09 March 2009

Gunung Semeru Masih Berstatus Siaga, Penduduk Diminta Menjauh Dari Puncak

Hingga Senin (9/3) ini, Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur masih berstatus Siaga. Meski tidak menunjukkan aktivitas berarti, tapi gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih sering mengeluarkan suara keras. Setiap malam, penduduk yang tinggal di lereng Gunung Semeru mendengar dentuman dari puncak gunung dan diikuti dengan gempa kecil (Lindu-JAWA). "Setiap malam masih terdengar suara dari atas gunung, setelah itu ada lindu," kata Diana Anindia, penduduk di Desa Pronojiwo, Lumajang.



Gunung Semeru kembali menjadi pembicaraan setelah Jumat(6/3) lalu gunung setinggi 3676 m dpl itu mengeluarkan suara keras, setelah sebelumnya menurun aktivitasnya. Sejak saat itu, status Gunung Semeru yang awalnya Waspada berubah menjadi Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat sebelum terjadinya suara keras itu, ada 873 kejadian gempa letusan dengan kisaran 34 kejadian perhari. Plus, 3 gempa guguran, 18 kali Gempa Tremor Vulkanik. Pada Jumat pukul 00:10:28 WIB, terdengar dentuman keras hingga pukul 03:15:57 WIB. "Tidak teramati keluarnya material karena tertutup kabut," kata Suparno, Ketua Pos Pengamatan Gunung Sawur.

Sehari setelahnya, kegiatan letusan abu juga mengalami penurunan drastis serta jarangnya terlihat asap. Meski belum diikuti luncuran awan panas yang dapat mengancam keselamatan jiwa, namun demikian dampak bahaya tumpukan material abu letusan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Puncak Gunung Semeru dapat menimbulkan ancaman bahaya lahar di musim penghujan yang masih berlangsung saat ini. "Masyarakat diminta untuk itu tidak beraktivitas sejauh 4 Km de kawah aktif, apalagi mendaki," kata Suparno.

Karakter umum letusan Gunung Semeru adalah letusan abu diikuti semburan lava pijar, dan pertumbuhan kubah. Bila hal itu terjadi, wilayah yang berpotensi terkena ancaman material vulkanik baik awan panas maupun lahar adalah Dusun Rowo Baung dan Dusun Supit yang termasuk wilayah Desa Pronojiwo. Juga Dusun Urip di Desa Sumber Urip, Dusun Kamar A dan Dusun Umbulan di Desa Supit Urang. Dua dusun lain, yaitu Dusun Rowo Baung dan Dusun Supit merupakan dusun yang terdekat dengan pusat letusan yang berlokasi ± 9 km dari puncak Gunung Semeru.

Sungai - sungai yang harus di waspadai karena ancaman awan panas maupun lahar yaitu Sungai Besuk Bang, Sungai Besuk Kobokan dan Sungai Besuk Kembar. Potensi ancaman tersebut semakin tinggi oleh keberadaan aktifitas penambangan pasir Gung Semeru di Dusun Supit dan Dusun Rowo Baung. Dalam pengamatan The Jakarta Post, proses penambangan pasir di lereng Gunung Semeru masih terus berlangsung. Sutrisno, salah satu penambang mengatakan, kalau Gunung Semeru benar-benar meletus, maka penambang tetap masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. "Tetap mencari pasir seperti biasa, karena memang masih aman,"kata Sutrisno.

Karena banyaknya daerah berbahaya yang dipersiapkan, Minggu ini, Wakil Satlak Lumajang, Imam Suparno melakukan koordinasi dengan pihak Pos Pemantauan Gunung Sawur. Imam juga mengunjungi beberapa desa yang dekat dengan saluran lahar Gunung Semeru. "Perlunya koordinasi untuk mengetahui lebih jauh apa yang terjadi di lapangan, sekaligus melakukan persiapan-persiapan pasca letusan keras Gunung Semeru," kata Imam Supardi.

Imam mengatakan, berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan, sementara ini kondisi masyarakat di desa-desa lereng Gunung Semeru dan kondisi kondusif. Namun, Imam menyarankan kepada masyarakat untuk tetap waspada dan tidak panik. "Kalau memang benar ada letugas, jangan panik, ikuti saja arahan dari petugas yang ada di lokasi. Masyarakat juga jangan apatis dengan tanda-tanda alam dan tanda-tanda yang disepakati, seperti kentongan dan sirine," kata Imam yang juga Komandan Komando Daerah Militer 0821 Lumajang ini.

Pemerintah Lumajang pun tidak tinggal diam. Setidaknya, pemerintah sudah menyiapkan 50.000 masker untuk warga yang tinggal di sekitar lereng Gunung Semeru bila letusan Gunung Semeru benar-benar terjadi. Selain itu, beberapa tempat evakuasi, seperti balai desa, puskesmas yang ada di desa aman terdekat juga sudah disiapkan. Penduduk Desa Pronojiwo misalnya, memiliki kawasan aman di Desa Tempursari, Kabupaten Malang. | Iman D. Nugroho, Lumajang

No comments:

Post a Comment