30 June 2006

Selamat Tinggal Majalah Mossaik,..

Meski nuansa kegagahan terpancar dari tulisan Errol Jonathans di Editorial Majalah Mossaik Edisi 44, Tahun ke IV, Juli 2006, namun kepedihan masih saja terasa. Apalagi ketika Pimpinan Redaksi majalah "Jendela Jawa Timur" itu mengakui adanya kerenggangan antara idealisme ala Mossaik dan kehendak pasar dalam edisi terakhir itu.

"...alhasil, Mossaik harus mengakui perjalanannya tertatih-tatih. Sebab pasokan darah yang harusnya mengalir deras dari sirkulasi dan iklan niaga ternyata hanya menetes-netes, meski Mossaik telah melewati usianya yang ketiga. Sehingga Mossaik harus berani memilih kata akhirnya." tulis Errol.

Hebatnya, laki-laki berambut putih itu bangkit dengan pertanyan, "Lantas apa cerita selanjutnya? Di saat Mossaik tidak akan hadir lagi dengan ujudnya, tidak berarti semangat dan filosofi persekutuan idealisme versus pasar ikut berakhir." Karena Errol meyakini, Mossaik adalah permulaan untuk menuju ke banyak pintu peluang Suara Surabaya Media, sang induknya.

Majalah Mossaik, bagi Saya adalah mimpi. Saya bermimpi, karir jurnalistik yang saya bangun sejak 1996 akan berakhir di majalah seperti ini. Apalagi, ada tiga orang punggawa (memimjam bahasa Errol Jonathans untuk menyebut awak Mossaik) pilihan yang menjadi napas majalah 'visual magazine' ini. Errol Jonathans, sang Pemimpin Redaksi, adalah salah satunya.

Laki-laki yang Saya kenal pertama kali di Stikosa-AWS ini bagi saya ibarat bola gundu. Kecil secara fisik tapi padat secara pemikiran, yang mengalir lewat suaranya yang berat dan tertata, khas penyiar radio. Melalui Errol inilah, saya mengenal apa itu profesionalitas. Saya yakin, profesionalitas itulah yang diterapkan di Suara Surabaya. Meskipun jelas tidak sempurna, karena tidak ada yang sempurna di atas dunia.

Redaktur Pelaksana Hendro D. Laksono adalah guru jurnalistik Saya. Meskipun dosa Saya tidak terhitung lantaran sering kali memilih untuk "berantem" ketika berdiskusi. Hendro juga pemimpin Makar (Majalah Karikatur) di Stikosa-AWS. Melalui tokoh kartun bernama Kang Djo, laki-laki asal Bojonegoro itu melemparkan kritik sosialnya. Dia juga yang mempelopori kebangkitan karikatur di kampus, dan sempat menjadi karikaturis freelance di Surabaya Post. Lihat saja rubrik kartun Kontemplasi di Majalah Mossaik, yang pasti digambar olehnya.

Majalah Sketsa yang dilahirkan Hendro D. Laksono adalah majalah pertama yang memuat karya jurnalistik Saya. Saya ingat betul, betapa Hendro yang saat itu menjadi pemimpin redaksi majalah Sketsa, melindungi Saya dari protes beberapa mahasiswa yang tersinggung dengan tulisan dan kartun yang Saya. Terima kasih kang,..

Dan Mamuk Ismuntoro. Bukan hanya Saya, setiap orang yang melihat foto-foto Mamuk hampir pasti berdecak kagum, karena foto Mamuk bukan hanya bagus secara fotografi, tapi juga indah. Moment seperti apapun, dihadirkan secara Indah oleh laki-laki berpembawaan kalem ini. Dia juga yang menjadi "saingan" Saya di Surabaya Post. Kami berlomba memasukkan foto-foto lepas di koran sore itu. Dan Mamuk-lah pemenangnya,..

Air mata sempat menggenang ketika Saya mengantar Mamuk ke Bandara Soekarno Hatta. Ketika itu Mamuk yang masih tercatat sebagai fotografer Radar Surabaya ditugaskan meliput Daerah Operasi Militer (DOM) di Daerah Istimewa (DI) Aceh. "Berangkat hidup, pulang harus hidup," kata Saya kepada Mamuk ketika itu. Itulah mengapa, tidak terbayangkan kebahagiaan Saya ketika suatu sore melihat Mamuk keluar dari taksi. Dia selamat dari kejamnya DOM Aceh.

Juga teman-teman Mossaik yang lain. Achmad Alim, Manda Roosalina, Indah Yulianti, Husnul M, Dukut Nugroho, Muhammad Munib dll. Tidak cukup kata mewakili mereka. Selamat tinggal Majalah Mossaik. Rest in peace,..

2 comments:

  1. cenil2:23 pm

    Coba kalo aku jadi salah satu punggawanya pak erol, pasti mosaik ga bakalan tutup, tapi yang ada malah ancur.. hehehe. gak..gak.. becanda. tapi, sebenernya sayang banget ya ampe tutup gitu, padahal mossaik tuh oke bgt jadi majalah lokal di sby.

    ReplyDelete
  2. Kamu pasti bisa mendapatkan lebih bagus dari Mossaik. Trust me,..

    ReplyDelete

Program

Program