Jakarta (iddaily.net) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,34 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan harga terutama dipengaruhi sejumlah komoditas pangan, seperti daging ayam ras dan cabai rawit.
Secara tahunan, inflasi Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 3,32 persen.
Sementara itu, inflasi secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026 atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 1,82 persen.
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pada Agustus.
“Peningkatan permintaan bahan pangan pada momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi Muhammad SAW turut mendorong kenaikan harga, terutama pada sejumlah produk peternakan,” kata Herum dalam keterangannya.
Komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar adalah daging ayam ras sebesar 0,28 persen, disusul cabai rawit sebesar 0,04 persen. Beras, udang basah, dan daging sapi masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.
Sementara, jelas dia, kacang panjang, ketimun, dan cumi-cumi masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.
Harga Emas dan Biaya Pendidikan Ikut Mendorong Inflasi
Selain komoditas pangan, kenaikan harga emas perhiasan juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi Jawa Timur.
BPS menjelaskan pergerakan harga emas global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga jual emas di pasar domestik.
Kenaikan harga emas dunia kemudian berdampak terhadap harga emas perhiasan di tingkat konsumen.
Inflasi juga dipengaruhi kelompok pendidikan.
Agustus merupakan periode dimulainya tahun pendidikan di tingkat akademi dan perguruan tinggi sehingga sejumlah penyelenggara pendidikan melakukan penyesuaian tarif atau biaya pendidikan.
Komponen perguruan tinggi tercatat memberikan andil sebesar 0,03 persen terhadap inflasi Agustus 2026.
Sejumlah Harga Turun, Inflasi Berhasil Ditahan
Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa harga justru mengalami penurunan sehingga menahan laju inflasi.
Bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, sedangkan tomat dan bawang putih masing-masing sebesar 0,03 persen.
Penurunan juga terjadi pada tarif angkutan udara yang memberikan andil deflasi sebesar 0,17 persen serta bensin sebesar 0,44 persen.
Semua Kota IHK Jatim Mengalami Inflasi
Inflasi Agustus 2026 terjadi di seluruh 11 kabupaten/kota di Jawa Timur yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Inflasi tertinggi terjadi di Banyuwangi sebesar 0,86 persen, disusul Gresik 0,66 persen, Bojonegoro dan Tulungagung masing-masing 0,54 persen.
Selanjutnya, Madiun dan Jember masing-masing mengalami inflasi 0,46 persen, Probolinggo 0,44 persen, Kediri 0,43 persen, Malang 0,39 persen, sedangkan Surabaya mencatat inflasi terendah sebesar 0,09 persen.
Dengan inflasi bulanan sebesar 0,34 persen tersebut, inflasi Jawa Timur secara tahunan pada Agustus 2026 mencapai 3,32 persen, sedangkan inflasi tahun kalender tercatat 1,82 persen.
