12 January 2010

Murid Jerman Gus Dur Melihat Gurunya,..

Iman D. Nugroho

Peran KH.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam hal pluralisme, memang tidak perlu diragukan lagi. Guru Ganesha Kurt adalah salah satu buktinya. Laki-laki asal Jerman ini adalah salah satu murid Gus Dur. "Meski saya tidak beragama, tapi Gus Dur tidak melihat saya berbeda, Gus Dur seperti lautan," kata Kurt.

Ruang tamu samping rumah KH. Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah, adik Gus Dur, di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur tampak sepi. Kebanyakan tamu memilih menunggu di ruang tamu depan, untuk bertemu dan mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Gus Dur, kepada Gus Sholah atau keluarga pesantren lain. Tapi di tempat 2x5 meter itulah, Guru Ganesha Kurt dan istrinya, Sayati, duduk.

"Tak banyak, yang bisa saya ucapkan, semuanya ada di dalam sini," kata Kurt sambil menunjuk ke arah dadanya. Siang itu, Kurt datang ke Tebuireng untuk mendoakan Gus Dur dalam tujuh hari peringatan meninggalnya mantan Presiden ke IV RI itu. Menurutnya, Doa saja tidak cukup untuk mengenang apa yang dilakukan Gus Dur padanya. "Gus Dur benar-benar telah mengubah hidup saya," kata Kurt.

Hubungan Kurt dan Gus Dur memang unik. Keduanya bertemu ada medio 2002. Ketika itu, dalam sebuah jamuan makan siang, Kurt satu meja dengan Gus Dur yang sudah tidak lagi menjadi Presiden RI. Obrolan santai siang itu penuh dengan petuah Gus Dur pada Kurt yang dikemas dalam banyolan-banyolan khas Gus Dur. "Tidak ada yang serius, semua petuah itu dikemas dalam obrolan santai dan lucu," kenangnya.

Tapi, justru hal itu mengena bagi Kurt. Terutama, bagaimana Gus Dur memahami pilihan Kurt untuk tidak memeluk satu agama apapun, tapi tetap percaya pada Tuhan. "Gus Dur sama sekali tidak membedakan agama, bahkan untuk saya yang tidak beragama sekali pun," kenang laki-laki pemilik situs www.forthingstochangeihavetochange.com ini. Sejak saat itu, hubungan keduanya pun semakin dekat.

Setiap minggu setidaknya, Kurt dan Gus Dur bertemu untuk makan siang. Bagi Kurt, pertemuan itu adalah mekanisme mengaji ilmu Gus Dur. Dalam dialognya, Kurt menyadari betapa Islam versi Gus Dur dalam sebuah perwujudan dari agama yang damai. "Tidak ada kemarahan, tidak ada caci-maki," katanya. Semua persoalan yang ada di Indonesia, selalu dipandang Gus Dur dengan begitu mudahnya. "Gus Dur seperti lautan, yang mampu menenggelamkan berbagai persoalan," kata Kurt sambil berkaca-kaca.

Termasuk ketika Kurt menyatakan akan menikahi istrinya, Sayati yang beragama Islam. Kurt yang kebingungan karena tidak diperkenankannya pernikahan orang tanpa agama di Indonesia, justru mendapatkan pembelaan dari Gus Dur. Mantan ketua PBNU itu mengatakan, secara legal memang tidak boleh, tapi esensi sah tidaknya pernikahan itu tidak hanya dilihat dari legalitas, melainkan dinilai Tuhan sendiri. “Akhirnya, kamu un menikah di Hong Kong, dan hebatnya, Gus Dur datang dalam resepsi pernikahan itu,” kenangnya.

Tidak hanya dalam sikap dan pendapat, Kurt juga melihat Gus Dur memiliki kekuatan di luar nalar yang luar biasa. Dalam beberapa kunjungan ke berbagai daerah bersama Gus Dur, Kurt menjadi saksi akan hal itu. Salah satunya di Surabaya. Ketika itu, massa yang sudah menyemut menyambut Gus Dur, mulai berbuat keributan. "Gus Dur meminta mereka diam, dan entah mengapa, massa pun diam," katanya.

Karena itu jugalah, Kurt pada awalnya tidak mempercayai, Gus Dur meninggal dunia. Karena Kurt percaya, Gus Dur mampu mengontrol tubuhnya. "Saya percaya akan hal itu," katanya. Salah satu buktinya, Gus Dur berkali-kali bisa selamat dari cobaan stroke yang berulang kali menyerangnya. Hebatnya, Gus Dur tidak pernah berhenti berkarya, di sela-sela kondisi yang serba sulit itu.

Bahkan, ketika berbagai persoalan menghadangnya, termasuk persoalan politik di partai yang didirikannya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Dur tetap saja meladeninya. Tanpa merasa lemah dan teguh pada pendiriannya. “Tapi, yang banyak orang tidak tahu adalah cara pandang Gus Dur yang ternyata tidak menjadikan semua persoalan itu sebagai hal yang serius, dia hamper pasti memiliki jawaban atas semua hal,” kenang Kurt.

Indonesia, kata Kurt, seharusnya sangat bangga dengan Gus Dur, dan selalu bisa belajar pada nilai-nilai yang dimiliki tokoh yang meninggal ada 30 Desember 2009 itu. Sayangnya, justru yang terjadi tidak demikian. Banyak orang tetap meributkan tentang usulan penganugerahan Pahlawan Nasional. “Jangan Cuma hal itunya, tapi bagaimana meneruskan cita-cita besar dan pikiran Gus Dur,itu yang lebih penting,” kata Kurt. Meskipun Kurt yakin, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Gus Dur di Indonesia. “No one can replace him,” kata laki-laki yang memilih tinggal di Bali ini.

Kurt sendiri, memilih untuk terus mengajarkan setitik ilmu yang sudah diberikan Gus Dur kepadanya. “Semoga ilmu itu bisa bermanfaat, dan membuat Gus Dur tetap hidup di Indonesia, dan tidak pernah mati,” katanya. Mendung memayungi ponpes Tebuireng, saat obrolan dengan Kurt berakhir. Gus Dur memang tidak pernah mati, Kurt,..

No comments:

Post a Comment

Program

Program