26 November 2009

Naik Bemo di Manhattan, Very Nice,..

Maya Mandley

Sejak sekolah, aku lebih senang naik angkutan umum kalo mau kemana-mana. Waktu sekolah di Jakarta dulu, metro mini atau angkot jadi kendaraan andalanku. Makanya aku selalu tahu route kendaraan umum itu dan memang aku pelajari secara khusus tanpa lupa untuk selalu bertanya.

Waktu kuliah di Surabaya juga begitu. Angkot yang di Surabaya dikenal dengan sebutan lyn atau bemo (bukan bemo roda tiga seperti di Jakarta), adalah ‘teman’ setia yang membawaku kemana-mana. Sampek malu rasanya sama teman sekampus yang hampir semuanya mengendarai sepeda motor. Soalnya saat itu aku satu-satunya mahasiswa yang gak bisa naik sepeda motor.

Hehehhehe……. Sampek-sampek pernah ada teman yang nyeletuk ,"Anak Jakarta kok gak bisa naik sepeda motor?" Mau diapain lagi, wong di Jakarta aku lebih senang naik angkutan umum kok ! Ada kejadian yang bikin sedih saat aku masih kuliah. Waktu itu aku dan teman akrabku Iping akan ke kampus. Menjelang dekat kampus, Iping menabrak becak. Dia sempat terluka kakinya.

Aku sedih banget ! Soalnya aku gak bisa mengendarai sepeda motor itu sampek ke kampus. Terpaksa Iping yang saat itu kakinya agak terluka, mengendari sepeda motor yang kami beri nama ‘pret..pret’ (karena sudah terlalu tua dan bunyinya memang pret..pret… hehehhee). Selama kuliah, aku dikenal sebagai mahasiswa spesial ‘nunut’ alias nebeng. Maklum untuk ngirit, aku sering cari nunutan dari teman-teman yang punya sepeda motor dan searah denganku.

Malah aku sering sekali berbonceng bertiga. Kalo lagi bonceng bertiga, aku selalu ditempatkan di tengah karena teman-temanku gak tega ngeliat aku yang kurus dan kecil ini harus duduk di belakang. Kata mereka takut tertiup angin.

Seiring dengan waktu, aku akhirnya mau belajar naik sepeda motor. Tapi karena saat itu di rumah cuma ada 1 sepeda motor dan aku harus berbagi dengan my siblings, aku selalu mengalah. Jadilah aku lebih dulu belajar mengendarai mobil butut ayah yang memang lebih banyak nganggur di rumah.

Saat awal-awal bekerja di Radio Mercury yang letaknya jauh dari rumah, aku lebih banyak mengendarai van ayah. Tapi karena aku rasa tak efektif, akhirnya aku lebih memilih mengendarai sepeda motor karena jadwal kerjaku yang sangat pagi. Sehingga siang saat pulang sepeda motor bisa dipakai adikku yang lain. Sampai akhirnya aku diberi sepeda motor dinas dari boss. Jadilah sepeda motor kendaraan favoritku sampai aku meninggalkan Surabaya dan mengais "$" di negeri Pak Obama ini.

Dealing With Time

Di Tristate tempat aku tinggal maupun bekerja, ternyata angkutan umum alias mass transit, tetap jadi teman setiaku. Cuma bedanya, mass transit disini terbilang bagus, rapi dan yang paling penting, tepat waktu. Untuk berangkat bekerja, aku harus naik 2 kali angkutan umum dan taksi umum. Mula-mula kereta komuter selama 1 jam, kemudian nyambung dengan kereta kommuter lagi selama 45 menit dari stasiun dimana aku sampek, dan taksi di tempat tujuan.

Kalo dibilang, untuk berangkat kerja, aku butuh kira-kira 2-3 jam perjalanan, dengan jarak sekitar 100 KM (Surabaya-Malang). Selain ketepatan waktu, fasilitas di kendaraan umum yang semuanya dikelola swasta ini tergolong bagus. Jok tempat duduk yang rapi dan dilapisi busa yang tanpa sobekan. Untuk bis komuter yang berjarak antara 1-2 jam perjalanan, kondisinya mirip dengan bis malam eksekutif Jakarta-Surabaya. Dan tak pernah ada yang namanya isi bensin di jalan. Jadi penumpang bisa memperkirakan waktu perjalanan.

