18 January 2010

Allah, Bukan Milikmu

Rusdi Mathari

Maka kini cukuplah untuk mengatakan tidak kepada mereka yang mengaku penganut “monoteis” (Yahudi, Kristen atau Muslim) –yang tidak mencegah mereka jatuh ke dalam penyembahan berhala— untuk merasa paling berhak menyebut Allah.

LALU siapa sebetulnya Allah dan milik siapa Dia? Di Malaysia –dan mungkin juga di tempat lain dan di sini— orang-orang yang marah itu kemudian merasa paling memiliki dan paling berhak menyebut “Allah.” Mereka menganggap tak satu manusia pun yang tidak memiliki pandangan keimanan yang sama dengan mereka, layak dan pantas menyebut “Allah.” “Allah” adalah milik mereka, kendati mereka juga tidak paham, siapa Allah dan mengapa harus disebut “Allah.”

Tentu saja, itu bukan sekadar klaim melainkan sebuah kesalahpahaman besar manusia karena apa yang kemudian disebut sebagai “Allah” –oleh terutama orang-orang Islam— sebetulnya hanya istilah yang juga dibuat manusia untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Karena berbagai alasan, banyak orang kemudian percaya bahwa orang-orang Islam menyembah Allah yang berbeda dari Allah orang-orang Kristen dan Yahudi. Sebuah anggapan yang sebetulnya sama sekali keliru, karena sesungguhnya tidak ada keraguan, seorang Muslim sebetulnya menyembah Allah yang disembah Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, dan Yesus (salam untuk mereka semua).

Bahwa orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam kemudian memiliki konsep yang berbeda tentang Allah, itu benar adanya. Umat Islam –seperti halnya Yahudi- misalnya, menolak kepercayaan Trinitas dan Inkarnasi Ilahi dari ajaran Kristen. Akan tetapi, itu tak berarti masing-masing penganut dari tiga agama itu menyembah Tuhan yang berbeda – karena Allah hanya satu. Yudaisme, Kristen dan Islam mengklaim sebagai “Agama Ibarahim” (Abrahamic Faith) dan mereka semua juga diklasifikasikan sebagai “monoteistik.”

Realitasnya memang ada beberapa orang yang sejauh ini selalu ingin membuat orang percaya bahwa “Allah” adalah sebutan untuk para “dewa” orang Arab (baca: The Moon-god Allah in the Archeology of the Middle East) dan Islam benar-benar sesuatu yang “lain” -yang tidak memiliki akar umum dengan agama-agama Ibrahim lainnya yaitu Kristen dan Yahudi. Argumen semacam itu menggelikan karena menganggap umat Islam menyembah “Allah” yang berbeda —karena mereka mengatakan “Allah”— adalah sama tidak logisnya dengan pendapat yang mengatakan orang-orang Prancis menyembah Allah yang lain karena mereka menggunakan kata “Dieu,” orang-orang berbahasa Spanyol juga menyembah Allah yang berbeda karena mereka berkata “Dios” atau mereka yang berbahasa Ibrani menyembah Allah yang tidak sama karena mereka kadang-kadang memanggil Allah dengan sebutan “Yahweh.”

Sebagian orang akan mengatakan, soal “Allah” itu bukan sekadar soal logika. Namun mereka yang mengklaim setiap satu bahasa hanya menggunakan kata yang benar untuk menyebut Allah, sama artinya dengan menyangkal universalitas pesan Tuhan kepada umat manusia –untuk segala bangsa dan suku dan orang-orang melalui berbagai nabi yang berbicara bahasa yang berbeda.

Hanya sedikit orang yang paham, soal Allah itu sebetulnya adalah kata yang sama dalam bahasa Arab yang digunakan orang-orang Kristen dan Yahudi untuk menyebut Allah. Bukalah Alkitab (Injil) berbahasa Arab, maka di sana akan tertera kata “Allah” digunakan seperti halnya “Allah” digunakan dalam bahasa Inggris: “Allah” adalah kata dalam bahasa Arab dan sama dengan kata dalam bahasa Inggris “God” dengan huruf “G.” Kata “Allah” itu pun bahkan tidak dapat dibuat jamak.

