Close Menu
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About Us
  • Q&A
  • Privacy Policy
  • Dukung Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
iddaily.netiddaily.net
Home»Asal Usul»Mengapa Karhutla di Pegunungan Sulit Dipadamkan? Ini Faktor yang Memengaruhinya
Asal Usul

Mengapa Karhutla di Pegunungan Sulit Dipadamkan? Ini Faktor yang Memengaruhinya

Andi NZAndi NZ26 Oktober 2026 / 11:03 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kebakaran hutan-lahan Savana Bromo dipantau BPBD/Dok Antara
Kebakaran hutan-lahan Savana Bromo dipantau BPBD/Dok Antara

Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan memiliki tantangan tersendiri.

Medan terjal, akses yang terbatas, sumber air yang jauh, serta kondisi cuaca dapat menyulitkan petugas menjangkau titik api dan melakukan pemadaman.

Dalam kondisi tertentu, api juga bisa menyebar cepat melalui rumput kering, semak belukar, serasah daun, dan ranting yang menjadi bahan bakar alami di lantai hutan.

Karena itu, penanganan karhutla di pegunungan tidak cukup hanya mengandalkan penyiraman air.

Petugas perlu mempertimbangkan kondisi medan, arah angin, tingkat kekeringan vegetasi, keselamatan personel, dan kemungkinan munculnya titik api baru.

Lantas mengapa kebakaran hutan di pegunungan sulit dipadamkan? Dilansir dari laman resmi BMKG, kesulitan ini disebabkan:

1. Medan Terjal dan Akses yang Terbatas

Kawasan pegunungan umumnya memiliki lereng curam, jalur sempit, dan kontur tanah yang tidak rata.

Kondisi ini membuat kendaraan pemadam tidak selalu dapat mencapai lokasi kebakaran.

Petugas mungkin harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadaman.

Proses tersebut membutuhkan tenaga, waktu, dan perencanaan logistik yang lebih besar dibandingkan penanganan kebakaran di area yang mudah dijangkau.

Jarak antara titik api dan jalur masuk juga memengaruhi kecepatan respons.

Ketika kebakaran terdeteksi di lokasi terpencil, petugas membutuhkan waktu untuk melakukan penilaian situasi dan menentukan jalur yang aman.

2. Sumber Air Tidak Selalu Dekat

Pemadaman kebakaran memerlukan pasokan air yang cukup. Namun, di kawasan pegunungan, sumber air bisa berada jauh dari titik api atau sulit dijangkau.

Petugas perlu mengatur pengangkutan air, penggunaan pompa, selang, dan peralatan lain sesuai kondisi lapangan.

Apabila pasokan air terbatas, strategi pemadaman harus disesuaikan dengan prioritas dan karakteristik kebakaran.

Dalam situasi tertentu, bantuan pemadaman dari udara dapat dipertimbangkan jika tersedia dan kondisi penerbangan memungkinkan.

Metode ini bukan pengganti seluruh pemadaman darat, melainkan dapat menjadi bagian dari operasi gabungan.

3. Angin Dapat Mempercepat Perambatan Api

Angin memengaruhi arah dan kecepatan penyebaran kebakaran dan embusan angin dapat membawa panas ke vegetasi di depan api, membantu menyalakan bahan bakar baru, dan membuat arah perambatan berubah.

Kondisi ini meningkatkan risiko bagi petugas karena garis api yang semula dapat diperkirakan bisa berkembang ke arah berbeda.

BMKG menjelaskan bahwa kecepatan dan arah angin, suhu, kelembapan, serta curah hujan merupakan faktor cuaca yang berpengaruh terhadap kebakaran hutan dan lahan.

BMKG juga memiliki sistem pemantauan potensi karhutla yang memuat sejumlah indeks, termasuk indeks yang menggambarkan kemudahan penyebaran api.

4. Vegetasi Kering Menjadi Bahan Bakar

Daun kering, ranting, rumput, semak, dan bahan organik lain dapat membantu api menyebar ketika kondisinya cukup kering.

Pada periode tanpa hujan yang panjang, bahan-bahan tersebut kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar.

Api yang awalnya kecil dapat berkembang jika bertemu dengan vegetasi kering yang tersambung di sepanjang lereng.

Risiko kebakaran juga dipengaruhi jenis vegetasi, jumlah bahan bakar, kelembapan, suhu, dan angin. Karena itu, kondisi setiap lokasi tidak selalu sama.

Pemantauan cuaca dan tingkat kekeringan bahan bakar menjadi salah satu unsur penting dalam upaya pencegahan.

5. Titik Api Bisa Muncul Kembali

Api yang terlihat padam belum tentu berarti seluruh area telah aman.

