Jakarta (iddaily.net) – Aktivitas vulkanik dua gunung api di Jawa Timur, yakni Gunung Semeru dan Gunung Bromo, menjadi perhatian setelah keduanya mengalami erupsi pada Kamis (5/11/2026).
Erupsi yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya hubungan aktivitas kedua gunung.
Gunung Semeru lebih dahulu mengalami erupsi pada Kamis pagi. Sementara itu, Gunung Bromo menyusul pada sore hari sekitar pukul 17.11 WIB dengan mengeluarkan kolom abu setinggi kurang lebih 500 meter di atas puncak kawah.
Peristiwa tersebut membuat masyarakat kembali memperhatikan aktivitas gunung api di Jawa Timur, terutama warga yang tinggal di sekitar kawasan gunung dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo.
Lantas, apakah dua gunung yang erupsi hampir bersamaan merupakan pertanda akan terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di wilayah lain?
Apakah Erupsi Bromo dan Semeru Saling Berkaitan?
Erupsi dua gunung api dalam waktu berdekatan tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung antara aktivitas keduanya.
Gunung Semeru dan Bromo memang berada di kawasan Jawa Timur yang sama-sama termasuk jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.
Wilayah ini memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi karena berada di kawasan pertemuan lempeng.
Namun, setiap gunung api memiliki sistem magma, karakteristik, dan dinamika aktivitas masing-masing.
Karena itu, erupsi Bromo dan Semeru yang terjadi pada hari yang sama tidak dapat langsung diartikan sebagai pertanda akan terjadi erupsi besar atau bencana di gunung lainnya.
Peningkatan aktivitas gunung api perlu diketahui melalui pemantauan kegempaan, deformasi, kondisi gas vulkanik, serta pengamatan visual yang dilakukan petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dikutip dari laman resmi PVMBG, Gunung Bromo mengalami erupsi pada Kamis (5/11/2026) pukul 17.11 WIB. Berdasarkan laporan pengamatan, kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak kawah dengan intensitas tipis hingga tebal dan bergerak ke arah barat.
Meski mengalami erupsi, status aktivitas Gunung Bromo hingga Jumat (6/11/2026) masih berada pada Level II atau Waspada.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan belum ada perubahan status aktivitas Gunung Bromo berdasarkan rekomendasi PVMBG.
Pihak pengelola memperketat pengawasan kawasan wisata dan mengingatkan pengunjung untuk mematuhi batas aman.
Sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 1 kilometer dari kawah aktif Bromo.
Berbeda dengan Bromo, Gunung Semeru berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas erupsi Semeru memang relatif sering terjadi. Berdasarkan keterangan Kepala BB TNBTS, catatan aktivitas erupsi Semeru sepanjang 2026 telah mencapai hampir 6.000 kali.
Namun, frekuensi erupsi tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan tingkat bahaya. Kondisi kegempaan, potensi awan panas guguran, dan aliran lahar juga harus diperhatikan.
Mengacu pada rekomendasi PVMBG yang berlaku dalam laporan pemantauan, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah Jonggring Saloko.
Selain itu, terdapat larangan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta menjauhi sempadan sungai sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan hingga 17 kilometer dari puncak karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar.
Apa yang Perlu Diwaspadai Warga dan Wisatawan?
Erupsi Bromo dan Semeru memiliki potensi bahaya yang berbeda. Karena itu, masyarakat perlu memahami ancaman di sekitar masing-masing gunung.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Hujan Abu Vulkanik
Abu vulkanik dapat mengganggu pernapasan, mata, serta jarak pandang. Jika terjadi hujan abu, gunakan masker, pelindung mata, dan kurangi aktivitas di luar ruangan.
2. Awan Panas Guguran
Awan panas merupakan salah satu ancaman serius di kawasan Semeru. Material panas yang meluncur mengikuti lereng dan aliran sungai dapat membahayakan warga yang berada di jalurnya.
3. Aliran Lahar Hujan
Material vulkanik yang menumpuk di lereng dapat terbawa air hujan dan mengalir melalui sungai. Warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di Semeru perlu meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras.
4. Letusan Freatik
Di kawasan Bromo, wisatawan perlu mewaspadai kemungkinan letusan freatik yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Karena itu, larangan mendekati kawah aktif harus dipatuhi.
5. Perubahan Kondisi Cuaca dan Arah Abu
Arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin. Wisatawan maupun warga sebaiknya mengikuti informasi resmi mengenai sebaran abu dan arahan petugas.
Erupsi Bromo dan Semeru yang terjadi hampir bersamaan merupakan pengingat bahwa Jawa Timur berada di kawasan dengan aktivitas gunung api yang tinggi.
Namun, kejadian tersebut bukan bukti bahwa gunung api lain akan segera meletus atau akan terjadi bencana yang lebih besar.
Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus meningkatkan kewaspadaan, memahami jalur evakuasi, dan mengikuti rekomendasi PVMBG serta BPBD setempat.
