Luth?
Walaupun para pengurus hajat rakyat/penerima amanat banyak maksiat dan khianat, serta nir empati dan tuna teladan,tapi Indonesia masih ada.
Keyakinan saya, selain doa tak putus putus yang dipanjatkan ke langit oleh para kyai/rohaniawan/pendidik kampung tak dikenal yang setiap hari tulus mengurus umat, juga karena Indonesia masih mempunyai banyak orang baik dan para pekerja keras pejuang keluarga.
Mereka bertarung dengan kerasnya kehidupan dengan cara jantan.
Saya bersyukur, dalam motoran Flores – Sumbawa – Lombok ini, dipertemukan dengan beberapa “every day ordinary heroes” tersebut.
Mencicipi kebaikan dan mendengar kisah hidup mereka yang dahsyat.
Calon Pengantin
Usia 20-an. Asal Bali.
Penampilannya seperti perpaduan anak Punk dan EMO dengan gaya rambut ala Yungblud.
Dini hari itu, mas Pandu membantu jaga warung angkringan milik calon ibu mertuanya di sebuah perempatan dekat masjid jamik Lombok Timur.
Di sepertiga malam itu, dia mengomandani operasi angkringan bersama calon istri dan calon kakak ipar perempuannya.
Obrolan antara mas Pandu dan kami mengalir.
Ketika tahu bensin kami menipis, padahal pelabuhan Lembar di Lombok Barat tujuan kami masih jauh, mas Pandu spontan menawarkan bantuan memandu jalan ke arah Lembar sampai ketemu pom bensin yang buka.
Sebetulnya, sejak mula kami menolak tawaran mas Pandu, karena tidak ingin merepotkan.
Namun dia bersikeras memandu.
Ah, tampaknya doa orang tua yang tersemat dalam namanya mengejawantah dalam perilakunya.
Cara dia pamit dan cium tangan calon ibu mertua saat hendak berangkat mengantarkan kami adalah pemandangan indah yang menghangatkan jiwa.
Dalam perjalanan, berkali-kali kami minta dia kembali setelah 30 menit berkendara, pom bensin yang buka tak kunjung dijumpai.
Dia tetap memaksa membersamai kami.
Sekitar menit ke-40, sudah masuk wilayah Lombok Tengah, baru ketemu pom bensin yang buka.
Itupun petugasnya harus dibangunkan dulu oleh mas Pandu.
Mas Pandu juga keras tegas menolak pemberian “tanda terima kasih” saat urusan isi bensin beres dan kami hendak meneruskan perjalanan ke Lembar.
Kami menghormati sikapnya, namun dengan teguh hati juga, kami minta mas Pandu segera balik ke warung.
Untungnya, kali ini dia tidak menolak.
Lembar masih sangat jauh di Lombok Barat.
Kami berpisah dengan saling bertukar doa.
Mas Pandu mendoakan keselamatan perjalanan kami.
Kami mendoakan rencana pernikahannya tahun depan lancar.
Pengemudi Mobil Bak (pickup)
Tak jauh dari gerbang keluar pelabuhan Sape, Sumbawa Timur, kami isi bensin.
Dua dari kami antre, dua lagi menunggu di luar SPBU.
Sebuah mobil bak minggir ke tepi jalan, mendekati, dan kemudian berhenti tak jauh dari anggota rombongan yang menunggu di luar SPBU.
Pengemudinya, seorang pria paruh baya, keluar dan berjalan mendekat sambil ucapkan salam.
Dia sepertinya paham kami bukan warga lokal. Plat nomor kendaraan dan cargo di motor adalah penanda jelas, bahwa kami bukan akamsi.
Si pengemudi tersebut menjelaskan bahwa perjalanan malam hari jalur Sape – Bima sangat berbahaya.
Gelap gulita, jalan tanjakan turunan berkelok-kelok tajam dengan sebaran lubang seperti ladang ranjau Perang Vietnam.
Juga, ragam hewan yang suka nyelonong menyebrang jalan.
Di mata pengemudi tersebut, kami bukan liyan, tapi dianggap saudara.
Dia bisa saja cuek terus berlalu saat melihat kami, tapi dia memutuskan untuk peduli dan berhenti.
Hanya untuk mewanti-wanti.
Kami mematuhi local wisdom ini dan memutuskan bermalam di Sape.
Keesokan harinya, saat kami melintas di jalur Sape-Bima, kami menemukan yang kemarin diceritakan.
Di beberapa ruas jalan kami sering melambat karena monyet, sapi, anjing, kerbau, kambing, sampai bebek santai melenggang menyebrang jalan.
We feel home.
Kami tidak merasa seperti orang asing di tanah asing, seperti sebuah lagu Iron Maiden, “Stranger in a Strange Land”.
Stranger in a strange land
Land of ice and snow
Trapped inside this prison
Lost and far from home
Alas, in our daily lives, I suppose many of us now often feel or are being treated like strangers in own land.
Pak Zainal
Saat penyebrangan antar pulau, di kapal, kami bertemu dan berbincang dengan sesama penumpang. Ngobrol ngalor ngidul, juga main catur.
Kami bertemu ortu yang hendak mengunjungi wisuda anak di berbagai universitas di Jawa, juga jumpa dengan para pekerja migran yang meninggalkan keluarga di kampung Lombok atau Sumbawa.
Meloloskan diri dari pasungan nasib, memburu rejeki di Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Salah satunya pak Zainal. Seorang bapak asal Praya, Lombok Tengah.
Ia memutuskan alih profesi, dari pengemudi ojek online di Bali menjadi pembuat sekaligus penjual es puter di Kalimantan.
Sekarang punya dua motor untuk menjual es puter keliling.
Dia juga melayani pesanan untuk hajatan.
Jadi pengemudi ojek online di Bali memberikan penghasilan cukup.
Tapi ketika butuh uang besar untuk kebutuhan wisuda anaknya, pak Zainal banting setir ke pekerjaan yang berpotensi memberi penghasilan lebih.
Dalam 5 bulan, uang terkumpul untuk kebutuhan wisuda anaknya. Pas waktu.
Si anak sekarang bekerja sebagai teller di salah satu bank swasta nasional utama di Kota Mataram.
Tidak menutup kemungkinan si anak suatu saat meraih posisi kepala cabang (seperti istri seorang teman yang mengawali karir sebagai teller dan purna tugas sebagai kepala cabang).
Saat ini, usaha es puter pak Zainal semakin membesar.
Tanpa membebani atau curi uang negara.