19 January 2009

Wayang Potehi, Pertunjukan Penuh Arti

Photo by Iman D. Nugroho

Agamawan di Klenteng Dukuh, Surabaya menggelar doa menjelang Imlek 2009 dan hari di mana Budha dan Dewa-Dewi naik ke nirwana, Minggu (19/1). Dalam acara itu digelar pula pertunjukan Wayang Potehi.


Baginda Lie Sie Bin, Raja dari Kerajaan Tai Tong Tiauw kelihatan gelisah pagi itu. Salah satu kerajaan di bawah kekuasaannya, Kerajaan So Pak memutuskan untuk memperluas wilayah kerajaannya dengan membangun kota baru. Lie Sie Bin yang merasa terancam, memutuskan untuk menyerang kerajaan So Pak. Perang besar pun tidak terhindarkan dipimpin oleh Panglima Cu Pi Lun.

Penggalan cerita di jaman raja-raja China atau Tiongkok itu kembali hadir dalam pagelaran Wayang Potehi di Klenteng Hong Tek Hian atau Klenteng Dukuh, Surabaya, belum lama ini. Cerita itu mengiringi sembayangan menjelang Imlek 2009 (tahun China 2560), sekaligus dimainkan bersamaan dengan naiknya Budha dan Dewa-Dewi ke nirwana.

Wayang Potehi atau Poo Tay Hie adalah salah satu ciri khas Klenteng Dukuh. Di klenteng yang terletak di daerah Surabaya Timur dan berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang) ini dimainkan setiap hari dalam tiga kali jam pertunjukan. "Pertunjukan dimulai jam 09.00, 13.00 dan jam 18.00, agar semua warga klenteng bisa menikmati kisah-kisah yang ada di dalam wayang itu," kata Edy Sutrisno, salah satu pemain wayang potehi.

Tidak ada bukti sejarah secara pasti, kapan kesenian Wayang Potehi ini diciptakan pertama kali. Ada yang bilang, kesenian ini sudah berdiri pada 3.000 tahun lalu di massa Dinasti Tiu Ong. Saat itu, ada empat orang tahanan hukuman mati yang membuat alunan musik dari berbagai peralatan bekas.

Hebatnya, Kaisar Tiu Ong yang mendengar alunan musik itu justru terhibur dan membebaskan mereka dari segala hukuman. Perkiraan lain, Wayang potehi ini ada pertama kali saat Dinasti Jin berkuasa pada abad ke 3-5 Masehi dan berkembang pada Dinasti Song di abad 10-13 M.

Sekitar tiga abad kemudian, saat orang tionghoa datang pertama kali ke Indonesia, Wayang Potehi pun mulai dikenal. Dan sejak saat itu, wayang yang secara fisik mirip wayang golek Jawa Barat namun memiliki kaki wayang itu dimainkan di klenteng-klenteng di Indonesia. Mulai cerita klasik dinasti-dinasti China, hingga cerita-cerita populer namun penuh makna, seperti Kera Sakti.

Peralatan yang digunakan pun tidak lagi peralatan bekas, melainkan alat musik china seperti gembreng, rebab, gwik gim, suling hingga simbal. Bahasa yang digunakan pun mengalami perubahan. Bila awalnya hanya berbahasa hokkian, sejak dimainkan di Indonesia, Wayang Potehi pun berbahasa Indonesia.

Sayang, meskipun banyak peminat, perkembangan Wayang Potehi sempat terhambat saat VOC Belanda melarang pagelaran seni China di Indonesia. Begitu juga saat Pemerintahan Soeharto juga ikut melarang kesenian China. Beruntung, semua berakhir saat KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI. Gus Dur kembali membuka ruang pada kesenian China. Wayang potehi pun kembali banyak dikenal. Termasuk Wayang Potehi Klenteng Dukuh

Mujiono,48 dalang Wayang Potehi Klenteng Dukuh menceritakan, dirinya sudah mulai bergelut dengan Wayang Potehi saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Saat itu, Mujiono diajak Wardi, sang paman, untuk memainkan wayang. "Ada wanita asli Hokian yang pengurus Klenteng Dukuh yang menjadi guru saya," kenang Mujiono.

Untuk memperkuat karakter tokoh Wayang Potehi, Mujiono rajin membaca buku-buku sejarah China yang dimiliki klenteng. Kini, setelah puluhan tahun menggeluti Wayang Potehi, pria kelahiran Surabaya 48 tahun lalu itu pun hafal sejarah China di luar kepala. "Tapi tetap saja, banyak tokoh-tokoh China yang sulit diperankan, seperti Gia Ko Bin yang memiliki karakter tidak tua, tidak muda, tidak jahat, juga tidak baik," katanya.

Meski demikian, Mujiono mengaku menikmati dunia Wayang Potehi. Terutama bila dia dan kelima anggota kelompoknya bisa menghibur orang-orang keturunan China yang ingin menikmati Wayang Potehi. "Sudah tidak terhitung serapa kali saya ke luar kota untuk memainkan Wayang Potehi, senang rasanya melihat mereka menikmati pertunjukan saya," kata Mujiono yang mematok harga Rp.5 juta untuk sekali main ini.

No comments:

Post a Comment

Program

Program