Professional News Blog

25 February 2008
Mengeksplorasi Kejujuran Suku Samin Dalam Bingkai Foto
Iman D. Nugroho

Foto berukuran 16 R dengan bingkai hitam itu menarik perhatian. Apalagi dengan gambar Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah berukuran besar. Apa menariknya sebuah KTP? Bila diamati, kolom agama dalam KTP itu tidak terisi alias kosong. "Karena memang agama kami tidak ada di daftar lima agama yang diakui pemerintah," kata Gun Retno di Surabaya, Senin (25/02/08) ini.

----------------------------

Pameran foto dengan tema kehidupan Suku Samin, digelar di Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL) Surabaya, Selasa (26/02/08) hingga Selasa (11/03/08) mendatang. Dalam pameran itu, disuguhkan sisi-sisi kehidupan Suku Samin yang selama ini kurang dikenal oleh masyarakat luas. Kalau toh tahu, masyarakat hanya mengenal stereotipe suku Samin, yang malas dan sulit diajak maju.

Stereotipe itu bawaan dari strategi perlawanan Samin Surantiko, salah satu tokoh masyarakat di daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Saat Belanda berkuasa di Tanah Jawa, Samin Surantiko melakukan perlawanan dengan membangkang. Tokoh berpawakan kurus ini menolak apapun yang diperintahkan Belanda.

Perlawanan itu diikuti oleh masyarakat sekitar Pati, Blora, Kudus dan Bojonegoro. Konon, dengan kemampuan berlogika, masyarakat daerah setempat memiliki strategi untuk membangkang Belanda. Kebiasaan itu terbawa hingga saat ini. Hingga lahirlah stereotipe Suku Samin sebagai komunitas masyarakat yang tidak bisa diajak maju, karena selalu membangkang.

Fotografer asal Surabaya yang juga alumni Universitas Kristen Petra, Peter Dwiyanto gerah dengan hal itu. Berawal dari tugas akhir mantan mahasiswa jurusan Komunikasi Visual ini, Peter memilih suku minoritas sebagai tema. Suku yang dimaksud, adalah Suku Samin. "Saya tinggal di Pati, Kudus dan Blora selama satu bulan untuk mengenal mereka," kata Peter.

Hidup bersama Suku Samin seperti memporak-porandakan stereotipe tentang suku itu. Peter menemukan, suku yang kerap memakai baju hitam dengan penutup kepala batik khas Jawa Tengah itu adalah suku yang menjunjung tinggi kejujuran. Seperti yang termuat dalam 20 Anger-Anger Pratikel atau 20 pantangan suku yang juga disebur Sedulur Sirep itu.

Ke-20 Anger-Anger Pratikel itu adalah drengki (dengki), srei (iri hati), panasten (gampang marah), colong (mencuri), petil (kikir), jumput (ambil sedikit), nemu (menemukan), dagang (berdagang), kulak (kulakan), mblantik (calo), mbakul (berjualan), nganakno duit (rentenir), mbjuk (berbohong), apus (bersiasat), akal (trik), krenah (nasehat buruk) dan ngampungi pernah (tidak membalas budi). "Intinya adalah jujur antara perbuatan dan kelakuan," kata Peter.

Anger-anger Pratikel itulah yang membuat Peter merasa hidup di tengah-tengah Suku Samin sebagai pengalaman tidak terlupakan. Semua hal di kehidupan Suku Samin bersandar pada kejujuran. "Pernah ada peristiwa seorang sedulur lain (sebutan untuk orang di luar Suku Samin) yang uangnya tertinggal di tahun 1980-an, hingga saat ini uangnya masih disimpan," kenang Peter.

Gun Retno, salah satu warga Suku Samin yang hadir di CCCL Surabaya menjelaskan, bagi Sedulur Sirep, kejujuran pitutur (perkataan) dan prilaku (kelakuan), benar-benar dijaga. Apa yang dikatakan, itu juga yang dilakukan. Juga sebaliknya. Kalau dinilai tidak mampu melakukan, warga Suku Samin tidak akan mengatakannya. Karena kebiasan itu, Suku Samin menjadi sosok yang "aneh".

Bapak empat anak itu misalnya. Hingga saat ini, dirinya masih enggan menggunakan bahasa Indonesia. Karena dia menilai, tidak ahli dalam hal itu. "Saya lebih memilih menggunakan bahasa Jawa, karena bahasa ini yang Saya bisa dan saya mengerti, kalau menggunakan bahasa Indonesia, Saya takut salah," katanya dalam bahasa Jawa.

Petani yang gemar menggunakan pakaian hitam-hitam itu menjelaskan, pilihan itu tidak berarti menolak semua hal baru yang diperkenalkan di Suku Samin. Seperti teknologi baru. "Di desa Kami juga ada televisi, ada traktor pembajak sawah dan barang-barang modern lain, tapi semua digunakan seperlunya, tidak perlu berlebihan," katanya, masih dengan bahasa Jawa.

