Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur tercatat mencapai 184 kejadian dengan total luas lahan terbakar 11.449 hektare. Sebagian besar area yang terdampak berada di kawasan hutan konservasi.
Data tersebut disampaikan Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur dalam lamannya mengenai penguatan penanganan karhutla di wilayah setempat.
Bahkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jatim makin meluas, Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersinergi dengan lintas sector salah satunya BNPB, TNI, BPBD Jatim melakukan rakor di Kantor Wali Kota Batu, Jumat 23 Oktober 2026.
Dilansir dari situs resmi RRI, Pemprov Jatim telah melakukan sejumlah upaya untuk memperkuat penanganan karhutla, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Selain itu melakukan water bombing dengan kerjasama dengan BNPB.
“OMC sudah kita lakukan dengan menyasar wilayah operasi meliputi kawasan Gunung ljen, Arjuno-Welirang, Gunung Butak, serta kawasan pegunungan lainnya yang menjadi perhatian dalam upaya penanganan karhutla di Jawa Timur,” kata Gubernur Khofifah.
Sementara dilansir dari laman PMI Jatim, dari total luas lahan yang terbakar, sekitar 77,05 persen berada di kawasan hutan konservasi.
Angka ini menyoroti besarnya dampak kebakaran terhadap kawasan hutan yang memiliki fungsi penting bagi kelestarian ekosistem.
Karhutla menjadi tantangan serius bagi penanganan bencana di Jawa Timur, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan pegunungan dengan medan terjal dan akses yang sulit dijangkau petugas.
Karhutla Melanda Sejumlah Kawasan Gunung
Kebakaran hutan dan lahan sebelumnya dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur, antara lain Gunung Arjuno-Welirang, Semeru, Wilis, Ungup-Ungup, dan kawasan lain yang memerlukan penanganan tim gabungan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 4 September 2026 melaporkan bahwa tim gabungan yang terdiri atas BPBD, pengelola kawasan konservasi, Perhutani, TNI/Polri, Manggala Agni, dan relawan melakukan pemantauan serta penanganan di lokasi terdampak.
Penanganan kebakaran tidak selalu mudah. Petugas menghadapi medan yang sulit dijangkau, keterbatasan sumber air, serta kondisi kawasan yang dapat menyulitkan proses pemadaman.
Kebakaran Arjuno-Welirang Berdampak pada Pendakian
Salah satu kejadian terbaru terjadi di kawasan Gunung Arjuno-Welirang yang masuk wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Berdasarkan laporan iddaily.net pada 19 Oktober 2026, kebakaran terdeteksi di lima titik, yakni Puthuk Bulak, Guo Gambir, Tungwulung, Anjat, dan Gunung Ringgit.
Kejadian tersebut menyebabkan seluruh jalur pendakian ditutup sementara mulai 17 Oktober 2026. Penutupan dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran dan menjaga keselamatan pendaki.
Perlindungan Hutan Perlu Menjadi Perhatian
Besarnya luas lahan terbakar membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api.
Perlindungan kawasan hutan, pencegahan kebakaran berulang, serta pemulihan area terdampak juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan.
Masyarakat di sekitar kawasan hutan diimbau tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan. Warga yang menemukan titik api perlu segera melaporkannya kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Data 184 kejadian karhutla dan 11.449 hektare lahan terbakar menjadi pengingat bahwa pencegahan harus berjalan seiring dengan upaya pemadaman dan pemulihan kawasan terdampak.