Tentu saja tanpa mengenyampingkan hal-hal yang terjadi di jalan. Seperti adanya kecelakaan di jalan yang bikin macet atau keadaan alam lain tergantung musimnya. Saat beroperasi, bis ini hanya di-awaki supir saja. Si calon penumpang tinggal menyerahkan tiket yang sudah dibeli di tempat pembelian tiket, atau bayar langsung sesuai jarak. Dan semua transaksi ini, tercatat di mesin khusus yang ada di samping supir.

Untuk kereta komuter, beroperasi sesuai dengan jam-jam sibuk. Jalannya pun ada yang ekspres atau berhenti di setiap stasiun. Saat jam sibuk, jumlah kereta ditingkatkan dan ada yang ekspress. Sementara saat bukan jam sibuk atau hari libur, jumlah kereta yang beroperasi tak terlalu banyak dan biasanya tak ada yang ekspress. Tentu saja keadaan ini mempengaruhi harga tiket yang dijual.

Aku punya pengalaman menarik soal kereta kommuter ini. Karena butuh waktu sekitar 2 setengah jam setiap hari selasa bagiku untuk sampai di tempat kerja, aku selalu naik kereta pagi sekali. Jadwal kereta komuter yang pertama aku naiki jam 4.30 pagi. Supaya tidak ketinggalan kereta, aku selalu bangun jam 3.45. Butuh waktu 1 jam setengah untuk sampai ke stasiun terakhir untuk selanjutnya naik kereta komuter lanjutan. Hal ini sudah aku lakukan selama lebih dari 2 tahun.

Waktu satu setengah jam itu selalu aku manfaatkan untuk balik tidur. Sekitar bulan April lalu, mungkin karena aku terlalu lelah, aku tak tahu kalo aku dah sampai di stasiun.Biasanya selama 1 setengah jam itu, aku selalu terbangun di tengah perjalanan. Tapi gak tahu kenapa, pagi itu aku betul-betul terlelap. Aku sempat merasakan seperti kursiku ada yang menggoyang. Tapi waktu itu aku kira penumpang di belakang yang iseng. Karena hal itu sering terjadi terutama kalo anak-anak. Jadi waktu goyangan itu aku rasakan, aku cuek aja dan tetap terlelap.

Namun gak lama kemudian aku merasakan goyangan lagi sekaligus teriakan, Hey we are here !!! Aku baru sadar kalo itu adalah teriakan si kondektur. Sontak aku langsung bangkit dan lari menuju pintu. Namun tinggal 1 pintu saja yang dibuka. Pintu untuk para kondektur keluar. Dua kondektur yang tinggal itu, balik teriak, hey, right here !!! Waduh !! Betul-betul malu rasanya. Untung aku kalo tidur gak ngorok dan paling penting, gak Ngileran. LOL !!! What an experience !!! (Tuesday 4/28/09 I will never forget that day !)

Memang tak bisa dibandingkan antara keadaan angkutan umum di negaraku tercinta Indonesia dengan negara yang menganggap negara terkuat di dunia ini. Tapi tak ada salahnya kalo kita belajar bagaimana negara ini sangat menjunjung tinggi yang namanya layanan kepada masyarakatnya. Karena menurut mereka semakin masyarakat terlayani, semakin maju pula negara. Prinsip inilah yang menurutku rasanya bisa kita ikuti.

Meski harus diakui semuanya makan waktu. Karena Amerikia sudah mendeklarasikan kemerdekaannya jaaauuuhhh lebih dulu dari Indonesia, tapi itu bukan alasan untuk meniru yang baik untuk kemajuan negara kita.

*foto by mccullagh.org

2 comments:

  1. knp sih harus niru negara amrik truz....

    ReplyDelete
  2. Nova Imoet, thx commentnya,..itu bukan karena meniru AS, tapi bagaimana kita belajar dari semua tempat. Kalau dari China (tempat yang merupakan "musuh" AS) ada yang bagus, kita juga bisa belajar dari mereka,..

    ReplyDelete

Program

Program