08 October 2006

Penderitaan Korban Lumpur Belum Berakhir

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Menjalankan ritual puasa di bulan Ramadhan 2006, bisa jadi merupakan hal tidak terlupakan bagi keluarga korban lumpur panas Lapindo. Bukan hanya karena sebagian besar korban lumpur panas Lapindo harus rela menjalankan ritual puasa di kegalauan akibat rusaknya rumah, tanah dan harta benda mereka karena lumpur panas, tapi sekaligus tidak adanya kepastian atas masa depan mereka. Hal itu diungkapkan keluarga Boiman dan keluarga Tohajir pada The Jakarta Post.

"Puasa tahun ini kami lakukan dengan kesederhanaan, semua habis setelah lumpur panas menenggelamkan semua yang saya punya," kata Boiman, 32, Minggu (08/10) ini pada The Post. Boiman adalah salah satu warga Porong, Sidoarjo yang menjadi korban luapan lumpur panas Lapindo. Sebelum peristiwa ini terjadi, Boiman tinggal di rumah petak di Desa Kedungbendo, 1 KM dari sumber luapan lumpur. Di tempat itu, ia tinggal bersama istrinya, Sumani, 41.

"Memang tempat yang kami punya tidak besar, hanya sebuah kamar petak berukuran 4x4 meter, tapi di sanalah kami membangun keluarga," katanya. Setiap hari, Boiman berdagang bakso keliling kampung. Sementara istrinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Perumahan Tanggul Angin Sejahtera (TAS), 2 KM dari desanya. "Peristiwa itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba, lumpur menggenangi desa kami, termasuk gerobak bakso yang saya punyai," katanya mengenang peristiwa yang terjadi tiga bulan lalu.

Selama dua bulan, Boiman dan Sumani menjadi pengungsi di Balai Desa Jatirejo, Sidoarjo. Meski ada kemarahan atas peristiwa itu, Boiman termasuk korban lumpur panas yang terpaksa menerima sejumlah uang kompensasi dari Lapindo sebesar Rp.3 juta. "Uang itu tidak seberapa dibandingkan apa yang sudah saya bangun selama ini," jelasnya. Dalam kondisi normal, keluarga Boiman bisa mengumpulkan uang rata-rata Rp.800 ribu/bulannya, Rp.450 ribu dari berdagang bakso dan RP.350 ribu dari gaji istrinya sebagai pembantu rumah tangga. Setidaknya, mereka punya selalu punya uang untuk menyambung hidup.

Hal yang sama dirasakan keluarga Tohajir, tetangga Boiman. Akibat lumpur panas, Tohajir dan Sujiati harus menghentikan aktivitas mereka sebagai pedagang sayur mayur di pasar Porong Sidoarjo. "Tidak ada tempat bagi kami untuk menyimpan sayur, mayur, tempat kami sudah rusak karena lumpur panas," ungkap Sujiati pada The Post. Senada, keluarga Tohajir pun harus menerima uang kompensasi Rp. 3 juta dari Lapindo. "Kami tidak ada pilihan," ujar Sujati yang kini memiliki dua anak, Siska, 13 dan Galang, 2.

Keluarga Boiman dan Tohajir kini tinggal serumah di Perumtas Sidoarjo. Mereka menyewa ruang tipe 21 dengan dua kamar seharga Rp.1 juta/tahun. "Kami terpaksa patungan untuk menyewa rumah, sembari menata kembali hidup kami," kata Boiman yang memilih menempati salah satu kamar di rumah itu, sementara keluarga Tohajir menempati salah satu kamar yang lain. Di kamar itulah, Boiman dan Tohajir menyimpan harta benda yang tersisa. Sebuah televisi, karpet dan kasur serta beberapa potong pakaian.

Mereka menyulap ruang tamu sebagai dapur sekaligus ruang makan plus ruang tamu. Ketika The Jakarta Post menyunjungi rumah itu, Minggu ini, mereka berbuka puasa. "Yah, beginilah bila kami berbuka puasa, sangat sederhana," jelasnya. Nasi, tahu, tempe dan ikan asin menjadi menu sehari-hari. Menu yang sama itu juga yang mereka gunakan untuk sahur keesokan harinya.

"Hanya ini yang bisa kami beli, dengan uang yang kami dapatkan, kami benar-benar harus berhemat," ungkap Boiman. Bila mereka beruntung, sepotong bahan sayur mereka dapatkan dari pemberian penduduk yang iba dengan kondisi mereka.

Untuk mengisi waktu luang, Boiman dan Tohari sehari-hari bekerja sebagai pembuat batu bata dari bahan lumpur. Meskipun hingga saat ini, belum pernah mereka mendapatkan uang dari pekerjaan itu. "Kami disewa untuk membuat batu bata dari lumpur, mereka akan memberi saya RP.125 ribu untuk 1000 bata yang saya buat, tapi sampai saat ini belum pernah uang itu saya terima," kata Boiman. Padahal, ia sudah membuat 15 ribu batu bata.

Kondisi yang serba prihatin, memaksa keluarga Boiman dan Tohajir mengurungkan niat mereka untuk mudik lebaran. "Biasanya saya pulang ke Malang, dan Tohajir pulang ke Mojokerto, tapi sepertinya kami tidak akan pulang kampung untuk tahun ini karena kami tidak punya uang," katanya. Sepertinya, penderitaan belum berakhir bagi korban lumpur Lapindo.

No comments:

Post a Comment

Program

Program