13 August 2009

Di Ujung Sakaratul Maut

Senja Madinah

Aku berjalan. Terus berjalan ke arah barat. Menjauhi terbitnya matahari. Menyusuri aliran sungai yang kini tak menyisakan setetespun air untuk ku, juga istriku. Padahal, kami sangat membutuhkannya. Hanya demi melepas rasa haus yang mencekik tenggorokan, sedari kemarin. Perjalanan kami semakin berat karena istriku sedang sakit. Sebuah peluru tajam tersarang di salah satu kakinya. Ulah para pemburu yang sering masuk rumah kami dan mengganggu ketentraman. Menghadirkan ketakutan, mencekam. Beruntung saat itu, istriku menemukan tempat persembunyian yang tak terjamah oleh predator yang lebih buas daripada raja hutan itu.


“Suamiku, berjalanlah terus. Tinggalkan aku di sini,” Aku tertegun mendengar ucapan istriku. Suaranya bergetar, menahan sakit. Saat aku menoleh ke arahnya, wajahnya juga semakin pucat. Mungkin karena luka yang belum mengering dan justru membusuk.

“Tidak sayang, aku akan menunggumu. Kita akan menemukan sumber air bersama,” Jawabku menenangkan. Aku memperlambat langkahku. Menjejerinya.

Kami kembali berjalan. Beriringan. Perlahan… sementara, matahari semakin tinggi. Meskipun kami telah berjalan sejak subuh tadi, kami belum menemukan setetes air pun. Juga makanan yang semakin sulit kami dapatkan, saat memasuki musim kemarau seperti saat ini.

Perjalanan kami semakin terasa berat saat matahari memasuki 60 derajat dari arah timur. Kulit kami yang legam semakin mempercepat pembakaran kalori dalam tubuh kami. Keringat menetes satu persatu.

Dalam perjalanan yang berat ini, kami bahkan tak lagi bisa membedakan hutan atau ladang. Sebab rumah kami, pohon kami, akar-akar penyimpan air kami, terenggut oleh para pembalak liar, pelaku illegal logging atau juga perambah. Hutan kami gundul. Kami bahkan harus hanyut terbawa air bah saat musim hujan. Sementara di musim kering seperti ini, kami harus mencari air hingga jauh, di perbatasan hutan dan perkampungan.

Tuhan, apa yang kau sisakan pada kami? Kami bahkan tak pernah mengganggu kehidupan mereka. Tetapi, secara fisik kami di buru. Hanya demi sebuah kata perkasa. Rumah kami juga tergusur oleh mesin-mesin censo yang berdering setiap hari, sungguh memekakkan telinga.

“Suamiku, aku tak kuat lagi. Tahukah kau bahwa aku sedang hamil? Dalam perutku ini, ada anak kita. Kalau saja aku dalam kondisi yang lebih baik, mungkin aku masih sanggup mendampingimu,” Suara istriku semakin bergetar menahan rasa sakit.

“Tidak sayang, justru karena kau dalam kondisi hamil, aku akan terus mendampingimu. Kau sedang mengandung keturunanku. Calon pemimpin kelompok kita. Tenanglah, aku akan bersamamu, tak akan meninggalkanmu,” Aku bersikeras. Ia menggeleng.

“Tidak suamiku, berjalanlah terus, tinggalkan diriku. Aku berjanji akan baik-baik saja di sini. Aku hanya akan beristirahat sambil mengobati luka di kakiku. Sementara kau, carilah aliran air. Jika kau menemukannya, minumlah sepuasnya, dan kau akan menjemputku di sini,” Erangnya, tertahan. Ia menghentikan langkah.

