Ambon (iddaily.net) – “Permisi Bapak, apakah tertarik mencoba jus gandaria, buah khas Maluku?“ sapa Tina, ramah.
Pelayan di Restoran Apung, Ambon ini menawarkan tambahan minum, usai kami menyantap ikan woku dan sop kepala ikan.
Rumah Makan Apong Wayame yang terletak di sisi Teluk Ambon menyediakan berbagai menu menarik khas ibu kota provinsi berjuluk ’The Spice Islands’ atau ’Kepulauan Rempah-rempah’ ini.
Jus Gandaria? Saya lebih sering mendengar Gandaria sebagai nama daerah di Jakarta Selatan -kini terkenal dengan Gancit alias Mal Gandaria City, serta Gandaria di Jakarta Timur, di kawasan Pasar Rebo.
Gandaria sebenarnya merupakan nama buah. Seperti juga Kemang Menteng, dan Bintaro. Nama latinnya bouea macrophylla.
Buah ekostis khas Maluku ini banyak ditemukan di Pulau Ambon, yang berbentuk bulat kecil dengan warna kekuningan saat matang.
Buah ini biasa dipanen musiman ini, antara September-Desember, memiliki rasa asam manis segar mirip mangga-jeruk, bertekstur berserat, serta sering diolah menjadi jus atau campuran es buah.
Tak lama, datanglah jus itu. Meski sudah menamatkan jus tomat setelah menghajar aneka ikan di meja, rasanya tak baik menyia-nyiakan minuman langka ini.
“Tapi ini terlalu manis,“ kata Jafar Galunggung Bua jurnalis senior sahabat saya di sisi meja yang sama.
Ambon selalu memesona. Baru dua kali ke mari, setelah hampir delapan tahun berlalu.
”Selamat datang di Negeri Raja-Raja. Kami sedang bergiat mendatangkan investasi di berbagai bidang,“ ungkap Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa.
Ketua DPD Partai Gerindra Maluku ini sebelumnya anggota DPR RI 2019-2024.
Wakilnya, Abdullah Vanath, pernah dua periode menjabat Bupati Seram Bagian Timur, dan kini memegang tampuk pimpinan DPD Partai Demokrat Maluku.
Dalam pertemuan di Kantor Gubernur Maluku yang berhadapan langsung dengan Taman Pattimura itu, anggota Komisi II DPR RI Komarudin Watubun menyoroti ’sesaknya’ Kota Ambon.
”Ambon merupakan daerah pertama yang dibangun Belanda pada abad XV-XVI. Ini merupakan kota kolonial dan modern pertama, bahkan sebelum Batavia. Disiapkan sebagai kota benteng, pusat militer dan pusat rempah-rempah, untuk kapasitas 10 ribu orang penduduk. Bayangkan, sekarang Ambon dihuni 350 ribu orang,” urai politisi asal Tual, Maluku itu.
Politisi senior PDI Perjuangan ini pun menyoroti bagaimana pemerintah daerah harus menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah di tengah kota yang se-’crowded’ ini.
Maka, Komar pun mengingatkan rencana jangka panjang presiden pertama Soekarno yang menginginkan Masohi sebagai ibu kota Maluku.
Kota Masohi saat ini menjadi ibu kota Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Indonesia. Terletak di Pulau Seram, Soekarno meletakkan batu pertama sebagai penanda kelahiran kota pada 3 November 1957.
“Bung Karno menamakan Kota ini ’Masohi.’ Artinya: Gotong Royong. Beliau juga berkeinginan jadikan Masohi jadi Ibu Kota Provinsi Maluku,” ungkap Megawati saat secara virtual meresmikan Baileo -rumah adat khas Maluku, monumen dan jalan atas nama Ir Soekarno, di Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, 21 Juni 2021.
Semoga Ambon -dan Maluku secara umum- bisa terus maju, meski tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku tercatat sebesar 15,25%, atau setara dengan 286,86 ribu orang, jauh di atas angka kemiskinan nasional yang tercatat di bawah 10 persen.
Menjadikan Maluku provinsi ke-empat termiskin, setelah daerah-daerah di Papua.
Sementara itu, pada Triwulan IV 2025, ekonomi Maluku tumbuh 5,44 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,39 persen.
Pertumbuhan ini didorong oleh sektor pertambangan, industri pengolahan, dan perdagangan, dengan catatan tertinggi pada sektor pertambangan dan ekspor luar negeri.
Dangke Banyak -ini cara orang Maluku ucapkan terima kasih, semoga provinsi dengan 1.422 pulau yang 93 persen daerahnya berupa laut ini bisa terus maju!
