Jakarta (iddaily.net) – BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Juli-September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Di saat bersamaan, peluang El Nino mencapai kategori moderat hingga kuat, memengaruhi kondisi cuaca dan iklim selama musim kemarau.
BMKG menyebut El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda.
Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sementara El Nino merupakan fenomena iklim global yang dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Musim Kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya, sedangkan El Nino terjadi mulai Juli hingga Oktober 2026.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bahkan wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa diperkirakan mengalami dampak paling signifikan, terutama selama puncak musim kemarau pada Juli hingga September 2026.
Berikut Wilayah yang Mengalami Puncak Musim Kemarau Juli-September 2026:
– Jawa
Diperkirakan menjadi salah satu wilayah dengan penurunan curah hujan paling signifikan selama puncak musim kemarau.
– Bali-NTB-NTT
Sejak awal memang memiliki musim kemarau lebih panjang sehingga berisiko mengalami kekeringan.
– Sebagian wilayah Sumatra bagian selatan
Diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
– Kalimantan bagian selatan
Wilayah rawan kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
– Sulawesi
Diperkirakan mengalami penurunan curah hujan pada puncak musim kemarau.
– Sebagian wilayah Papua bagian selatan
Diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan biasanya.
Meski begitu BMKG akan terus memantau perkembangan El Nino dan menyampaikan informasi serta peringatan dini kepada pemerintah maupun masyarakat.
