05 April 2011

Schiphol, Munir dan rokok kretek

Tidak ada yang istimewa pada perjalanan sekitar 15 jam dari Jakarta-Kuala Lumpur-Schiphol, Belanda. Namun nuansa sedikit berbeda ketika seorang petugas bandara di Negeri Tulip itu meminta Dji Sam Soe yang aku bawa. Bukan untuk disita, sekedar mengobati 'kangen' Indonesia.


Ada perasaan lega ketika pesawat KLM Royal Dutch Airlines yang kami tumpangi menyentuh landasan di Schiphol, Belanda, Selasa (5/4) pagi. Lelah dan bosan selama sekitar 15 jam perjalanan dari Jakarta-Kuala Lumpur dan Schipol, Belanda, terobati sudah. Apalagi ketika keluar dari badan pesawat, dan seketika disergap hawa dingin Belanda.

Seperti dejavu perjalanan tujuh bulan lalu. Saat saya dan kawan-kawan AJI mengunjungi Radio Netherlands Training Center (RNTC) untuk belajar new media. Perjalanan kali ini bareng Wicaksono, sang 'Ndoro Kakung', salah satu selebriti twitter Indonesia yang juga wartawan Tempo. Tidak ke Belanda, melainkan ke Jerman, untuk mengikuti Blogger Tour 2011 bersama perwakilan 13 negara lain.

"Masih ada satu penerbangan lagi," Ndoro Kakung berseloroh. Kami pun cekikikan. Memang, keceriaan tidak boleh hilang karena lelah akibat berjalanan panjang. "Kita cari tempat roken (rokok dalam bahasa Belanda) dulu," katanya. Aku setuju. Jadilah, dua wong ndeso asal Gresik dan Yogjakarta ini membaur dengan belasan pe-roken lain di smooking room, Schiphol.

Ingat Munir

Dua kali mengunjungi Schiphol, selalu teringat hal yang sama; kasus Munir. Di bandara inilah, jenazah Munir pertama kali mendarat, setelah belasan jam sebelumnya, Munir menahan sakit di perut karena arsenik, racun yang dimasukan ke tubuhnya mulai bekerja. Seorang dokter yang saat itu satu pesawat dengan Munir, gagal menolongnya.

Indonesia tersentak dengan kematian Munir. Presiden SBY yang berjanji untuk menuntaskan kasus ini pun gagal menjalankan amanahnya. Beberapa orang yang dicurigai tersangkut kasus ini tetap bebas sampai sekarang. Mengapa Munir dibunuh? Pertanyaan itu kembali menyergap pagi ini di Schiphol. Apakah sudah diincar sejak lama? Atau upaya menghalangi 'datangnya' surat persidangan pada Soeharto yang diisukan akan diambil Munir dari Belanda? Entahlah.

Minta Rokok

Usai 'ritual' pagi itu, kami menuju ke gerbang C14. Tempat KLM Schiphol-Tegel, Berlin 'parkir' untuk kami tunggangi. Gerbang paspor check, yang pertama kami temui. "Where you will going dude?" kata petugas imigrasi Schiphol. Dude? Sesaat, ingin kutonjok petugas yang tidak tahu hormat ini. Tapi, tentu saja, hal itu akan berakibat panjang.

Bukan hanya insiden diplomatik, karena WNI melakukan penyerangan di Belanda, melainkan hal lain yang lebih buruk: Aku pasti kalah bertengkar, karena badan petugas ini jauh lebih besar. Jadinya, aku memilih menjawab sekenanya. "Berlin,.. Blogger Tour bla-bla," jawabnya. "Is Blogger name of the company?" tanyanya. Please deh,.. Mau tak mau, kujelaskan agak panjang sampai dia mengerti.

Setelah petugas imigrasi, masuk ke pemeriksaan barang bawaan. Aku melirik dua orang Kenya di depanku yang melepaskan sepatu, sabuk, dompet dan semua barang yang diperlukan untuk ditaruh di keranjang dan dicheck melalui scan. Tiba giliranku. "Do I've to put of my shoes too?" tanyaku. "Iya, wah Dji Sam Soe juga,.." katanya dalam bahasa Indonesia.

Aku tersentak. Ndoro Kakung-pun tersenyum. "Orang Indonesia juga,.." kataku. "Mau?" aku menawarkan Dji Sam Soe. "Boleh,.." katanya. Aku tarik satu kotak rokok itu dari saku samping, dan kuberikan padanya. "Taruh saja di samping mesin itu," katanya. Aku tersenyum. "Terima kasih," katanya. Perjalanan berlanjut dengan tidur pulas di pesawat menuju Berlin. | Iman D. Nugroho

No comments:

Post a Comment

Program

Program