Bahan organik yang masih membara, ranting yang menyimpan panas, atau titik api yang belum terjangkau dapat memicu kebakaran kembali ketika kondisi mendukung.

Oleh sebab itu, petugas perlu melakukan pemeriksaan lanjutan, pemantauan titik panas, dan pendinginan pada area yang berpotensi menyimpan bara.

Pada jenis lahan tertentu, seperti gambut, api bahkan dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit terlihat dari luar.

Karakteristik tersebut berbeda dari kebakaran vegetasi di lereng pegunungan, tetapi menunjukkan pentingnya memahami jenis bahan bakar dan kondisi lokasi sebelum menentukan metode pemadaman.

6. Keselamatan Petugas Menjadi Prioritas

Pemadaman di kawasan pegunungan tidak boleh hanya mengejar kecepatan.

Petugas perlu memperhitungkan perubahan angin, asap yang mengurangi jarak pandang, kestabilan lereng, jalur evakuasi, dan kemungkinan api bergerak ke arah personel.

Jika situasi membahayakan, strategi operasi dapat diubah untuk melindungi petugas dan masyarakat.

Penentuan garis pengendalian, pembagian tim, komunikasi antarpersonel, serta pemantauan kondisi cuaca menjadi bagian penting dari operasi penanganan kebakaran.

Lalu Bagaimana Karhutla di Pegunungan Bisa Dipadamkan?

Metode penanganan ditentukan berdasarkan luas kebakaran, jenis vegetasi, akses, sumber air, cuaca, dan tingkat ancaman.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan tim penanganan antara lain:

Pemadaman darat: petugas mendatangi lokasi dan menggunakan peralatan sesuai kondisi kebakaran.

Pembuatan garis pengendalian: dilakukan sesuai kebutuhan dan penilaian teknis untuk membatasi penyebaran api.

Pemadaman dari udara: penyiraman air dari helikopter atau pesawat dapat digunakan apabila sarana tersedia, efektif, dan aman.

Pemantauan titik panas: membantu menemukan area yang masih aktif atau berpotensi menyala kembali.

Pendinginan dan patroli lanjutan: dilakukan untuk mengurangi risiko api muncul kembali setelah pemadaman awal.

Pemilihan metode harus mengikuti komando operasi dan penilaian petugas yang memahami karakteristik lokasi. Tidak semua teknik sesuai digunakan di setiap kawasan.

Sementara Karhutla di pegunungan bisa mengancam ekosistem, satwa liar, kualitas udara, dan keselamatan manusia.

Ketika kebakaran sudah meluas di medan yang sulit dijangkau, operasi pemadaman dapat membutuhkan sumber daya dan waktu lebih besar.

Karena itu, deteksi dini dan pencegahan menjadi bagian penting dari pengendalian kebakaran.

Masyarakat perlu menghindari aktivitas yang dapat memicu api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan titik api kepada petugas.

Pengunjung gunung juga harus mematuhi penutupan jalur atau pembatasan aktivitas yang ditetapkan pengelola.

Memaksakan diri masuk ke kawasan yang sedang terbakar tidak hanya membahayakan keselamatan pribadi, tetapi juga dapat menghambat operasi penanganan.

bmkg karhutla karhutla di pegunungan Kebakaran Hutan dan Lahan
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleMasyarakat Sipil Asia Pasifik Desak Perubahan Sistem Hadapi Krisis Ekologis
Next Article Perusahaan Pembakar Hutan Hanya Disanksi Administratif
Andi NZ
  • Website

Related Posts

Ketika Tribun Sepak Bola Berteriak: Langit Seharusnya Biru!

26 Oktober 2026 / 13:50 WIB

Pantai Boom Banyuwangi: Daya Tarik Wisata, Sejarah, dan Lokasi

26 Oktober 2026 / 13:25 WIB

Perusahaan Pembakar Hutan Hanya Disanksi Administratif

26 Oktober 2026 / 11:24 WIB
Leave A Reply Cancel Reply

Ketika Tribun Sepak Bola Berteriak: Langit Seharusnya Biru!

26 Oktober 2026 / 13:50 WIB

Pantai Boom Banyuwangi: Daya Tarik Wisata, Sejarah, dan Lokasi

26 Oktober 2026 / 13:25 WIB

Perusahaan Pembakar Hutan Hanya Disanksi Administratif

26 Oktober 2026 / 11:24 WIB

Mengapa Karhutla di Pegunungan Sulit Dipadamkan? Ini Faktor yang Memengaruhinya

26 Oktober 2026 / 11:03 WIB

Masyarakat Sipil Asia Pasifik Desak Perubahan Sistem Hadapi Krisis Ekologis

26 Oktober 2026 / 10:26 WIB

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.