Close Menu
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About Us
  • Q&A
  • Privacy Policy
  • Dukung Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
iddaily.netiddaily.net
  • Beranda
  • Voice
  • Peristiwa
  • Galeri
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Indeks
iddaily.netiddaily.net
Home»Peristiwa»Hujan Meteor Orionid 21–22 Okt 2026 Bisa Diamati dari Jatim, Ini Waktu Terbaiknya
Peristiwa

Hujan Meteor Orionid 21–22 Okt 2026 Bisa Diamati dari Jatim, Ini Waktu Terbaiknya

Icha BalqisIcha Balqis22 Oktober 2026 / 12:29 WIB
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Hujan meteor/Dok science.nasa.gov
Hujan meteor/Dok science.nasa.gov

Jakarta (iddaily.net) – Hujan meteor Orionid mencapai puncak aktivitas pada malam 21 hingga dini hari 22 Oktober 2026.

Fenomena astronomi tahunan ini berpeluang diamati dari Jawa Timur, termasuk Surabaya, selama kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan.

Dikutip dari laman resmi science.nasa.gov, Orionid merupakan hujan meteor yang terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan serpihan yang ditinggalkan Komet Halley.

Partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi hingga menghasilkan kilatan cahaya yang dikenal masyarakat sebagai bintang jatuh.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjelaskan bahwa hujan meteor Orionid aktif pada 2 Oktober hingga 7 November 2026, dengan puncak pada malam 21–22 Oktober.

Dalam kondisi pengamatan ideal, Orionid dapat menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam.

Namun, angka tersebut merupakan perkiraan dalam kondisi langit yang sangat mendukung, bukan jumlah meteor yang pasti terlihat oleh setiap pengamat.

NASA juga mengingatkan bahwa cahaya Bulan yang terang pada periode puncak tahun ini berpotensi menyamarkan meteor-meteor yang redup.

Kapan Hujan Meteor Orionid Terlihat di Jawa Timur?

Waktu pengamatan menjadi salah satu faktor penting bagi masyarakat yang ingin menyaksikan hujan meteor Orionid.

Di Surabaya, periode setelah tengah malam hingga menjelang fajar menjadi waktu yang disarankan.

Perhitungan astronomi untuk Surabaya menunjukkan bahwa pengamatan dapat dicoba sekitar pukul 02.00–04.00 WIB, dengan peluang kondisi langit lebih gelap setelah Bulan terbenam.

Bulan diperkirakan terbenam sekitar pukul 02.20 WIB di Surabaya pada 22 Oktober 2026.

Karena itu, rentang setelah waktu tersebut hingga menjelang fajar dapat dimanfaatkan untuk mengamati langit.

Meski demikian, waktu tersebut merupakan panduan astronomi, bukan jaminan meteor akan terlihat.

Kondisi awan, hujan, polusi cahaya, dan hambatan pandangan di lokasi pengamatan tetap memengaruhi hasilnya.

Masyarakat di wilayah lain di Jawa Timur dapat menyesuaikan waktu pengamatan dengan kondisi langit setempat.

Mengapa Hujan Meteor Orionid Berasal dari Komet Halley?

Hujan meteor Orionid berkaitan dengan Komet Halley, komet periodik yang mengitari Matahari dan meninggalkan jejak partikel di sepanjang lintasannya.

Ketika Bumi melewati jalur partikel tersebut, sebagian debu memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik.

Gesekan dan interaksi dengan atmosfer menghasilkan cahaya yang terlihat sebagai meteor.

Orionid dinamai berdasarkan titik radian, yakni arah di langit tempat meteor-meteor itu seolah-olah berasal dan titik tersebut berada di sekitar rasi Orion.

Namun, meteor tidak hanya muncul tepat di dekat rasi Orion dan kilatan cahaya dapat melintas di berbagai bagian langit sehingga pengamat sebaiknya memperhatikan area langit yang luas.

NASA mencatat bahwa kecepatan tinggi merupakan salah satu karakteristik Orionid. Dalam kondisi tertentu, hujan meteor ini juga dapat menghasilkan meteor terang yang meninggalkan jejak cahaya.

Apakah Hujan Meteor Orionid Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang?

Ya. Hujan meteor Orionid dapat diamati tanpa teleskop maupun teropong. Peralatan khusus tidak diperlukan untuk melihat kilatan meteor yang melintas.

Agar pengamatan lebih optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Pilih lokasi dengan langit terbuka

Cari tempat yang memiliki pandangan luas ke langit dan relatif jauh dari lampu jalan, gedung, serta sumber cahaya buatan lainnya.

2. Perhatikan kondisi cuaca

Awan tebal dan hujan dapat menghalangi pandangan. Karena itu, periksa kondisi cuaca setempat sebelum memulai pengamatan.

