Sidoarjo (iddaily.net) – Suara gemuruh kereta minyak yang melintas di jalur rel Porong–Sidoarjo menjadi latar keseharian yang sulit dihindari bagi para pengungsi lumpur Lapindo. Bagi Kastanah, suara itu bukan sekadar gangguan, melainkan simbol kehidupan yang semakin jauh dari kata layak. Ia terpaksa menghentikan ceritanya sejenak setiap kali kereta melintas, sambil memeluk erat anak bungsunya, Muhamad Rizki Wahyudi, untuk melindunginya dari debu yang beterbangan.
Kastanah merupakan salah satu korban terdampak luapan lumpur panas Lapindo di Desa Ketapang, Sidoarjo. Bersama suaminya, Qoirul Amin, dan tiga anak mereka yang masih balita, ia harus meninggalkan rumah yang mulai terendam lumpur. Tanpa kepastian bantuan dan keterbatasan biaya, keluarga ini memilih mengungsi ke tempat yang jauh dari kata layak: sebuah kandang kambing berukuran sekitar 5×2 meter.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Biaya pemindahan barang yang melonjak drastis menjadi penghalang utama. Ongkos sewa truk yang biasanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu kini melambung hingga Rp500 ribu, belum termasuk biaya tambahan tenaga angkut. Bagi keluarga yang kehilangan sumber penghasilan setelah Qoirul Amin terkena pemutusan hubungan kerja dari pabrik rokok, angka tersebut mustahil dijangkau.
Kondisi kandang kambing yang menjadi tempat tinggal sementara itu sangat memprihatinkan. Bangunan sederhana dari bambu tanpa dinding, beratap plastik, berdiri di pinggir jalan raya dan bersebelahan langsung dengan rel kereta api. Barang-barang seadanya ditumpuk di sudut, sementara satu ranjang kayu menjadi pusat aktivitas keluarga. Tidak tersedia fasilitas dasar seperti kamar mandi maupun tempat mencuci.
Lingkungan sekitar pun tidak mendukung. Jalan Raya Porong yang menjadi jalur utama menuju Malang dan Banyuwangi dipadati kendaraan akibat dampak lumpur Lapindo. Kemacetan panjang memicu polusi udara dan kebisingan yang terus-menerus. Debu, asap kendaraan, dan suara bising menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi tanpa pilihan.
Dampak kondisi tersebut sangat terasa bagi anak-anak Kastanah. Tiga balita yang hidup dalam keterbatasan itu kerap rewel akibat ketidaknyamanan. Kebutuhan dasar seperti susu dan istirahat menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Jumlah pengungsi terus meningkat seiring meluasnya area terdampak lumpur. Data dari Pasar Porong mencatat sedikitnya 2.605 kepala keluarga atau sekitar 9.936 jiwa telah mengungsi, bahkan sempat meningkat hingga sekitar 12 ribu orang. Fasilitas kesehatan pun kewalahan menangani dampak lanjutan, dengan ribuan pasien menjalani perawatan jalan dan ratusan lainnya sempat dirawat inap.
Upaya penanganan bencana menunjukkan tanda stagnasi. Sejumlah metode teknis seperti sumur relief dan saluran pembuangan lumpur tidak lagi berfungsi optimal. Di sisi lain, ancaman terhadap infrastruktur semakin nyata. Lumpur kini hanya berjarak sekitar lima meter dari rel kereta api, meningkatkan risiko terputusnya jalur transportasi vital. Jika kondisi ini terus memburuk, Jalan Raya Porong juga berpotensi mengalami nasib serupa.
Kisah Kastanah menggambarkan realitas pahit yang dihadapi ribuan pengungsi lainnya. Di tengah ketidakpastian penyelesaian, mereka harus bertahan dengan segala keterbatasan, menunggu solusi yang hingga kini belum menunjukkan titik terang.
