Jakarta (iddaily.net) – Kebakaran hutan di kawasan pegunungan kerap menjadi ancaman ketika musim kemarau tiba.
Rumput yang mengering, semak belukar, daun gugur, dan ranting kering dapat menjadi bahan bakar alami yang membuat api mudah menyebar.
Kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi pengingat bahwa kawasan pegunungan tidak hanya memiliki fungsi wisata, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Berikut Penyebab Kebakaran Hutan Secara Umum:
1. Rumput dan Ranting Kering Menjadi Bahan Bakar
Ketika hujan jarang turun, kadar air pada vegetasi berkurang. Rumput, daun kering, dan ranting yang menumpuk menjadi lebih mudah terbakar ketika terkena sumber panas atau percikan api.
Api dapat menjalar dari rumput ke semak, kemudian merambat ke vegetasi lain jika kondisi lingkungan mendukung.
2. Angin Membuat Api Cepat Meluas
Angin dapat memasok oksigen dan membawa bara ke area yang belum terbakar.
Dalam kondisi tertentu, kobaran api dapat melompat ke bagian lain sehingga menyulitkan petugas mengendalikan kebakaran.
3. Medan Terjal Menyulitkan Pemadaman
Kebakaran di pegunungan sering terjadi di lereng curam, punggungan, atau lokasi yang jauh dari akses jalan.
Petugas harus mempertimbangkan keselamatan personel saat membawa peralatan dan mendekati titik api.
Pada kebakaran Arjuno-Welirang sebelumnya, medan terjal dan angin kencang menjadi kendala pemadaman melalui jalur darat maupun udara.
4. Aktivitas Manusia Memicu Kebakaran
Sumber kebakaran dapat berasal dari faktor alam maupun aktivitas manusia. Api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, puntung rokok, pembakaran lahan, atau aktivitas lain yang melibatkan api berpotensi memicu kebakaran.
Namun, penyebab setiap kejadian harus ditentukan melalui pemeriksaan petugas.
Tidak tepat menyimpulkan suatu kebakaran disebabkan manusia tanpa bukti yang memadai.
5. Kebakaran Merusak Ekosistem
Api dapat memusnahkan vegetasi, mengganggu habitat satwa, merusak lapisan tanah, serta meningkatkan risiko erosi.
Asap juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas di sekitar kawasan.
Dampaknya tidak selalu berhenti ketika api padam dan pemulihan vegetasi dan habitat bisa membutuhkan waktu yang panjang, bergantung pada tingkat kerusakan dan karakteristik kawasan.
Cara Mencegah Kebakaran Hutan di Gunung
Pendaki dan wisatawan dapat membantu mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan tidak membuang puntung rokok sembarangan, memastikan api unggun benar-benar padam jika penggunaannya diizinkan, tidak membakar sampah, dan melaporkan titik api kepada petugas.
Pengelola kawasan juga perlu memperkuat pemantauan, edukasi pengunjung, kesiapsiagaan personel, dan koordinasi pemadaman ketika risiko kebakaran meningkat.
Kebakaran di kawasan pegunungan bukan sekadar persoalan hilangnya pemandangan hijau.
Peristiwa ini menyangkut keselamatan manusia, kelestarian habitat, serta fungsi hutan bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