Di tengah rasa sakit yang kurasa sangat menyiksanya, ia tetap menjadi oase bagiku. Yang menyejukkan jiwaku. Karena itulah aku tak banyak kawin dengan perempuan lain. Karena ia memang begitu memmesona. Perempuan yang tegar. Aku teringat persaingan dengan sejumlah pejantan yang juga menginginkannya di kelompok kami. Tetapi, ia memilihku. Entah mengapa, mungkin karena aku anak dari pimpinan kelompok kami. Atau mungkin juga karena alasan lain. Aku tak tahu. Sebab yang ku tahu, ayahku sendiri sangat marah, karena sikapku yang dipandang terlalu lunak. Tidak mau kawin dengan banyak betina, sebagaimana tradisi kelompok kami, agar bisa menjadi pemimpin, selain karena kekuatan dan keturunan.

Tidak, ku kira, memang bening, sebening embun. Sebab, jika ia hanya memilihku karena statusku yang lebih tinggi, pasti ia tidak bersamaku kini. Ketika mahkota pemimpin jatuh pada adikku. Ketika aku mengalah, atau kalah jika kau menganggapku berdalih, dalam sebuah pertaruan penentuan pemimpin kelompok. Ia tetap bersamaku, menemaniku, saat koloni kami mengusirku, sebuah tradisi belantara, ketika tak bisa menjadi yang terbaik.

Ya, perjalanan kami kali ini, adalah sebuah pelarian. Untuk menemukan atau membuat koloni baru. Ah, aku tak peduli. Yang ku tahu, sejak bertemu dengannya, aku telah berikrar menjaga kelaminku hanya untuknya. Menjaga hatiku, juga untuknya. Akan menjaga anak-anak yang dilahirkannya, bersama,…

“Tidak sayang, kau ada di sini, karena aku. Menemani kesendirianku yang telah diusir koloni kita. Karena itu, jangan pernah memintaku meninggalkanmu, karena aku tak kan pernah melakukannya,” Aku terus berkeras sambil bersusah payah menahan air mata yang telah membuncah di ujung mataku.

“Ayolah, suamiku, kita akan mati sia-sia jika tetap berdua seperti saat ini. Seharusnya kita tidak saling membebani, bukan? Kita akan saling menguatkan. Karena itu, jika kau menemukan aliran air, kabari aku segera. Dan tinggalkanlah jejak di setiap langkahmu. Jika kondisiku membaik aku akan menyusulmu,” Suaranya istriku tampak lebih tenang dari sebelumnya. Aku memandangnya, air mataku hampir meluncur bebas.

“Tidak suamiku, kau tak boleh menangis. Karena cinta kita akan saling menguatkan. Tidak melemahkan,” Ucapannya justru membuat air mataku benar-benar luruh di pipiku. Aku melangkah ragu, setelah sebelumnya mencium keningnya. Dan berjalan menjauh.

Kembali ku susuri aliran sungai yang telah kering ini. menuju ke arah barat. Sedikit berbelok 30 derajat ke kanan. Sementara matahari terus meninggi, hampir di atas kepala. Lambaian dedaunan rumpun bambu dan jerit suara angin dari gesekan batangnya tak membuat gerahku hilang. Sementara, batu-batu kali yang juga menyimpan bara karena ditimpa terik matahari langsung, semakin menyakiti kakiku.

Setelah sekitar 2 jam aku berjalan sendiri, aku menemukan gemericik air di sela-sela hamparan batu yang tak tertata rapi. Aku berteriak girang. Saat air itu mulai menggenangi kakiku yang penuh debu. Sambil membasahi kerongkonganku dengan air tadi, aku terus berjalan mencari air lebih banyak lagi. Aku hanya ingin merendam badanku yang terbakar terik ini sejenak.

“Banteng, banteng,…” Teriakan manusia dari samping kanan mengagetkan ku yang sedang mandi. Seketika aku terkesiap. Tuhan, rupanya aku terlalu jauh berjalan. Sungai ini batas wilayah milik manusia.

Seketika aku panik. Pikiranku semakin kacau. Saat melihat jumlah manusia semakin bertambah banyak dari arah depan dan kananku. Sambil berpikir keras, aku berlari tergesa ke arah kiri. Tapi, gerombolan predator itu semakin banyak dan berteriak-teriak memekakan telinga.