3. Berikan waktu bagi mata untuk beradaptasi

Hindari menatap layar ponsel terus-menerus. Berikan waktu sekitar 20–30 menit agar mata lebih terbiasa dengan kondisi gelap.

4. Jangan hanya terpaku pada satu titik

Walaupun dinamai Orionid, meteor dapat melintas di berbagai bagian langit. Mengamati area yang luas memberikan kesempatan lebih baik untuk menangkap kilatan meteor.

5. Utamakan keselamatan

Pilih lokasi yang aman, tidak berada di tengah jalan, dan tidak mengharuskan pengamat mendekati tebing atau kawasan berbahaya pada malam hari.

Apakah Hujan Meteor Orionid Terlihat Jelas dari Surabaya?

Peluang pengamatan dari Surabaya tetap ada, tetapi kondisi perkotaan menjadi tantangan tersendiri.

Cahaya lampu kota dapat mengurangi kontras antara meteor dan langit malam.

Selain itu, cahaya Bulan yang masih terang pada awal periode pengamatan berpotensi membuat meteor yang redup sulit terlihat.

Pengamat yang berada di kawasan dengan polusi cahaya lebih rendah berpeluang memperoleh kondisi pengamatan yang lebih baik, asalkan langit cerah dan lokasi tersebut aman.

Perlu diingat, puncak hujan meteor tidak berarti langit akan dipenuhi kilatan cahaya secara terus-menerus.

Meteor bisa muncul dengan jeda yang tidak teratur, bahkan tidak terlihat selama beberapa waktu.

Karena itu, kesabaran menjadi bagian penting dalam mengamati fenomena astronomi ini.

Sampai Kapan Hujan Meteor Orionid Berlangsung?

Puncak Orionid terjadi pada malam 21–22 Oktober 2026, tetapi periode aktivitasnya berlangsung lebih lama.

Berdasarkan kalender hujan meteor NASA, Orionid aktif sejak 2 Oktober hingga 7 November 2026.

Artinya, masyarakat masih memiliki kesempatan mencoba pengamatan setelah malam puncak, meskipun intensitasnya tidak selalu sama.

Fenomena ini menjadi salah satu kesempatan untuk mengenal astronomi melalui pengamatan langsung.

Dengan memahami asal-usul meteor, memilih lokasi yang tepat, dan memperhatikan kondisi cuaca, masyarakat dapat menikmati fenomena langit tanpa memerlukan peralatan mahal.

Hujan meteor Orionid juga menjadi pengingat bahwa fenomena astronomi yang terlihat dari Bumi berkaitan erat dengan pergerakan planet dan jejak benda langit di Tata Surya.

Bagi masyarakat Jawa Timur, peluang menyaksikan Orionid tetap bergantung pada kondisi langit setempat.

Langit yang cerah, minim polusi cahaya, serta pengamatan setelah Bulan terbenam menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang melihat meteor.

Cara melihat hujan meteor Fenomena astronomi Oktober 2026 headline Hujan meteor Orionid Hujan meteor Orionid 2026 Hujan meteor Orionid Jawa Timur Komet Halley
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKarhutla Masih Terpantau di 9 Wilayah, Polda Jatim Siagakan Pasukan hingga 27 Oktober
Next Article PBNU Gelar Apel Hari Santri 2026 di Tebuireng, Ada Pembacaan Resolusi Jihad-Teater Heroik
Icha Balqis

Friendly Woman yang sering lost signal.

Related Posts

PBNU Gelar Apel Hari Santri 2026 di Tebuireng, Ada Pembacaan Resolusi Jihad-Teater Heroik

22 Oktober 2026 / 17:31 WIB

Karhutla Masih Terpantau di 9 Wilayah, Polda Jatim Siagakan Pasukan hingga 27 Oktober

22 Oktober 2026 / 10:00 WIB

Hari Santri Nasional 2026: Tema, Sejarah, dan Peran Santri di Era Digital

22 Oktober 2026 / 08:55 WIB
Leave A Reply Cancel Reply

PBNU Gelar Apel Hari Santri 2026 di Tebuireng, Ada Pembacaan Resolusi Jihad-Teater Heroik

22 Oktober 2026 / 17:31 WIB

Hujan Meteor Orionid 21–22 Okt 2026 Bisa Diamati dari Jatim, Ini Waktu Terbaiknya

22 Oktober 2026 / 12:29 WIB

Karhutla Masih Terpantau di 9 Wilayah, Polda Jatim Siagakan Pasukan hingga 27 Oktober

22 Oktober 2026 / 10:00 WIB

Hari Santri Nasional 2026: Tema, Sejarah, dan Peran Santri di Era Digital

22 Oktober 2026 / 08:55 WIB

Direktur Eksekutif Baru LPDS: Pers Sekarang Tidak Sedang Baik-baik Saja

21 Oktober 2026 / 14:25 WIB

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.