Ada orang yang ketika pergi meninggalkan jabatan. Ada yang meninggalkan karya dan ada pula yang meninggalkan nama.
Kar meninggalkan cerita.
Cerita tentang seorang kawan yang kami kenal sejak zaman ketika menjadi mahasiswa belum identik dengan mengejar IPK, sertifikat seminar, atau mempercantik CV.
Zaman ketika mahasiswa masih cukup percaya diri untuk berpikir bahwa dunia bisa diubah, meskipun kadang kami sendiri belum tahu persis bagaimana caranya dan di zaman itulah saya mengenal Karyono.
Namanya Karyono. Tetapi di kalangan kami, satu nama rasanya terlalu sederhana untuk menampung berbagai dimensinya.
Maka lahirlah berbagai nama panggilan: Tan Malaka, Karyonov, Karcono, dan entah berapa lagi yang mungkin sudah hilang ditelan usia.
Kar memang cocok diberi banyak nama.
Karena dia bukan sekadar satu tipe manusia.
Di satu sisi, dia adalah kawan diskusi. Di sisi lain, aktivis lapangan. Kadang analis sosial. Kadang community organizer.
Kadang kurir informasi. Kadang sekadar teman perjalanan yang kalau diajak ke lokasi yang “agak rawan”, reaksinya kurang lebih: “Ya wis, berangkat.”
Penampilannya pun punya keunikan sendiri.
Kalau kami datang ke sebuah kampung untuk menemui warga, orang mungkin akan lebih mudah mengira Kar sebagai warga dampingan daripada mahasiswa yang datang untuk melakukan advokasi.
Dan itu justru kelebihannya.
Ia tidak membawa aura “kami mahasiswa datang untuk menyelamatkan masyarakat.” Tidak ada jarak sosial yang dibuat-buat.
Tidak ada gaya intelektual yang terlalu berjarak. Kar bisa membaur.
Mungkin karena itu pula pekerjaan seperti ansos (analisis sosial) dan community organizing terasa sangat natural baginya.
Kami pernah bertemu dan beraktivitas di berbagai ruang: mulai dari Himpunan Mahasiswa Statistika ITS, Senat Mahasiswa Fakultas dan Institut, Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS), Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), dan berbagai ruang gerakan mahasiswa lainnya.
Pada masa itu, ruang-ruang tersebut bagi kami bukan sekadar organisasi.
Itulah sekolah kami. Meski banyak juga yang sinis berkata: itu tempat di mana mahasiswa salah milih teman.
College life should have been easy without all these complicated stuffs.
Kami belajar membaca persoalan masyarakat. Belajar berdebat. Belajar berbeda pendapat. Belajar membuat pernyataan sikap. Belajar menghadapi birokrasi. Tetap belajar tenang di depan pasukan bersenjata.
Belajar melakukan advokasi. Dan yang paling penting, belajar bahwa membaca persoalan masyarakat dari buku tidak pernah sama dengan berdiri di tengah masyarakat yang sedang menghadapi persoalan.
Salah satu isu yang kami geluti adalah persoalan agraria dan konflik pertanahan.
Ada kasus tanah di Desa Wedoro Anom, Gresik, ada pula persoalan tanah yang melibatkan masyarakat sekitar Pondok Pesantren Nurul Jadid, Situbondo. Di lapangan seperti itulah karakter Kar benar-benar kelihatan.
Kalau dalam rapat, Kar tidak terlalu banyak bicara.
Bukan tipe aktivis yang setiap lima menit harus menyampaikan statement. Bukan pula tipe yang kalau memegang mikrofon kemudian lupa cara mengembalikannya.
Kar lebih suka bekerja daripada berbicara tentang pekerjaan.
Dalam forum, ia bisa tenang. Santai. Kadang malah kelihatan terlalu santai.
Tetapi begitu ada keputusan: “Kita turun ke lapangan!”, Kar siap.
Termasuk ketika informasinya belum lengkap. Termasuk ketika situasinya belum pasti. Bahkan ketika ada kemungkinan persoalannya menjadi tidak nyaman atau lebih dari sekadar tidak nyaman.
Di saat kami masih menghitung risiko, Kar kadang sudah menghitung ongkos perjalanan.
Di situlah saya kira letak mental heroik Kar.
Bukan heroisme model film. Tidak ada musik latar. Tidak ada adegan slow motion. Tidak ada spanduk bertuliskan “Seorang Aktivis Telah Datang.”
Heroisme Kar justru muncul dalam bentuk yang paling sederhana: santai, woles, tetapi berangkat.
Dan mungkin karena itu pula dia punya kemampuan yang tidak semua aktivis punya: fleksibilitas membaca medan.
Rencana boleh dibuat. Kerangka teori boleh disusun. Strategi boleh didiskusikan sampai dini hari.
Tetapi begitu sampai lapangan, Kar tahu bahwa masyarakat bukan diagram, konflik bukan tabel, dan manusia tidak selalu bertindak sesuai flow chart.
Kalau situasi berubah, dia berubah.
Kalau pendekatan tidak berhasil, cari pendekatan lain.
Kalau pintu depan tertutup, cari pintu samping.
Kalau semua pintu tertutup, ya ngobrol dulu dengan orang yang punya kunci.
