Jakarta (iddaily.net) –Kain Ihram kena air kencing, berhasil dibasuh.
Askar yang melarang saya masuk Masjidil Haram berhasil di-negosiasi.
Kesempatan berhaji di 2025, membuat saya melakukan umrah pertama dalam hidup, meskipun penuh liku-liku.
***
Saya ada di pinggiran area thawaf atau mathaf, di Masjidil Haram.
Ka’bah berada di tengah-tengah jemaah yang melakukan thawaf, memutari Ka’bah.
Saya yang tertinggal sendiri gara-gara dilarang masuk oleh askar, berupaya mencari rombongan yang lebih dulu masuk ke Masjidil Haram.
Alhamdulillah, tak begitu lama saya berkumpul lagi dengan rombongan, dan bersama-sama melakukan tawaf.
Di sinilah keseruan itu dimulai.
Kami mulai ikut arus putaran jemaah, menuju titik sejajar dengan hajar aswad- yang ditandai lampu hijau di sisi kanan area masjidil Haram.
“Bismillahi Allahu Akbar!” kami berseru sambil mengangkat tangan kanan.
Rombongan mulai memutari Ka’bah.
Berada di tengah-tengah ribuan jamaah yang juga melakukan tawaf, seolah-olah masuk ke arus putaran energi yang luar biasa.
Doa-doa, puja-puji dan harapan yang diucapkan menjadi melodi yang mendengung.
***
Saya yang tidak hafal, mencoba membaca doa-doa haji yang tergantung di leher.
Percayalah, itu bukan hal yang mudah.
Berdesakan dengan jemaah haji yang lain, menciptakan goncangan, dan mustahil untuk membaca tulisannya.
Beberapa kali, saya nyaris ketinggalan rombongan.
Hingga akhirnya, saling desakan dengan jemaah dari berbagai negara itu juga yang membuat rombongan terbelah.
Saya, Mas Santoso (wartawan Antara) dan Mas Wawan (wartawan MetroTV) masih bersama, sementara yang lain entah di mana.
Bertiga, kami berusaha untuk tetap melanjutkan tawaf.
Mas Santoso paling fasih melantunkan doa. Mas Wawan pun sama.
Sementara saya, menjadi makmum.
“Kalau baca doa agak keras ya mas, saya ikuti doa sampeyan,” kata saya.
***
Airmata tak henti-henti mengalir.
Usai tawaf, kami lanjutkan dengan salat sunnah dua rakaat, kemudian sa’i, berlari-lari kecil sebanyak 7 kali dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah.
Lokasi sa’i masih berada di lingkungan Masjidil Haram.
Saya tetap meminta Mas Santoso membaca doa agak keras, biar bisa mengikuti bacaannya.
Usai menuntaskan putaran ke tujuh sa’i, kami bertiga tenggelam dalam rasa haru.
Lagi-lagi, airmata seolah tak berhenti mengalir
Tahalul atau memotong rambut, menutup ritual umrah kami.
Alhamdulillah.
Terima kasih mas Santoso dan mas Wawan.
(bersambung)
