Jakarta (iddaily.net) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar tetap mewaspadai kondisi cuaca panas dan kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan lokal masih berpotensi terjadi di beberapa daerah.
Dalam prakiraan cuaca Indonesia periode 23–29 Oktober 2026 yang diterbitkan pada 22 Oktober, BMKG menjelaskan bahwa minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan masih memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah.
BMKG mencatat suhu udara maksimum di Jawa Timur mencapai 38 derajat Celsius pada 16 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan catatan suhu maksimum pada tanggal tersebut, bukan suhu aktual seluruh wilayah Jawa Timur pada Jumat (23/10/2026).
Kondisi panas dan relatif kering juga terjadi di sejumlah daerah lain. Pada 21 Oktober 2026, suhu maksimum tercatat mencapai 39,2 derajat Celsius di Lampung dan 39 derajat Celsius di Jawa Barat.
Menurut BMKG, kondisi tersebut berlangsung di tengah pengaruh El Niño dengan intensitas sangat kuat dan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena iklim tersebut turut memengaruhi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
Jawa Timur Masih Berpotensi Mengalami Hujan Lokal
Meski kondisi kering masih perlu diwaspadai, bukan berarti seluruh wilayah Jawa Timur akan terus mengalami cuaca panas tanpa hujan.
Dalam prakiraan periode 23–25 Oktober 2026, BMKG memasukkan Jawa Timur sebagai salah satu wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca dapat berbeda antardaerah. Sebagian wilayah berpotensi tetap mengalami kondisi panas dan kering, sementara daerah lain dapat mengalami hujan lokal.
Karena itu, masyarakat perlu memantau prakiraan cuaca sesuai lokasi masing-masing, terutama sebelum melakukan perjalanan atau menjalankan aktivitas di luar ruangan.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi kering pada skala mingguan atau dasarian tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan signifikan akibat dinamika atmosfer regional dan lokal.
Waspada Dehidrasi hingga Kebakaran Hutan dan Lahan
Cuaca panas dan berkurangnya curah hujan dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat maupun lingkungan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Penggunaan tabir surya juga disarankan untuk membantu mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Selain itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan yang mudah terbakar, seperti semak belukar dan hutan.
Warga juga diimbau segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api di lingkungan sekitar.
