Malam di Stadion Bilino Polje, Zenica kemarin, bukan sekadar malam kekalahan biasa.
Itu adalah requiem, sebuah kidung kematian bagi timnas Italia yang kembali gagal ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kegagalan Saat Bastoni Dikartu Merah
Menghadapi Bosnia-Herzegovina dalam laga hidup-mati kualifikasi Piala Dunia 2026, Gli Azzurri sebenarnya sempat memegang kendali lewat gol Moise Kean pada menit ke-15.
Bayangan Piala Dunia 2026 seolah sudah di depan mata.
Namun, gairah itu mendadak padam di menit ke-41.
Defender Alessandro Bastoni, melakukan tekel yang ceroboh.
Wasit pun menghukumnya dengan kartu merah langsung.
Sejak pemain Inter Milan itu keluar, Italia bermain compang-camping dengan 10 pemain.
Penguasaan bola Bosnia unggul bersama juga dengan peluang tembakannya.
Tekanan bertubi, akhirnya membuat gol penyeimbang jadi keniscayaan.
Italia kebobolan di menit ke-79, dan harus menjalani babak adu penalti.
Dalam kondisi ini, mental Italia tetap stagnan.
Hanya Sandro Tonali yang sukses mengeksekusi, sementara dua pemain Italia lain gagal.
Italia pun kalah tragis 1-4.
Matriks Peristiwa 20 Tahun Lalu di Berlin
Kartu merah Bastoni itu sesungguhnya ada keterikatan matriks dengan sejarah sebelumnya.
Seperti déjà vu mistis dari malam di Berlin, dua puluh tahun silam.
Kita tentu ingat bagaimana Marco Materazzi memprovokasi Zinedine Zidane hingga sang maestro Prancis itu meledak dan menghantamkan kepalanya ke dada Materazzi.
Kartu merah yang diterima Zidane saat itu adalah “berkah” yang mengantar Italia ke podium juara dunia 2006.
Tapi bagi Zizou, malam itu seperti neraka.
Tandukannya kemudian dicibir banyak media sebagai kegagalan Prancis, ia terpancing provokasi kotor Materazzi yang menghina ibu dan adik perempuannya.
Kartu merah Bastoni kemarin seperti karma yang dituntut oleh semesta.
Seolah-olah kartu merah yang disebabkan Materazzi untuk Zidane, baru benar-benar “dilunasi” dua dekade kemudian lewat kartu merah Bastoni.
Disinlah pola karma ini mulai terbaca. Materazzi dan Bastoni sama-sama bermain di posisi Central Defender (CB), dan untuk klub yang sama, yakni Inter Milan!
Bisa dibilang, defender Inter Milan adalah balak sejak peristiwa tandukan Zidane dulu.
Pola kegagalan Italia ini juga tak pernah berubah.
Selama periode “kegelapan”, lini belakang Italia tak pernah absen dari pilar-pilar Inter Milan.
Karma itu terus mengalir selama Gli Azzurri memainkan defender yang berasal dari klub yang sama seperti Materazzi.
Setelah tersingkir memalukan di fase grup 2010 dan 2014, Italia justru menjadi “penonton” di tiga edisi beruntun.
Pada 2018, mereka dijinakkan Swedia dengan agregat 1-0. Pada 2022, mereka dihancurkan oleh gol telat Makedonia Utara (0-1) di rumah sendiri.
Dan kutukan itu berlanjut sampai kemarin, Italia gagal ke Piala Dunia lagi setelah ditundukkan Bosnia-Herzegovina.
Dalam fase itu, kita bisa melihat barisan pertahanan Italia yang selalu diperkuat bek Inter Milan.
Setelah era Materazzi, berlanjut ke skuat tahun 2011-2019, di mana nama-nama seperti Andrea Ranocchia, Danilo D’Ambrosio, hingga Cristiano Biraghi silih berganti mengisi slot pertahanan Italia.
Di era 2020-2026 barisan belakang Italia juga duhuni kuartet Inter Milan seperti Francesco Acerbi, Matteo Darmian, Federico Dimarco, hingga akhirnya Alessandro Bastoni.
Seolah ada energi negatif yang terus merembes dari seragam Nerazzurri ke jantung pertahanan Gli Azzurri, membuat Dewi Fortuna selalu memalingkan wajah setiap kali Italia mencoba mengetuk pintu Piala Dunia.
Saya merasa kartu merah Bastoni di menit ke-41 itu adalah “tumbal terakhir” Materazzi.
Saat Materazzi memenangkan Piala Dunia 2006, ia sekaligus mewariskan beban karma yang sangat berat untuk dipikul generasi setelahnya.
Beban itu kini tuntas dibayar oleh Bastoni, pemain yang berbagi posisi dan klub yang sama dengan sang provokator di Berlin.
Antisipasi untuk Piala Dunia 2030
Kartu merah di Zenica adalah tanda berakhirnya siklus 20 tahun kegelapan.
Dengan tumbal yang sudah diserahkan, Gli Azzurri diprediksi akan kembali menghirup udara segar di Piala Dunia 2030, karena hutang masa lalu telah tunai.
Namun, untuk memastikan kutukan ini benar-benar terkubur di dasar bumi, pelatih Italia di masa depan harus mengambil langkah radikal sebagai mantra penutup babak kelam ini.
Di masa kualifikasi Piala Dunia 2030 nanti, sebaiknya benteng pertahanan Italia bersih dari defender Inter Milan.
Jangan ada “Materazzi” lain sampai peraih empat gelar juara Piala Dunia itu masuk lagi di edisi Piala Dunia 2030.
Kecuali ada spekulasi lain, yang sangat tidak mungkin terjadi. Yakni pemaafan dari Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi secara personal.
Sebab sampai kinipun, sang legenda Perancis itu tidak pernah mau membuka pintu maaf ataupun berbicara kepada Materazzi.
Selama ini, permintaan komunikasi terbuka oleh Materazzi tidak pernah diwujudkan Zidane. Komunikasi mereka membeku selama 20 tahun. Dan selama kebekuan itu, prestasi Italia juga ikut membeku.
