Jakarta (iddaily.net) –Di tulisan pertama, rombongan kami akhirnya gagal terbang ke Arab Saudi untuk berhaji, karena Visa Haji Mujamalah (undangan) belum dikirim.
Setelah reschedule tiket untuk keesokan harinya, dini hari itu kami kembali ke rumah masing-masing.
Tidak dipungkiri, hati masih belum tenang.
Doa-doa mengalir di sela-sela tiduran sambil menunggu subuh.
“Kalau memang Kau panggil aku untuk berhaji, mudahkanlah,”
***
Saat terbangun untuk subuhan, grup Wasap mengabarkan berita baik: Visa Haji Mujamalah, sudah dikirim.
Alhamdulillah!
Singkat cerita, rombongan kembali berkumpul di Terminal 3 Soetta untuk check in dan menunggu penerbangan malam ke Jeddah, Arab Saudi.
Pesawat yang kami tumpangi, juga diisi oleh jemaah haji plus. Sebagian besar dari mereka sudah mengenakan kain ihram.
Ber-ihram di dalam pesawat, lebih memudahkan, ketika pesawat melintas di atas garis miqat (batas awal melakukan ibadah haji) wilayah perbukitan Yalamlam.
Sebagian jemaah, berganti ihram di Jeddah.
Pesawat kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz (JED) di Jeddah, Arab Saudi.
Saking terharunya, saya bersujud di apron, tempat pesawat menurunkan penumpang.
Bukan apa-apa, ini permintaan khusus dari Emakku.

***
Setelah semua bagasi lengkap diturunkan, kami bergegas ke pemeriksaan bea cukai (custom) yang dijaga petugas bandara Arab Saudi.
Karena merasa tidak membawa barang berbahaya dan ilegal, saya pun santai saja ketika diperiksa.
Apalagi, rombongan yang sebagian juga wartawan dari berbagai media, bisa dengan lancar melewati mesin X-ray.
Tiba giliran saya.
Kopor dan carrier memasuki mesin X-ray tanpa ada masalah.
Saat saya akan mengambilnya, tiba-tiba petugas memanggil dan meminta saya untuk menuju ke meja agak panjang.
Dengan berbahasa Inggris, saya diminta untuk membuka semua tas, dan menggelar isinya.
Saya melakukannya. Mungkin ini random check.
Baju dalam, kemeja, sandal, kain ihram, laptop, tripod, hingga kamera saya taruh di atas meja.
Petugas memperhatikan dengan seksama.
Eh, tiba-tiba dia meminta surat-surat.
“Apakah ini ada izinnya?” kira-kira itu pertanyaannya dalam bahasa Inggris.
Memang, ketika akan berangkat, Pemerintah Arab Saudi memang meminta kami melaporkan seluruh peralatan kerja.
Tapi tidak ada surat yang dikirim balik sebagai bukti atau tanda terima.
“Semua sudah saya laporkan ke pemerintah Arab Saudi. Saya tidak bawa kopiannya,” saya menjawab dengan bahasa Inggris juga.
Lagian, sebelum saya, sudah ada jurnalis lain (dengan bawaan yang hampir sama), juga diperiksa, lancar saja.
Giliran saya, eh, ditanya surat.
Petugas meminta saya memasukkan semua barang ke tas, dan mengajak saya ke kantor Custom.
“Ya ampun, apa lagi ini,..”
Gambarannya, mirip acara semi dokumenter di TV, ketika seseorang yang dicurigai akan diperiksa lebih jauh.
Kantor custom, memang tak jauh. Tapi deg degannya sangat terasa.
Masuk ke ruangan custom rasanya lebih dingin. Mungkin pengaruh keringat dingin yang mulai mengalir.
Saya diminta duduk di sebuah kursi.
Biasanya, untuk mencairkan keadaan, saya mengajak bicara petugas.
Tapi kali itu, berbeda. Saya tidak bisa berbahasa Arab dengan lancar.
Alamak!

Dengan berbahasa Inggris, saya minta izin menelepon liaison officer (LO) yang mendampingi kami.
Tak lama berselang, seorang laki-laki berpakaian thobe/thawb, keffiyeh merah dan agal datang masuk ke kantor.
“Rilex Iman,..rilex Iman,..” katanya, lanjut ngobrol dengan bahasa Arab dengan petugas bandara.
Tentu saya nggak tahu isi pembicaraan mereka.
Petugas bandara utak-utek komputer, dan sebuah kertas keluar dari mesin printer
Saya diminta menandatangani semacam surat (entah surat apa) bertuliskan Arab, tanpa tanda baca.
Ketika itu, salah satu kawan wartawan anggota rombongan juga datang, karena mendengar saya “ditangkap”.
“Okay, finish, let’s go,..” ajak mas LO.
Dengan tersenyum, saya keluar ruangan, sambil menyalami petugas Custom Arab Saudi.
Ada-ada saja,…
(bersambung)
