25 October 2006

Khawatir Ponpes Terendam Lumpur, Santri Memilih Tidak Mudik

:: Do not republish. If you like to republish, please contact id_nugroho@yahoo.com, id_nugroho@telkom.net or call mobile phone: +62-81-6544-3718 ::


Seorang anak warga Besuki Sidoarjo yang terpaksa dimandikan di luar rumah, ketika desa itu terendam lumpur sebulan lalu.

Angin berhembus kencang menerbangkan debu yang menutupi jalanan Desa Besuki, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Selasa (24/10) ini. Hembusan itu membuat pepohonan kering yang tumbuh di pinggir jalan bergoyang-goyang, merontokkan dedaunan berwarna kecoklatan. "Ayo cepat dihidupkan radionya, sebentar lagi waktu sholat Dhuhur," kata Nanang Hadi, salah satu santri Pondok Pesantren Jawahirul Ulum, Besuki pada Syafe'i, teman satu pondokannya.

Syafe'i pun segera menghidupkan radio transistor, mencari gelombang RRI yang menyiarkan pengajian sebelum adzan dimulai sembari mendekatkan mickrophone ke speaker radio itu. Suara pengajian pun menggema melalui pengeras suara mushola ponpes. Tak lama kemudian, Syafe'i mengumandangkan adzan tanda sholat Dhuhur akan dimulai, diimami oleh pimpinan Ponpes KH. M. Amin Muhyiddin.

Mengurus mushola adalah salah satu kegiatan Nanang Hadi, Syafe'i dan Firdaus, tiga santri pondok pesantren Jawahirul Ulum. Kegiatan yang pada hari biasa dilakukan bergantian dengan santri ponpes itu, sejak awal minggu ini dikerjakan sendiri oleh ketiganya. "Teman-teman pada pulang kampung untuk mudik Lebaran, makanya kami sendiri yang sekarang mengurus mushola ponpes ini," kata Nanang pada The Jakarta Post.

Tidak seperti sebagian besar temannya yang pulang kampung ketika Lebaran tiba, ketiga pemuda asal Sidoarjo itu sengaja tetap tinggal di ponpes pada Lebaran tahun ini. Mereka siap menjadi sukarelawan untuk menyelamatkan keluarga KH. M.Amin dan aset ponpes, bila tiba-tiba lumpur Lapindo menerjang desa tempat ponpes itu berada. "Kami khawatir terjadi apa-apa di ponpes karena lumpur Lapindo, karena itu kami memilih untuk menjaga pondok dan membantu menyelamatkan keluarga Kyai Amin, bila bencana itu datang tiba-tiba," kata Syafe'i.

Kekhawatiran itu memang bukan tanpa alasan. Desa Besuki, tempat ponpes Jawahirul Ulum berada termasuk khawasan yang dinyatakan rawan oleh pemerintah, terkait lumpur Lapindo. Ponpes itu berjarak kurang lebih 1 km dari pusat semburan lumpur, dan 200 meter dari salah satu tanggul lumpur di samping jalan tol Surabaya-Gempol. Sebulan lalu, ketika lumpur Lapindo menyembur, desa Besuki adalah salah satu kawasan yang tergenangi oleh lumpur hampir satu meter. Pondok yang dihuni sekitar 150 santri itu ikut terendam.

Karena kejadian itu, ponpes Jawahirul Ulum yang memiliki jengjang pendidikan Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah (SD), Madrasah Tzanawiyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (SMA) itu sempat meliburkan sekitar 900 anak didiknya. Kerusakan alat-alat pendidikan akibat lumpur juga memaksa ponpes untuk melakukan peremajaan dan perbaikan peralatan pendidikan yang dimilikinya. "Saya ada di pondok ketika lumpur itu masuk ke desa Besuki, termasuk ke ponpes ini, Kyai Amin dan keluarganya sampai mengungsi di kamar santri yang terletak di lantai dua," kenang Nanang. Berbagai aset ponpes rusak parah karena peristiwa itu.

Beberapa santri yang terjebak di lantai dua, terpaksa dievakuasi menuju tempat yang lebih aman. KH. Amin dan keluarganya memilih tetap tinggal di ponpes. Tragedi itu masih membekas dalam benak santri ponpes Jawahirul Ulum. "Karena itulah, kami berjaga-jaga bila tiba-tiba tanggul jebol dan lumpurnya merendam desa Besuki, termasuk ponpes kami," jelas Nanang. Meski begitu, Nanang Hadi, Syafe'i dan Firdaus tetap menghormati kawan-kawan mereka yang mudik dan akan kembali saat libur lebaran berakhir pada 31 Oktober mendatang.

Tidak mudik, bagi ketiganya bukan hal yang mudah. Perasaan rindu untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga acap kali membayang di benak mereka. "Kalau keadaan normal, saya akan mudik ke rumah orang tua saja di Kota Sidoarjo untuk bersilaturahmi dan sungkem (meminta maaf), tapi karena keadaan seperti ini, saya memilih berjaga di ponpes dan tetap mendoakan kedua orang tua dan saudara dari kejauhan," jelas M. Syafe'i sambil tersenyum, mengulum kesedihan.

Pimpinan ponpes Jawahirul Ulum KH. M. Amin Muhyiddin mengatakan bahwa dirinya menghargai para santri yang tetap tinggal di ponpes meskipun saat ini adalah hari libur Idul Fitri. Secara resmi tokoh agama berusia 82 tahun itu memberi kesempatan pada santrinya untuk pulang kampung hingga tanggal 30 oktober mandatang. "Santri sebenarnya boleh pulang kampung sampai 30 Oktober besok," katanya pada The Jakarta Post.

KH. Amin mengungkapkan, meskipun pondoknya pernah terendam lumpur hingga satu meter dan membuat dirinya berserta keluarga mengungsi, namun hal itu tidak lantas membuat tokoh NU ini khawatir kejadian itu akan terulang. "Saya yakin, lumpur tidak akan kembali merendam ponpes ini, tidak tahu mengapa, tapi saya yakin dan pasrah saja," katanya. Bahkan, KH. Amin meyakini semburan lumpur akan segera berhenti.

Tapi di balik itu, KH. Amin menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo sebaiknya dijadikan momentum bagi masyarakat untuk mengevaluasi diri. "Bagaimana alam sudah tidak lagi bersahabat dengan kita, apa yang menyebabkan semua ini terjadi," katanya. Hanya saja, dirinya setuju bila hukum dan keadilan tetap ditegakkan, tapi yang lebih penting adalah keadilan untuk menyarakat.

Berdasarkan pengamatan The Jakarta Post di lokasi semburan lumpur, terlihat banyak masyarakat yang menyempatkan hari libur untuk menyaksikan semburan lumpur itu dari dekat. Beberapa mobil yang melintas di tol Surabaya-Gempol yang dibuka satu arah selama Idul Fitri menyempatkan diri berhenti sejenak. Pembangunan tanggul dan saluran pembuangan lumpur Lapindo ke sungai Porong, sementara dihentikan untuk memberi kesempatan pekerjanya merayakan Idul Fitri.

No comments:

Post a Comment

Program

Program