15 September 2008

Tragedi Zakat Pasuruan, Melukai Semangat Ramadhan

Artikel Opini Iman D. Nugroho
Photo by AP/Trisnadi via yahoonews

Tragedi meninggalnya 21 orang fakir miskin dalam peristiwa bagi-bagi zakat di Pasuruan Jawa Timur, Senin (15/09/08) ini melukai semangat Bulan Suci Ramadhan. Peristiwa itu sekaligus menjadi ukuran adanya kemiskinan dan kebodohan yang berpadu dengan semangat yang "keliru" dari si kaya kepada si miskin.


Tawa dan bahagia yang seharusnya mewarnai pelaksanaan bagi-bagi zakat di Pasuruan, Senin ini, berubah menjadi isak tangis dan ratapan. Sejumlah 21 orang fakir miskin yang hadir bersama lima ribuan fakir miskin lain di tempat itu, meninggal secara mengenaskan. Mereka terinjak-injak massa yang menyemut, memperebutkan uang Rp.30 ribu yang dibagikan Haji Saichon, salah satu orang kaya di kota itu.

Bulan Ramadhan tergetar. Bulan yang dipenuhi oleh berbagai berkah dan rahmat bagi umat Islam ini, tertoreh cacatan mengerikan. Sekali lagi, aktivitas bagi-bagi zakat menjadi arena yang membahayakan. Dalam tayangan televisi terlihat, ibu-ibu tua merintih karena dadanya sesak terdesak kerumunan. Anak-anak kecil di gendongan, dievakuasi, dan diselamatkan dari balik pagar. Teriakan ketakutan pun menjadi atmosfir di sela-sela perut yang terlilit lapar beserta kerongkongan yang kerontang.

Si miskin teraniaya. Bukan teraniaya oleh kondisi yang semakin menjepit, tapi juga teraniaya oleh proses bagi-bagi zakat, sebagai solusi "sehari" keluar dari kemiskinan. Tidak terbiasanya masyakat mengantri, menjadi bumerang. Jalan sempit di depan rumah Haji Saichon menjadi samudera ribuan orang. Mereka berebut kesempatan memasuki pintu selebar satu meter, menuju lokasi pembagian zakat.

Mengapa bagi-bagi zakat berubah petaka? Tidak rumit menjelaskannya. Di mata saya, semua berawal dari (maaf, meski bukan ahlinya) semangat beragama yang keliru. Zakat memang harus dibagikan, persoalan "cara" yang kemudian menjadi penyebab tragedi ini. Untuk apa mengumpulkan massa hanya untuk membagi zakat? Mengapa harus ada tradisi (kalau boleh disebut begitu) memberikan uang atau sembako dengan cara massal?

Lagi-lagi, tidak rumit menjelaskannya. Namun semua menjadi "luka", ketika kemiskinan dan kebodohan yang berpadu dengan semangat yang "keliru" dari si kaya kepada si miskin telah menciptakan tragedi. Sekali lagi, 21 orang meregang nyawa karena PROSES PEMBAGIAN zakat keliru. KELIRU!

2 comments:

  1. walau bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada h. syaikhon dan para korban. karena, dg peristiwa yg menimpa mereka inilah, kita semakin tersadarkan akan pentingnya zakat dilakukan dg ikhlas dan profesional... :)

    ReplyDelete
  2. Wanda Jogjakarta10:34 am

    Sorry bos, kalau saya boleh memilih, saya akan memilih untuk mendapatkan "kesadaran" tanpa ada nyawa yang melayang.

    ReplyDelete

Program

Program