05 May 2008

Wisata Berbahaya di Kubah Lava

Iman D. Nugroho

Ribuan ton batu yang menyembul di puncak Gunung Kelud itu masih terus mengeluarkan asap putih. Di sekitar bebatuan "segar" dari perut bumi itu, bau belerang sesekali menyengat. Menyesakkan dada siapa pun yang menghirupnya. Meski begitu, fenomena alam itu juga yang menjadi magnet wisatawan untuk datang. Menyaksikan kubah lava di wilayah berbahaya.


Tikungan terakhir sebelum tangga menurun menuju danau kawah Gunung Kelud, hampir pasti menjadi tempat pengunjung wisata alam Gunung Kelud berhenti sejenak. Di tempat inilah, kubah lava baru gunung setinggi 1731 di atas permukaan laut (Dpl) itu mulai terlihat. Menjulang ke atas, hampir sejajar dengan puncak-puncak lain yang ada di sekitarnya.

Kemunculan kubah lava Gunung Kelud terjadi akhir Oktober lalu. Ketika itu, Gunung yang berada di tiba kabupaten di Jawa Timur ini, Kediri, Blitar dan Malang tiba-tiba mengalami peningkatan aktivitas. Gempa tektonik dan tremor sahut menyahut. Air danau kawah yang biasanya tenang, pun ketika itu bagai mendidih. Gelembung-gelembung udara menari di permukaannya.

Masyarakat yang tinggal di desa lereng gunung pun diungsikan. Ada yang panik mencari tempat yang aman, ada pula bertahan di kediamannya, karena percaya tanda-tanda alam belum menunjukkan Gunung Kelud akan meletus. Apapun itu, saat itu pihak vulkanologi menyatakan jarak aman di areal gunung adalah di luar diameter 10 Km dari puncak gunung.

Waktu juga yang membuktikan. Red light vulkanolog benar terbukti. Peningkatan aktivitas adalah awal dari erupsi evosif atau keluarnya material dari dalam perut bumi secara berlahan-lahan. "Ada dua jenis ledakan, erupsi eksplosif atau terdorongnya material ke udara, dan erupsi evosif atau terdorongnya material ke permukaan bumi dengan pelan, yang terjadi di Gunung Kelud tahun 2008 adalah erupsi evosif," kata Choirul Huda, kepala Pos Pemantauan Gunung Kelud pada The Jakarta Post.

Dalam sejarahnya, Gunung Kelud sudah meletus sembilan kali mengalami peningkatan status. Letusan pertama yang tercatat terjadi antara pada tahun 1000-1864. Jumlah korban yang paling banyak terjadi pada 20 Mei 1919 dengan korban meninggal berjumlah sekitar 5160 jiwa. Dan pada 24 April 1956, korban meninggal berjumlah 210 jiwa. Letusan tahun 1990 membuat 34 orang berkalang tanah.

Selama delapan bulan erupsi evosif membuat danau kawah yang terbentuk di tahun 1920 di puncak Gunung Kelud lenyap. Digantikan gundukan material dari perut bumi setinggi 250 meter dari dasar danau. Material yang keluar itu adalah batu-batuan padat bercampur berbagai mineral dan gas alam. Hassium (Hs) adalah has paling berbahaya yang sering keluar, setelah itu baru Sulfur atau belerang (S).

Berbahayakah Gunung Kelud sekarang? "Berbahaya," kata Choirul Huda, kepala Pos Pemantauan Gunung Kelud pada The Jakarta Post. Tingkatan berbahaya yang paling utama kata Choirul adalah gas yang kemungkinan akan keluar dari dalam perut bumi. "Hassium adalah gas berbahaya, seperti gas yang lain, bisa terhirup manusia bisa menyebabkan kematian," katanya.

Gas jenis ini memiliki berat jenis lebih tinggi dari oksigen (O2). Karenanya, Hassium selalu berada paling tinggi 1 M di atas tanah, dan cenderung mengalir ke lembah atau tempat yang lebih rendah. "Karena itulah, sangat berbahaya bila ada anak kecil atau orang yang memiliki tinggi kurang dari 1 meter di sekitar lokasi," kata Choirul.

Hal lain yang tidak kalah berbahayanya adalah runtuhan kubah lava atau tanah di sekitar kubah lava. Reruntuhan yang juga membawa material batu bervolume besar itu, bisa membawa celaka. "Karena alasan itulah, volkanologi meminta Dinas Pariwisata untuk menutup areal wisata Gunung Kelud," kata Choirul.