“Tolong jangan sakiti aku, aku hanya menumpang minum dan mandi,” Rintihku, meminta pengertian mereka. Tetapi, kerumunan yang mungkin tak mengerti bahasaku itu justru semakin berteriak, “Banteng, Banteng,…”

Aku terjepit. Aku tak mungkin menyerang mereka, karena jumlah yang sangat banyak. Ratusan, atau entah ratusan. Mereka bahkan memegang beberapa benda yang dilemparkan ke arahku. Beberapa malah berusaha menghalauku dengan kayu. Beberapa yang lain memegang senjata api, senjata yang sama yang membuat kaki istriku terluka.

“Tolong maafkan aku, aku tak sengaja memasuki wilayah kalian,” Teriakku berusaha meminta pengertian mereka. Tapi mereka malah menghalauku dan semakin mendekat padaku. Aku tak merasakan hawa persahabatan dari mereka. Bahkan

“Tolong biarkan aku pergi, istriku sedang sakit di sana. Aku tak ingin mengganggu kalian. Aku bahkan tak akan membuat perhitungan dengan kalian yang telah melukai istriku. Tolong biarkan kami hidup tenang,” Ucapku semakin tak karuan. Bahkan lengkingan terakhirku yang disertai dengan oktaf tinggi semakin membuat kerumunan manusia itu panik. Ku lihat seseorang yang memegang senjata berusaha mengarahkan moncongnya ke arahku. Dadaku semakin berdegub. Aku tak punya pilihan lain. Dengan mengumpulkan semua sisa-sisa kekuatan yang ku punya, aku berlari sekencang mungkin, menuju ke arah pemuda yang memegang senjata api tadi. Aku hanya berharap ia panic dan berlari menjauhiku. Hup! Berhasil. Ia lari pontang panting, saat aku berusaha menyeruduk mereka.

“Tidak, tidak seperti ini yang aku ingin. Aku hanya ingin bebas, kembali ke hutan. Menemani detik-detik kematian bersama istriku yang sedang sakit,” Rintihku, tetap tak mereka pahami.

Aku kehilangan banyak kalori. Kehilangan banyak energi. Diantara keletihan dan keputusasaan yang mendera, Aku menutup mata dengan pasrah pada nasib, sebelum akhirnya ku lihat secercah harapan. Aku berlari sekencang mungkin ke arah kiri. Menerobos pagar bambu. Ku harap ini tempat yang aman,…

Tapi Tuhan, aku salah. Aku justru terperangkap. Bau khas daun tembakau menyengat hidungku. Semakin membuatku pusing. Tuhan, apakah yang kan terjadi selanjutnya? Aku teringat istriku yang ku tinggalkan sendiri di hutan. Pikirku semakin kacau saat ku ingat kondisinya yang sedang mengandung. Juga luka di kakinya. Istriku, apa kabarmu, kini?

Aku semakin panik saat ku rasa hari semakin gelap. Sementara, mereka, species menusia itu semakin banyak, berkerumun dan beregombol. Beberapa orang ada yang berpakaian serupa. Entah apa yang dilakukannya, tetapi, ia menghalau manusia lain yang sedari tadi membuatku takut. Yang sedari tadi menyorongkan benda silau ke arahku.

Aku semakin tak tenang ketika dua pintu gerbang besar gudang tempatku terperangkap ditutup. Gelap yang biasa memyergapku di hutan, tak seperti d ruang dua puluh kali sepuluh meter ini. Tak ada bintang yang biasa kulihat bersama istriku, sesaat sebelum kami bercinta. Tak ada bayang pohon yang ditimpa cahaya bulan dan bergoyang-goyang diterpa angin seperti tampuk hatiku yang birahi kala itu. Tapi aku tak punya pilihan lain, selain menunggu dengan pasrah pada takdir sang Khalik atas umurku.

“Selamat malam, istriku.Semoga mimpi indah menyertaimu,…” gumamku dalam hati, sambil menutup mata.

No comments:

Post a Comment

Program

Program