28 August 2009

Agar Tidak Ada Lagi Klaim Budaya

Iman D. Nugroho

Sengketa yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, belakangan ini, di mata saya adalah sesuatu yang "menjijikkan". Bagaimana tidak, sebuah negara bertetangga, tiba-tiba meributkan sebuah produk kebudayaan. Malaysia berlagak pilon. Indonesia ragu-ragu untuk bersikap tegas.


Di sela-sela diskusi tentang terorisme, mengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menyentil secuil opininya tentang kasus klaim Tari Pendet, Bali oleh Malaysia. "Kalau pendapat saya agak berbeda, kasus itu membuat saya teringat kisah wayang. Apakah Indonesia bisa mengklaim cerita wayang sebagai asli Indonesia, padahal ceritanya dari India?" tanya Ikrar Nusa Bhakti.

Saat mendengat Ikrar berbicara, tiba-tiba muncul pertanyaan besar; Yang mana dari produk budaya Indonesia yang benar-benar asli Indonesia? Bukankah bangsa-bangsa di seluruh dunia saling mempengaruhi satu sama lain dalam kebudayaan? Jangan-jangan, ini hanya persoalan ekonomi semata?

Coba kita jawab satu persatu pertanyaan-pertanyaan itu. Yang mana yang asli Indonesia? Bila kita mengacu pada tinjauan sosiologis tentang budaya, maka budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat dan turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Di dalamnya mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain. Selain itu, ada sisi intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat (wikipedia).

Dari penjelasan itu, sudah beranikah kita mengklaim apa yang terjadi belakangan ini adalah sengketa "budaya asli Indonesia"? Wayang misalnya. Wayang memang sudah ada dan turun temurun diperkenalkan. Tapi, bila ditinjau dari sisi content pewayangan, hal itu tidak bisa dilepaskan dari agama Hindu dari India. Bila, kita sebut wayang adalah budaya Indonesia? Lalu kita kemanakan content Hindu India yang ada dalam cerita wayang itu?

Nah, ketika produk kebudayaan menjadi komoditi untuk "dijual", sebut saja sebagai komoditi pariwisata, itu baru menjadi persoalan. Karena, di dalamnya bukan lagi berbicara soal produk budi dan akal manusia, melainkan sudah merambah persoalan berapa banyak modal yang kita keluarkan, bagaimana performa produk budaya itu, dan apakah bisa diterima pasar atau tidak. Di sinilah kemungkinan titik singgung yang begitu keras dalam persoalan klaim tari Pendet, Bali oleh Malaysia.

Bukan begitu?

No comments:

Post a Comment

Program

Program