Jakarta (iddaily.net) – Gempa susulan masih mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis (20/8/2026), 5 hari setelah gempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah tersebut.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat aktivitas gempa susulan terus meningkat.
Hingga Kamis pukul 08.00 WIB, tercatat 3.489 gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M 6,2.
Sebelumnya, hingga pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 3.394 gempa susulan.
Dari jumlah tersebut, 26 gempa berkekuatan di atas M5 dan 99 gempa dirasakan masyarakat.
Pada Kamis pagi, wilayah Manggarai kembali diguncang gempa cukup kuat. BMKG mencatat gempa M5 ,7 terjadi sekitar pukul 09.47 WIB dengan pusat gempa berada sekitar 37 KM barat laut Manggarai Timur, pada kedalaman 10 KM.
Gempa tersebut dirasakan cukup kuat di Kabupaten Manggarai hingga mencapai intensitas V-VI MMI.
Getaran juga dirasakan di sejumlah wilayah lain seperti Nagekeo, Ende, Manggarai Barat, Sumba Timur dan Sikka.
BMKG Pastikan Gempa Tidak Berpotensi Tsunami
Gempa M 5,7 tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama M 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
BMKG menyebut rangkaian gempa terjadi akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Korban Meninggal 71 Orang
Di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung, jumlah korban meninggal akibat gempa utama M 7,7 juga tercatat mencapai 71 orang.
BNPB melaporkan penambahan satu korban meninggal dari Kabupaten Nagekeo sehingga total korban meninggal sejak gempa terjadi pada 15 Agustus hingga 19 Agustus 2026 menjadi 71 orang.
Sementara itu, data BNPB yang dipublikasikan sebelumnya mencatat 213 orang mengalami luka-luka.
Angka tersebut merupakan data pendataan BNPB hingga 17 Agustus dan masih dapat berubah seiring proses pendataan di wilayah terdampak.
Korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten. Data BNPB per 17 Agustus mencatat 26 korban berasal dari Kabupaten Manggarai, 24 dari Manggarai Timur, 8 dari Nagekeo, 4 dari Sikka, 2 dari Ende, 2 dari Manggarai Barat dan dua dari Ngada.
Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi.
Hingga Rabu (19/8/2026), BNPB mencatat 59.647 orang mengungsi karena khawatir terhadap gempa susulan yang masih terjadi.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Warga di wilayah terdampak juga diminta tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Informasi resmi mengenai perkembangan gempa dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG dan akun media sosial @infoBMKG.
Aktivitas gempa susulan diperkirakan masih berlangsung.
BMKG menyebut gempa susulan dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan seiring proses pelemahan aktivitas gempa pascagempa utama.
