Jakarta (iddaily.net) – Maudy Ayunda menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah kontennya mengenai mindfulness dan cara menghadapi derasnya berita buruk menuai beragam respons dari publik.
Permintaan maaf tersebut disampaikan Maudy melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (20/9/2026).
Sebelumnya, pada 13 September, Maudy juga telah memberikan klarifikasi melalui komentar yang disematkan pada video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News.
Dalam pernyataan terbarunya, Maudy mengatakan dirinya mengambil waktu untuk mendengarkan berbagai respons dan kembali merefleksikan apa yang sebelumnya ia sampaikan.
Ia mengakui bahwa pernyataannya telah menimbulkan kekecewaan dan kemarahan.
Menurut Maudy, terdapat perspektif dan konteks yang belum cukup ia pertimbangkan sehingga pesannya terasa jauh dari realitas serta pengalaman yang sedang dihadapi sebagian masyarakat.
“Aku menyadari bahwa aku masih perlu banyak belajar,” katanya dalam akun medsosnya.
Maudy kemudian menyampaikan bahwa dirinya perlu lebih banyak mendengar, lebih peka, berempati, dan terbuka terhadap perspektif yang berbeda dari pengalaman pribadinya.
Awal Mula Konten Mindfulness Maudy Ayunda
Konten yang menjadi sorotan tersebut merupakan video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026.
Dalam video itu, Maudy membahas pengalamannya menghadapi banjir informasi, khususnya berbagai kabar buruk yang terjadi di Indonesia.
Ia bercerita mengenai cara mengatur paparan terhadap berita agar tidak terus-menerus membuat dirinya kewalahan secara emosional.
Maudy membagikan sejumlah cara yang dilakukannya, antara lain menyaring sumber informasi, memilih berita yang dikonsumsi, serta berdiskusi dengan orang yang dianggap memahami persoalan tertentu.
Namun, pembahasan tersebut kemudian kembali ramai dan mendapatkan kritik dari sebagian warganet.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pilihan untuk menjauh dari berita atau membatasi informasi, terutama ketika suatu peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.
https://www.instagram.com/maudyayunda/?utm_source=ig_embed&ig_rid=AOTUdJvRkoOwX04QsHlHpf6
Maudy Akui Ada Soal Privilese yang Terlewat
Menanggapi kritik tersebut, Maudy sebelumnya telah mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk menjauh sejenak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese.
Ia menyampaikan bahwa perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.
“Being able to step away from the news is itself a privilege”.
Maudy juga menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk tidak peduli terhadap kondisi sosial.
Menurut penjelasan Maudy, mindfulness yang ia maksud justru berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi diri sehingga seseorang tetap dapat hadir, peduli, dan melihat situasi dengan lebih jelas.
Maudy Singgung Tanggung Jawab sebagai Figur Publik
Dalam permintaan maaf terbukanya pada 20 September, Maudy juga menyinggung posisi serta akses yang dimilikinya sebagai figur publik.
Ia menyadari bahwa suara, platform, akses, dan berbagai bentuk privilese yang dimilikinya membawa tanggung jawab.
Karena itu, Maudy mengatakan akan terus belajar dan berusaha menggunakan ruang publik serta kapasitas yang dimilikinya dengan lebih bijak.
Di bagian akhir pernyataannya, Maudy kembali meminta maaf kepada publik.
Ia juga mengakui bahwa sebuah permintaan maaf tidak serta-merta menghapus kekecewaan yang telah muncul.
Namun ia menyatakan akan berusaha melakukan perbaikan ke depannya.
Kontroversi tersebut kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai bagaimana menjaga kesehatan mental di tengah derasnya informasi, sekaligus bagaimana melihat persoalan tersebut dari pengalaman masyarakat yang berbeda-beda.
Dengan permintaan maaf terbarunya, Maudy menyatakan dirinya memilih untuk mendengarkan berbagai masukan dan terus belajar dari perspektif yang sebelumnya belum cukup ia pertimbangkan.