Out of the box, tetapi tetap menginjak tanah. Taktis tidak mengorbankan hal strategis.
Dan satu lagi yang menurut saya sangat penting: Kar punya napas panjang.
Banyak orang bisa bersemangat ketika isu sedang panas. Banyak yang berani ketika kamera menyala. Banyak yang hadir ketika sebuah kasus sedang menjadi perhatian.
Tetapi setelah spanduk dilipat, berita berhenti, dan isu berganti, satu per satu menghilang.
Kar tidak begitu.
Ia tetap menjaga hubungan dengan warga jauh setelah masa advokasi selesai.
Bagi Kar, warga bukan “kasus”. Bukan “PAP”, bukan “beneficiary”, bukan “target group”, apalagi sekadar angka dalam laporan.
Mereka adalah orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar yang ditinggalkan Kar kepada kami: Advokasi boleh selesai. Pendampingan boleh berakhir. Tetapi persaudaraan tidak mengenal tanggal penutupan kasus.
Barangkali karena itu, ketika kemudian kehidupan membawanya ke Yayasan Cakrawala Timur, pilihan tersebut sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.
Kar tetap berada di jalur yang kurang lebih sama: pendampingan dan pengembangan masyarakat.
Dan di sana pula, dalam perjalanan pengabdiannya, Kar bertemu dengan Nadia, aktivis dari Unisma Malang.
Saya tidak tahu apakah waktu itu Kar melakukan analisis sosial terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Kalau iya, mungkin analisisnya sederhana:
– Masalah: hidup sendirian.
– Potensi dampak: kesepian.
– Strategi mitigasi: cari soulmate.
– Hasil: Nadia.
Dan rupanya strategi itu berhasil.
Kami yang dulu bersama-sama membicarakan perubahan sosial, ketimpangan, konflik agraria, demokrasi, dan masa depan bangsa, akhirnya satu per satu memang berubah.
Rambut mulai berkurang.
Pinggang mulai bertambah.
Lutut mulai memberi sinyal politik.
Dan idealisme, untungnya, masih sesekali muncul.
Kar juga begitu.
Tetapi ada sesuatu yang tidak berubah: ia tetap Kar.
Santai. Sederhana. Fleksibel. Kadang nyeleneh. Tidak terlalu membutuhkan panggung. Tetapi ketika dibutuhkan, dia hadir.
Hari ini Kar sudah pergi.
Dan kita mungkin baru menyadari bahwa orang seperti Kar memang tidak banyak.
Ia tidak meninggalkan monumen.
Tidak meninggalkan gedung atas namanya.
Tidak meninggalkan jabatan yang harus dikenang.
Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang mungkin jauh lebih penting:
orang-orang yang pernah disentuh hidupnya.
Kawan-kawan seperjalanan.
Warga yang pernah didampingi.
Orang-orang yang pernah berdiskusi dengannya.
Dan tentu saja, keluarga serta orang-orang yang mencintainya.
Ada orang yang hidupnya seperti petasan: terang sebentar, lalu selesai.
Kar lebih seperti lampu jalan.
Tidak banyak orang memperhatikannya ketika menyala. Tidak spektakuler. Tidak menghasilkan suara.
Tetapi ia menerangi jalan bagi orang-orang yang sedang lewat.
Dan baru ketika lampu itu padam, kita sadar: ternyata selama ini cahayanya memang kita perlukan.
Kar, kawan lama.
Kita pernah sama-sama muda dan merasa dunia begitu buruk sehingga harus segera diperbaiki.
Kita pernah berdiskusi sampai malam, turun ke kampung, bertemu warga, berhadapan dengan persoalan yang kadang tidak masuk akal, dan pulang dengan badan capek tetapi entah kenapa tetap merasa bahwa hidup punya arti.
Kini kita sudah tidak muda lagi.
Dan dunia ternyata belum juga selesai diperbaiki.
Maaf, Kar. Pekerjaan kita ternyata belum selesai.
Tapi mungkin sekarang giliran kami yang meneruskan.
Kau sudah mengambil jalanmu lebih dulu.
Kami akan menyusul, entah kapan.
Untuk sementara, istirahatlah.
Tidak perlu lagi memikirkan ansos.
Tidak perlu lagi rapat.
Tidak perlu lagi mencari strategi advokasi.
Tidak perlu lagi memikirkan siapa yang harus turun ke lapangan.
Kalau nanti ada forum di alam sana dan seseorang bertanya,
“Siapa yang mau turun ke lapangan?”
Saya yakin kau akan tetap menjawab seperti dulu:
“Ya wis… berangkat.”
Selamat jalan, Kar.
Selamat jalan, Tan Malaka.
Selamat jalan, Karyonov.
Selamat jalan, Karcono.
Kawan seperjalanan kami di masa muda.
Kawan seperjuangan di jalanan.
Kawan yang tidak banyak bicara, tetapi banyak berjalan.
Jejakmu mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah.
Tetapi ia tertulis di banyak jalan yang pernah kau lalui,
di banyak rumah yang pernah kau datangi,
dan di banyak hati yang pernah kau sentuh.
Al-Fatihah.
Selamat jalan, Kar.
Sampai bertemu di persimpangan berikutnya.