Allah dalam Bahasa
Lihatlah kata “El” dalam bahasa Aram yang adalah kata untuk Tuhan ketika Yesus berbicara niscaya lebih mirip pengucapannya dengan kata “Allah” dibandingkan dari kata “God” dalam bahasa Inggris. Itu pula berlaku untuk berbagai macam kata untuk menyebut Tuhan dalam bahasa Ibrani: “El” dan “elah,” atau “Elohim” (dimuliakan) itu. Alasan kesamaan itu karena baik Aram, Ibrani dan Arab adalah bahasa-bahasa yang berasal-usul sama: bahasa Semit.

Lalu dalam bahasa Arab, kata “Allah” pada dasarnya sama dengan kata “ilah” yang artinya Tuhan dan karena itu makna dari kata “Allah” adalah juga sama dengan makna dari kata “ilah.” Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya. Dalam bahasa Arab, kata “ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (bersifat umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat, sementara kata “Allah” adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.

Ucapan seperti “ya Ilahi” atau “ya Allah” juga menunjukkan, tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “ilah” kecuali yang satu ("Allah") digunakan hanya untuk makna khusus, dan yang lain (“ilah”) lebih bersifat umum. Dalam buku Tauhid dan Syirik, Syrekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat karena berasal dari satu akar kata yang sama.

Kalau kemudian ada kekhususan makna dari kata “Allah” seperti yang sejauh ini disebut oleh kaum Muslim, tak lain karena kebiasaan orang-orang Arab yang selalu menggunakan lafal “al ilah.” Penambahan kata “al” pada “ilah” itu dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Di buku Majma’ul Bayan Jilid 9, Al Thabarsi menerangkan, huruf “i” pada “al ilah” kemudian menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari sehingga “al ilah” diucapkan sebagai “Allah.”

Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul penyebutan nama “Allah juga diungkapkan Thabarsi dalam buku yang sama Jilid 1. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (pakar gramatikal tentang asal-usul lafal “Allah”) Thabarsi menjelaskan perubahan dari “ilah” menjadi “Allah” disebabkan penisbian huruf hamzah di atas huruf “i” (alif) sehingga menjadi al ma’rifah, yang tak bisa dipisahkan. Maka ketika menyebut “ya Allah” pengucapannya bukan “yallah” melainkan “ya Allah.” Seandainya tidak ada huruf hamzah dalam kata aslinya, menurut Thabarsi niscaya pengucapan hamzah tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.

Tentang Allah yang berasal dari kata “ilah” dengan menghilangkan huruf hamzah dan menggantinya dengan kata “al” juga dijelaskan oleh Ar Raghib di buku Al Mufradat. Nama tersebut dikhususkan bagi nama Allah sebagai Wajibul Wujud atau zat mutlak yang wajib ada.

Bisa dimengerti karena itu jika para ahli tauhid lalu memaknai “Allah” dan “ilah” sebagai makna yang satu yaitu Tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir, dalam kalimat tauhid “laa ilaha illallah” kata “ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah) dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar). Maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah secara benar (hak) kecuali Allah.”

Maka kini cukuplah untuk mengatakan tidak kepada mereka yang mengaku penganut “monoteis” (Yahudi, Kristen atau Muslim) –yang tidak mencegah mereka jatuh ke dalam penyembahan berhala— untuk merasa paling berhak menyebut Allah. Tidakkah banyak orang termasuk beberapa Muslim, yang mengklaim percaya kepada “Satu Tuhan” tapi mereka terjerembap ke lubang syirik?

Lihatlah pula, tidak sedikit orang Protestan yang menuduh pengikut Katolik Roma yang memercayai orang-orang kudus dan Perawan Maria— sebagai bidah dan menyembah berhala. Juga Gereja Ortodoks Yunani yang selalu dianggap menyembah “berhala” oleh banyak orang Kristen lain karena menggunakan banyak ikon dalam ibadah mereka. Padahal ketika seorang Katolik Roma atau Ortodoks Yunani diminta mengakui Allah adalah “Satu” niscaya mereka akan selalu menjawab “Ya.”

Sungguh dengan semua nama dan sebutan “Allah” itu, manusia tak lalu bisa mengetahui hakikat Allah, kecuali hanya sedikit orang. Karena nama-nama, istilah atau apa pun julukan yang ditujukan untuk Allah hanyalah salah satu cara untuk mengenal (kekuasaan) Allah. Di balik semua nama dan istilah, Allah adalah Allah dan hanya Allah yang tahu akan Allah. Lalu mengapa orang-orang itu marah dan merusak gereja, hanya karena merasa paling memiliki dan merasa paling berhak menyebut “Allah?”


No comments:

Post a Comment

Program

Program