06 September 2009

Aroma Busuk di Kasus Century

Iman D. Nugroho

Coba search di internet soal kasus Bank Century. Bisa dipastikan segebok data tentang kasus itu akan dengan cepat anda dapatkan. Tapi, apa yang kemudian bisa "diendus" dari kasus itu? Apakah hanya persoalan perbankan biasa, atau berindikasi lebih besar? Mengapa Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai marah-marah dan menuduh Menteri Keuangan Sri Mulyani berbohong?


Dalam melihat kasus Bank Century, saya tiba-tiba teringat lagu Matta Band berjudul Ketahuan. "O,.o,..kamu ketahuan,.." tulis Matta Band dalam liriknya. Bagi saya, memang seperti itu adanya. Permainan perbankan yang rumit dan dimainkan oleh beberapa orang yang berbau uang, akhirnya keendus lantasan ada "lompatan" yang keliru. Ingat, "sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga".

Bank Century yang megap-megap dan akhirnya ditolong oleh Bank Indonesia, tidak membuat pengelola Bank Century untuk menjadi "anak baik". Grup Head Jakarta Network Bank Mandiri yang sempat ditunjuk sebagai Direktur Utama Bank Century, Maryono, juga tidak bisa berbuat banyak. Dalam perkembangannya, Bank Century pun kembali memperoleh bantuan pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) senilai Rp.6,7 trilyun.

Kata Menteri Keuangan Sri Mulyani, dirinya sudah melaporkan pengucuran dana itu kepada Wakil Presiden Yusuf Kalla. Tapi, buru-buru Calon Presiden kalah ini menolak keterangan itu. Bahkan meminta kasus Bank Century segera diusut. Wah, dua anggota kabinet Susilo Bambang Yudhoyono sedang saling sanggah menyangkut kucuran dana pada Bank Century.

Reaksi Jusuf Kalla ini, bagi saya menarik. Bagaimana seorang Wakil Presiden tiba-tiba membantah apa yang dikatakan Menteri Keuangannya! Kalau tidak ada persoalan serius, tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Bagi Jusuf Kalla, Kabinet Indonesia Bersatu di bawah SBY, selangkah lagi sudah menjadi masa lalu. Dan masa lalu itu, harus dilalui dengan jejak yang tidak kotor. Atas semangat itulah, di JK ini ingin menaruh kasus Bank Century on the right track.

Sebagai seorang pebisnis, JK tentu saja tahu hitam putih dunia perbankan. JK yang sudah melangmelintang di dunia bisnis juga dengan mudah menilai, di mana celah yang bisa dimainkan seorang pebisnis. Kalau perlu, bagaimana permainan perbankan itu bisa berimplikasi, tidak hanya menghasilkan benefit untuk pelakunya, mungkin juga untuk orang-orang yang ada di dalam kelompok itu.

Sementara Sri Mulyani, menurut saya, sedang sial saja. Sosok kelahiran Bandar Lampung 1962 ini tidak piawai bertricky politics. Memang sih, tidak ada background politik sama sekali padanya. Sosok yang dikenal sebagai pengamat ekonomi ini memang "tenggelam" dalam berbagai aktivitas ekonomi nasional. Mulai Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) hingga akhirnya dipilih sebagai Menteri Keuangan oleh SBY. Kirahnya menghasilkan penghargaan Menteri Keuangan terbaik Asia 2006 oleh Emerging Markets dan julukan Wanita Berpengaruh oleh Bank Dunia dan IMF.

Weleh-weleh,..mengapa kemudian Mbak Sri ini berbuat "keliru" di mata JK? Apakah perempuan berparas menarik ini tidak mengerti permainan perbankan yang sedang terjadi di Bank Century? Are you kidding me! Coba tarik sedikit ke atas sudut pandang kita, akan sedikit terlihat berbagai keanehan. Saya sepakat dengan urusan Adhie M. Massardi yang meminta adanya audit di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Memang harus diaudit! Coba tanya JK, saya yakin dia setuju. Iya kan pak?

*Teks foto: Wakil Presiden Terpilih Boediono menyalami Direktur Utama Bank Century, Maryono. Photo dok internet.

1 comment:

  1. Anonymous1:58 pm

    Namanya juga permainan... pasti ada yang dimainkan dan pemainnya.... Yang dimainkan apa? Trus pemainnya siapa? Memang susah klo berhubungan dengan orang2 pemerintahan. Seperti berhubungan dengan para PNS. PNS=Orang2 yang tidak dapat cari uang selain digaji dari negara dan korupsi uang negara.

    ReplyDelete