Jakarta (iddaily.net) – Gandrung Sewu salah satu festival budaya yang dikenal luas di Banyuwangi, Jawa Timur. Pertunjukan ini menampilkan Tari Gandrung secara kolosal dengan melibatkan ratusan hingga ribuan penari dalam satu panggung terbuka.
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Gandrung Sewu menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas sekaligus melibatkan generasi muda dalam pelestarian tradisi.
Festival tersebut pertama kali digelar pada 2012 dan berkembang menjadi salah satu atraksi unggulan pariwisata budaya Banyuwangi.
Apa Itu Gandrung Sewu?
Dilansir dari situs Pemkab Banyuwangi, nama Gandrung Sewu merujuk pada pertunjukan Tari Gandrung yang melibatkan banyak penari.
Kata sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu, menggambarkan skala pertunjukan kolosal yang menjadi ciri khas festival tersebut.
Tari Gandrung sendiri merupakan kesenian tradisional yang erat dengan masyarakat Using di Banyuwangi.
Tarian ini memiliki hubungan dengan tradisi masyarakat setempat dan ungkapan rasa syukur, termasuk yang berkaitan dengan hasil panen.
Dalam perkembangannya, Tari Gandrung tidak hanya tampil pada kegiatan tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari pertunjukan seni dan kegiatan pariwisata.
Melalui Gandrung Sewu, tarian tersebut dihadirkan dalam skala besar dengan tata panggung, koreografi, kostum, dan iringan musik yang dirancang untuk mendukung pertunjukan bersama.
Bagaimana Gandrung Sewu Berkembang?
Sejak penyelenggaraan awal pada 2012, Gandrung Sewu menjadi bagian dari upaya Banyuwangi memperkenalkan seni tradisional melalui festival yang melibatkan masyarakat.
Pemkab Banyuwangi terus mengembangkan penyelenggaraannya dengan menghadirkan tema dan pendekatan pertunjukan yang berbeda dari tahun ke tahun.
Pada 2026, misalnya, festival ini mengusung tema Kembang Dermo dan menghadirkan konsep glow in the dark.
Pertunjukan dijadwalkan berlangsung pada malam hari, berbeda dari format siang hari yang digunakan dalam penyelenggaraan sebelumnya.
Menurut keterangan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang dimuat dalam pemberitaan resmi pemkab, perubahan konsep dilakukan untuk memberikan pengalaman baru kepada penonton dan wisatawan.
“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Ipuk.
Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan penyelenggaraan festival yang menggabungkan inovasi pertunjukan dengan upaya menjaga identitas kesenian daerah.
Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Tari Gandrung
Keterlibatan penari muda menjadi bagian penting dari penyelenggaraan Gandrung Sewu.
Melalui latihan dan pertunjukan bersama, generasi muda mendapatkan ruang untuk mempelajari gerakan tari, irama musik, serta kedisiplinan dalam seni pertunjukan.
Festival ini juga membuka kesempatan bagi peserta dari luar Banyuwangi untuk terlibat dalam kegiatan budaya daerah.
Pada penyelenggaraan 2026, Pemkab Banyuwangi mencatat 1.300 penari akan tampil, termasuk 200 peserta dari luar daerah.
“Mereka berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Palembang, Bali, Malang, Batu, Blitar, Kediri, dan Pasuruan,” tambah Ipuk.
Keterlibatan peserta dari berbagai daerah memperluas jangkauan festival sekaligus mempertemukan generasi muda dengan kesenian tradisional Banyuwangi.
Pelestarian Tari Gandrung tentu tidak berhenti pada satu festival dan pembelajaran di sanggar, keterlibatan pelaku seni, serta dukungan masyarakat tetap dibutuhkan agar tradisi tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Gandrung Sewu dan Pariwisata Budaya Banyuwangi
Gandrung Sewu menjadi salah satu contoh bagaimana kesenian tradisional dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata tanpa meninggalkan akar budayanya.
Penyelenggaraan festival turut memperkenalkan Banyuwangi sebagai daerah yang memiliki kekayaan seni dan budaya.
Dikutip dari Banyuwangi Tourism, lokasi pertunjukan di Pantai Marina Boom juga mempertemukan daya tarik pesisir dengan pertunjukan seni tradisional.
Dalam pengembangannya, manfaat festival tidak hanya diukur dari jumlah penonton.
Kegiatan budaya juga berpotensi membuka peluang bagi pelaku seni, usaha kuliner, transportasi, penginapan, dan usaha kecil di sekitar destinasi wisata.
Besarnya dampak ekonomi tersebut tetap perlu diukur melalui data resmi agar tidak hanya didasarkan pada perkiraan.
Gandrung Sewu pada akhirnya menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, generasi muda, dan pariwisata.
Perkembangan festival ini menunjukkan bahwa kesenian daerah dapat terus diperkenalkan melalui format baru, selama nilai budaya yang menjadi dasarnya tetap dihormati.