Juga dalam persoalan menuntut ilmu. Warga Suku Samin memilih untuk mengajari anak-anak soal hidup dan kehidupan, hanya dari pengalaman kedua orang tuanya. Anak laki-laki diajari menjadi petani oleh sang ayah, sementara anak perempuan, diajari memasak oleh sang ibu. "Baca tulis tidak termasuk yang diajarkan, tapi kalau anak-anak ingin belajar, bisa belajar dari teman-temannya," katanya. Sikap itu yang membuat warga Suku Samin kebanyakan hanya berpendidikan Sekolah Dasar (SD). Setelah itu, turun ke sawah sebagai petani.

Keteguhan Suku Samin menjaga tradisi kejujuran juga membuat masyarakat Suku Samin merasa "gerah" dengan hadirnya Kartu Tanda Penduduk (KTP). Apalagi di dalamnya berisi beberapa hal yang menurut warga Suku Samin tidak mereka lakukan. Seperti hal agama. Suku Samin menilai agama sebagai jalan hidup.

"Kalau kita mengaku Islam, Kristen atau agama lain, kita harus hidup dengan cara agama itu, nah, agama kita bukan Islam, Kristen atau yang lain, bagaimana?" katanya. Karena itulah, Suku Samin yang beragama Adam, menolak menuliskan nama agama yang "ditawarkan", dan memilih untuk mengosongi kolom itu. "Tapi sepertinya, sekarang tidak bisa lagi, karena kolom agama itu harus diisi, haha,.." katanya.

Labels:

posted by iddaily[dot]net @ Monday, February 25, 2008  
0 Comments:

Post a Comment

<< Home
 

English Version
News Index 10
Think Sport
Jojo Raharjo
Seandainya pertarungan Tyson dan Holyfield digelar di Stadion Manahan Solo atau di Lapangan Simpang Lima Semarang dan disaksikan Kapolda Jateng Alex Bambang Riatmodjo, bisa jadi, Mike Tyson segera menjalani proses verbal di polsek terdekat.
Kumpulan informasi tentang tentang Wolrd Cup 2010 Afrika Selatan. Plus, panduan bagi penggila bola yang gemar mengadu nasib tebak skor.
Atmosphere
Syarief Wadja Bae
Kubaca lagi tulisanmu. Kemudian aku simpulkan, sebenarnya jalan kita sama, hanya saja cara kita beda dalam memahami rambu-rambu.
My Family
Balgis Muhyidin
Mungkin judul tulisan ini, Nasibmu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) seolah olah menyatakan bahwa saya tidak berpihak kepada mereka.
Photo Corner
Fully Syafi
Keindahan dan kemewahan sel Artalita Suryani atau Ayin di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, membuat saya ingin menyuguhkan "keindahan" sel yang sebenarnya.
Book For Good
Lasmi berhasil. Warga tersadar akan pentingnya organisasi buruh tani dan petani penggarap. Mereka ingin memperoleh bagi hasil secara adil dengan pemilik tanah,..
Monthly Index
Column
Atmosfir | Atmosphere
Resensi Buku | Book for Good
Pojok Foto | Photo Corner
Nol Kilometer | Zero Km
Keluargaku | My Family
Olah Raga | Think Sport
Wallpaper | Wallpaper
Galeri Foto | Photo Gallery
Theme
Bencana | Disaster
Budaya | Culture
Central Borneo
Cerita Pendek | Short Story
Hukum | Law
Jambi Sumatera
Jurnalistik | Jurnalism
Kabar Dari Seberang
Kesehatan | Health
Lingkungan Hidup | Environment
Luar Negeri | Oversea
Olah Raga | Sport
Opini | Opinion
Pendidikan | Education
Politik | Politic
Sosial | Social
Timor Barat | West Timor
Profile
Blog Profile
Advertisement
Code of Ethic
Twitter: @iddaily
Facebook: Iddailys Book
Tamu Negara
kado_obama
Special Column
Badai ini tak kalah heboh dari badai yang terjadi dua pekan sebelumnya.
imn_fixer_us_gerak
Download
Want to know about Indonesia? Please see this movie.
Focus
Organisasi lingkungan Internasional, Greenpeace mencatat beberapa poin penting yang dikatakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Copenhagen.
Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi terlibat kasus Bank Century?
iklanblog_gerak
Netter Said
"Selamat Ultah untuk Iddaily.net. Menurutku, perlu pembenahan untuk mengenalkan IDDAILY pada publik agar lebih tahu lebih luas. Salut pada citizen jurnalismnya. Lain kali Aku masukin tulisan di sini dan harus dimuat! Hehe,.."
Nurdiyana Munir | Surabaya
Comment Please

ShoutMix chat widget

counter
Dewan Redaksi
Iman Dwianto Nugroho, Jojo Raharjo, Fully Syafi, Balgis Muhyidin, Agung Purwantara, Diana Sasa, Syarief Wadja Bae.
Penulis Special: Maya Mandley (Kabar Dari Seberang), Senja Madinah (Cerita Pendek)
Email: iddaily@yahoo.com
Phone: +62.81.6544.3718
Redaksi menerima kiriman berita, foto dan press release melalui iddaily@yahoo.com.
BCA Bank | no.610006740 | Mandiri Bank | 1420005410716 | an. Iman D. Nugroho