Bentuk dari penutupan itu adalah dipasangnya pagar besi dan kawat berduri setinggi 2,5 M di jalan masuk 1 Km sebelum kawasan puncak gunung. Setiap harinya, pagar berwarna cokelat itu digembok. Siapapun, kecuali petugas, tidak diperkenankan masuk ke lokasi puncak Gunung Kelud. "Semua demi keamanan, jarak 1 Km kami anggap cukup aman, angin dan sinar matahari bisa menyapu gas pada jarak itu," kata Choirul.

Sejak adanya pagar, jumlah wisatawan menurun drastis. Toko sauvenir dan penjual makanan di gerbang pendakian pun tutup karena tidak boleh lagi berjualan dengan alasan keamanan. Sebagian memilih membuka usaha di tempat lain, sebagian lagi membuka warung sederhana di samping pagar pembatas. "Karena di sana (lokasi gerbang pendakian) tidak boleh berjualan, saya dan empat teman lain membuka warung di sini saja," kata perempuan penjual makanan yang akrab dipanggil Bu Tomo ini.

Ironisnya, status "waspada" dengan berbagai kemungkinan membahayakan yang dilekatkan pada Gunung Kelud tidak membuat tempat wisata alam itu berhenti berdetak. "Siapapun tidak boleh ke puncak Kelud, tapi kalau mau naik terus ke puncaknya, bisa lewat jalan itu," kata tukang parkir dadakan yang membuka usahanya tepat di samping pagar pembatas, Minggu (04/05/08).

"Jalan" yang dimaksud adalah tangga tanah seluas sekitar 50 Cm yang sengaja dibuat di sisi kanan pagar. Tangga tanah dengan batang-batang Ketela Pohon sebagai pegangannya itu menuju ke balik pagar, dan langsung berlanjut ke jalan utama menuju ke tempat wisata puncak Gunung Kelud. Dari pagar menuju ke gerbang pendakian berjarak sekitar 800 meter.

Setelah itu dilanjutkan dengan menelusuri terowongan yang dibuat membelah salah satu puncak Gunung Kelud. Meski sambil menggerutu mencaci maki pagar pembatas, melalui "jalan" itu juga pengunjung mendekat ke arah kubah lava. Yang menarik, saat The Post mengunjungi tempat itu mendapati pagar pembatas itu tidak benar-benar "tidak bisa dibuka,".

Sebuah mobil berplat merah yang penuh oleh penumpang berbagai usia, melenggang begitu sana melalui pagar pembatas. Setelah seorang penjaga membukakan pintu tentunya. Begitu juga dengan mobil patroli polisi yang siang itu ditumpangi oleh sebuah keluarga.

Kislan salah satu pengunjung Gunung Kelud yang Minggu ini datang bersama anak laki-lakinya. Lurah di sebuah desa wilayah Kabupaten Jombang Jawa Timur ini mengaku datang karena diajak Medi Kresno Utomo, 10, anaknya. Kislan mengatakan, dirinya sama sekali tidak mempertimbangkan kondisi Gunung Kelud yang berbahaya.

"Anak saya saja tidak takut, saya juga tidak takut," katanya. Mislan dan Medi mengaku sudah mendekat ke kubah lava. Kislan tidak sendirian. Dalam pengamatan The Post, beberapa pengunjung yang sudah berkeluarga, selalu mengajak serta anak-anaknya. "Nggak takut kok, cuma ingin tahu saja," kata seorang laki-laki sambil berlalu. Dia datang bersama istri dan dua anaknya yang masih berumur 3 tahun.

Tidak sedikit di antara pengunjung yang nekat mendekat, menuruni anak tangga sejauh 200-an meter, hingga berjarak beberapa meter ke kubah lava. Pengunjung yang masih berpikir tentang keselamatan, berhenti di ujung tangga, dan menyaksikan kubah lava itu dari lokasi itu. Meskipun ujung tangga juga bukan jarak yang aman.

Choirul Huda, kepala Pos Pemantauan Gunung Kelud hanya bisa mengelus dada ketika diriya mengetahui prilaku pengunjung Gunung Kelud yang nekat menerobos pagar pembatas. Choirul becerita, tidak sedikit orang yang muntah-muntah karena menghirup zat berbahaya yang keluar dari perut bumi di puncak Gunung Kelud. "Kami kan cuma mengingatkan, kalau ada apa-apa kami tidak bertanggungjawab lagi," katanya.

No comments:

Post a Comment

Program

Program