Jakarta (iddaily.net) – Kebiasaan membeli barang secara berlebihan, mengikuti tren, hingga membuang makanan yang masih layak konsumsi bukan sekadar persoalan gaya hidup.
Pola konsumsi yang tidak bertanggung jawab juga dapat memperbesar timbulan sampah dan menambah tekanan terhadap lingkungan.
Pakar Ilmu Perilaku Konsumen Berkelanjutan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Gancar Candra Premananto, menyoroti hubungan antara budaya konsumsi masyarakat dan persoalan lingkungan.
Dalam publikasi laman Unair, Gancar menyebut sampah rumah tangga menyumbang sekitar 38,2 persen dari total sampah nasional.
Sementara itu, sampah organik mendominasi sekitar 41,2 persen, terutama berupa sisa makanan.
Menurut Gancar, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
“Masyarakat perlu mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum membeli, menggunakan, dan membuang suatu produk,” jelasnya.
Konsumsi Berlebihan Memperbesar Persoalan Sampah
Perilaku konsumtif terjadi ketika keputusan membeli lebih banyak didorong oleh keinginan daripada kebutuhan.
Dorongan mengikuti tren, promosi, dan gaya hidup di media sosial dapat membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Dampaknya tidak berhenti pada pengeluaran rumah tangga dan barang yang cepat diganti, kemasan sekali pakai, serta makanan yang terbuang turut menambah beban pengelolaan sampah.
Sampah organik, termasuk sisa makanan, juga membutuhkan pengelolaan yang tepat.
Jika dibuang tanpa pengolahan memadai, sampah organik dapat menghasilkan gas rumah kaca selama proses penguraian.
Karena itu, mengurangi pemborosan sejak dari rumah menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menekan timbulan sampah.
Medsos Bisa Mendorong Konsumsi Ramah Lingkungan
Gancar menilai media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran konsumsi berkelanjutan, khususnya di kalangan generasi muda.
Influencer dan kreator konten dapat membantu memperkenalkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, seperti membawa wadah pakai ulang, mengurangi pembelian impulsif, memilih produk tahan lama, dan menghabiskan makanan secukupnya.
Namun, kampanye lingkungan perlu disertai tindakan nyata dan membeli produk berlabel ramah lingkungan tidak otomatis menjadikan pola konsumsi berkelanjutan apabila barang tersebut tetap dibeli berlebihan dan tidak digunakan secara optimal.
Pilihan yang lebih bijak adalah membeli sesuai kebutuhan, menggunakan barang selama mungkin, memperbaiki barang yang masih layak, dan memilah sampah agar dapat dikelola dengan tepat.

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Menghadapi Tantangan
Dalam publikasi tersebut, Gancar juga menyoroti bahwa produk ramah lingkungan masih kerap memiliki harga lebih tinggi dibandingkan produk konvensional.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi masyarakat yang ingin menerapkan gaya hidup berkelanjutan tetapi memiliki keterbatasan anggaran.
Karena itu, konsumsi bertanggung jawab tidak harus selalu dimulai dengan membeli produk baru yang lebih mahal.
Mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, menggunakan kembali barang, membawa tas belanja sendiri, dan menghindari makanan terbuang merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Perubahan pola konsumsi juga membutuhkan dukungan pendidikan, pelaku usaha, dan kebijakan pengelolaan sampah yang memadai.
Gen Z Bisa Jadi Penggerak Perubahan
Gancar menekankan pentingnya pendidikan yang menumbuhkan kepedulian lingkungan, termasuk melalui etika bisnis dan kewirausahaan berbasis lingkungan.
Sampah tidak hanya perlu dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi apabila diolah dengan tepat.
Dalam publikasi di laman resmi Unair, ia mencontohkan Vania Santoso, alumni Manajemen Unair yang mengolah limbah menjadi tas bernilai ekonomi.
Upaya seperti itu menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan peluang usaha.
Pada akhirnya, mengurangi budaya konsumtif bukan berarti melarang masyarakat berbelanja.
Hal yang lebih penting adalah memastikan konsumsi sesuai kebutuhan, menghindari pemborosan, dan mempertimbangkan dampak keputusan sehari-hari terhadap lingkungan.
Perubahan sederhana yang dilakukan banyak orang dapat membantu mengurangi sampah sekaligus membangun kebiasaan hidup yang lebih berkelanjutan.
