Jakarta (iddaily.net) – Fenomena alam bediding kembali menjadi perhatian masyarakat setiap memasuki musim kemarau.
Bediding dalam bahasa Jawa dikenal bedhidhing yakni kondisi ketika suhu udara turun secara signifikan pada malam hingga dini hari selama musim kemarau.
Fenomena ini bukan pertanda cuaca ekstrem yang berbahaya, melainkan bagian dari siklus iklim tahunan yang dipengaruhi oleh perubahan arah angin muson.
Efek bediding paling terasa di kawasan dataran tinggi dan pegunungan di Jawa Timur.
Meski suasana sejuk dan langit cerah, bediding juga membawa sejumlah dampak yang perlu diwaspadai, mulai dari meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan (ISPA) hingga kerusakan tanaman akibat embun beku.
Meski begitu secara umum, bediding bukan fenomena yang membahayakan.
Dilansir dari laman BMKG, masyarakat diimbau selama musim bediding untuk menjaga Kesehatan dengan memenuhi asupan gizi dan olahraga teratur.
Selain itu mewaspadai potensi embun beku bagi petani di kawasan puncak pegunungan.
“Dan bagi para pendaku, persiapan ekstra untuk penghangat tidak ketinggalan,” jelasnya.
Daerah pegunungan di Jawa Timur yang terdampak bediding lebih kuat yakni, Gunung Bromo, Ranupani (Gunung Semeru), Kota Batu, Kawah Ijen, Wilayah pegunungan Malang, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso dan Banyuwangi.
