Jakarta (iddaily.net) – Film Indonesia kembali mendapat ruang di panggung internasional melalui Busan International Film Festival (BIFF) 2026 di Korea Selatan.
Dua film yang menarik perhatian adalah Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen dan Empat Musim Pertiwi garapan Kamila Andini, yang menghadirkan aktris senior Christine Hakim.
Keduanya mengangkat cerita berbeda, tetapi sama-sama membawa isu sosial dan pengalaman manusia ke hadapan penonton internasional.
Informasi program di situs resmi BIFF mencatat Laut Bercerita dengan judul internasional The Sea Speaks His Name, sedangkan Empat Musim Pertiwi menggunakan judul Four Seasons in Java.
Laut Bercerita Tayang Perdana di BIFF 2026
Laut Bercerita tercatat sebagai salah satu film dalam bagian Competition BIFF 2026 dan menjalani pemutaran perdana dunia atau world premiere.
Film berdurasi 133 menit ini disutradarai Yosep Anggi Noen dan diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017.
Cerita berpusat pada Laut, mahasiswa yang mulai menyadari kekerasan negara dan ketidakadilan sosial.
Ia kemudian terlibat dalam gerakan mahasiswa di tengah situasi politik Indonesia pada era 1990-an.
Ketika rekan-rekannya satu per satu ditangkap, Laut ikut menghilang setelah disergap aparat berpakaian sipil.
Keluarga yang ditinggalkan terus mencari kebenaran dan mempertahankan harapan.
Situs resmi BIFF menyoroti film ini sebagai kisah tentang korban penghilangan paksa, trauma yang ditinggalkan, serta perjuangan mempertahankan kebenaran.
Film ini dibintangi Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Yunita Siregar, Eva Celia, dan sejumlah aktor lainnya.
Kehadiran para pemain tersebut turut membawa kisah yang berakar pada sejarah Indonesia kepada penonton festival internasional.

Empat Musim Pertiwi Angkat Kisah Perempuan dan Penghakiman Sosial
Film berikutnya, Empat Musim Pertiwi atau Four Seasons in Java, merupakan karya terbaru sutradara Kamila Andini.
Film berdurasi 137 menit ini menghadirkan Putri Marino sebagai Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun.
Kepulangannya tidak disambut hangat oleh warga maupun keluarganya karena masa lalu Pertiwi yang pernah melakukan pembunuhan dan menjalani hukuman penjara.
Di tengah penolakan masyarakat, Pertiwi bertemu dengan orang-orang yang juga dianggap sebagai kelompok terbuang.
Mereka berusaha membangun komunitas, sementara Pertiwi harus menghadapi masa lalunya untuk mencari kedamaian.
Christine Hakim turut membintangi film ini bersama Arya Saloka, Hana Pitrashata Malasan, dan sejumlah pemain lainnya.
Dalam film tersebut, Christine memerankan Mak Ira, perempuan dengan masa lalu yang kompleks.
BIFF mencantumkan Four Seasons in Java dalam program festivalnya. Film ini mengeksplorasi prasangka, kekerasan, dan cara masyarakat menentukan siapa yang dianggap benar atau salah.
Christine Hakim dan Kiprah Film Indonesia di Panggung Dunia
Keterlibatan Christine Hakim dalam kedua film tersebut menjadi salah satu penghubung antara dua karya Indonesia yang tampil di BIFF 2026.
Dalam Laut Bercerita, ia terlibat dalam cerita tentang keluarga yang menghadapi kehilangan dan ketidakpastian.
Sementara itu, dalam Empat Musim Pertiwi, ia menjadi bagian dari kisah perempuan yang berhadapan dengan stigma dan penghakiman sosial.
Kedua film ini menunjukkan bahwa perfilman Indonesia tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa cerita tentang sejarah, kemanusiaan, ketidakadilan, dan kehidupan masyarakat ke forum internasional.
Kehadiran film-film Indonesia dalam program BIFF menjadi kesempatan bagi sineas dan pemain untuk memperkenalkan karya mereka kepada penonton lintas negara
