Jakarta (iddaily/net) – Kabar SpongeBob berhenti tayang di GTV ramai dibicarakan.
Padahal lebih dari 20 tahun serial animasi legendaris SpongeBob SquarePants menjadi bagian tak terpisahkan dari pagi dan siang hari kalian.
Benarkah serial kartun ikonik sejak penayangan perdananya di Lativi pada 2 Februari 2004, sebelum akhirnya berpindah ke Global TV (kini GTV) pada 2006, tamat atau hanya mengalami perubahan jadwal?
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga 2000-an, televisi pernah menjadi bagian penting dari rutinitas sehari-hari.
Pagi sebelum sekolah atau Minggu pagi menjadi waktu yang ditunggu karena layar kaca dipenuhi berbagai serial animasi dan anime.
Doraemon, Naruto, SpongeBob SquarePants, Avatar: The Last Airbender hingga Shaun the Sheep menjadi sejumlah judul yang akrab dengan masa kecil anak-anak Indonesia.
Kini, suasananya sudah berubah dan televisi bukan lagi satu-satunya tempat mencari hiburan.
Kehadiran layanan streaming, YouTube, media sosial dan penggunaan ponsel membuat pola konsumsi tontonan anak berubah cukup besar.
Akibatnya, sejumlah kartun yang dahulu mudah ditemukan di televisi nasional kini tidak lagi sesering dulu muncul di layar kaca.
Doraemon, Kartun yang Puluhan Tahun Menemani Penonton Indonesia
Sulit membicarakan nostalgia kartun Indonesia tanpa menyebut Doraemon.
Robot kucing dari abad ke-22 itu sudah sangat lama menjadi bagian dari televisi Indonesia.
Doraemon pertama kali hadir di RCTI dan kemudian menjadi salah satu program animasi yang paling lama bertahan di televisi nasional.
Pengisi suara Doraemon, Nurhasanah Iskandar, bahkan disebut RRI sebagai salah satu dubber paling ikonik di Indonesia.
Ia mengisi suara Doraemon di RCTI sejak 1993 hingga pensiun pada 2018.
Bagi banyak penonton, suara Doraemon, Nobita, Shizuka, Giant dan Suneo bukan sekadar suara karakter animasi. Suara tersebut menjadi bagian dari memori masa kecil.
Doraemon juga memiliki posisi istimewa karena tidak hanya populer di kalangan anak-anak.
Cerita mengenai persahabatan, keluarga, sekolah dan berbagai alat ajaib dari kantong empat dimensinya membuat serial tersebut dapat dinikmati lintas generasi.
Naruto dan Era Anime Televisi Indonesia
Selain Doraemon, anime Jepang juga pernah menjadi bagian besar dari program televisi Indonesia.
Naruto menjadi salah satu judul yang sangat populer. Kisah Naruto Uzumaki, seorang ninja muda yang bercita-cita menjadi Hokage, berhasil membangun basis penggemar besar di Indonesia.
Detik mencatat Naruto sebagai salah satu anime yang menjadi bagian dari masa kecil banyak orang Indonesia. Popularitas anime sendiri tidak berhenti setelah era televisi berjaya karena penonton kemudian memiliki lebih banyak pilihan melalui layanan digital.
Dahulu, penggemar anime harus menunggu jadwal tayang di televisi. Jika terlambat bangun atau sedang bepergian, episode favorit bisa saja terlewat.
Sekarang situasinya berbeda. Penonton dapat mencari judul yang diinginkan melalui platform digital dan menontonnya sesuai waktu yang mereka pilih.
Perubahan kebiasaan inilah yang membuat televisi perlahan kehilangan posisi sebagai satu-satunya sumber tontonan anak dan remaja.
SpongeBob, dari Global TV hingga Era Streaming
SpongeBob SquarePants juga memiliki tempat tersendiri dalam sejarah tontonan anak Indonesia.
Karakter spons berwarna kuning yang tinggal di Bikini Bottom tersebut menjadi salah satu tayangan yang identik dengan pagi hari.
Pada era 2000-an, SpongeBob bahkan disebut sebagai salah satu tontonan wajib anak sekolah.
Sebuah artikel Gen 987 FM mencatat SpongeBob pernah tayang di Global TV sekitar pukul 06.00-06.30 WIB, menjadi teman anak-anak sebelum berangkat sekolah.
Yang menarik, SpongeBob tidak hanya bertahan sebagai tontonan anak-anak.
Humor, karakter dan berbagai meme yang lahir dari serial tersebut membuat SpongeBob tetap dikenal oleh generasi yang lebih tua.
Bahkan hingga sekarang, karakter SpongeBob, Patrick, Squidward dan Mr Krabs masih sangat mudah dikenali.
Artinya, meskipun pola penayangannya berubah, popularitas sebuah karakter tidak otomatis hilang hanya karena tidak lagi mendominasi televisi.
Avatar: The Last Airbender, Kartun dengan Cerita Lebih Serius
Avatar: The Last Airbender juga menjadi salah satu serial yang sangat dikenang oleh generasi 2000-an.
Berbeda dengan sebagian kartun episodik, Avatar memiliki cerita berkelanjutan mengenai Aang dan teman-temannya dalam upaya mengembalikan keseimbangan dunia.
IDN Times memasukkan Avatar sebagai salah satu kartun Nickelodeon yang menjadi tontonan favorit anak-anak era 2000-an.
Popularitas Avatar menunjukkan bahwa penonton anak Indonesia saat itu tidak hanya mencari tontonan lucu.
Cerita petualangan, persahabatan, konflik dan perkembangan karakter juga mampu membuat penonton mengikuti sebuah serial dari episode ke episode.
Shaun the Sheep dan Tontonan Tanpa Banyak Dialog
Ada pula Shaun the Sheep yang memiliki karakter berbeda.
Serial animasi asal Inggris ini mengandalkan ekspresi, gerakan dan situasi komedi sehingga minim dialog.
Karena itu, ceritanya relatif mudah dipahami penonton dari berbagai usia dan negara.
Shaun dan kawanan domba di peternakan menjadi salah satu karakter animasi yang pernah menghiasi televisi Indonesia.
Model animasi seperti Shaun the Sheep memperlihatkan bahwa sebuah tayangan tidak selalu membutuhkan dialog panjang untuk bisa menjadi populer.
Mengapa Kartun di TV Makin Sedikit?
Perubahan ini tidak terjadi karena anak-anak tiba-tiba tidak menyukai animasi.
Justru pilihan tontonan mereka semakin banyak.
Dahulu, pilihan anak relatif terbatas pada stasiun televisi yang tersedia di rumah.
Jadwal tayang menjadi sesuatu yang penting dan anak-anak harus menunggu jam tertentu untuk melihat karakter favorit.
Sekarang, penonton memiliki smartphone, YouTube, layanan streaming dan berbagai platform digital.
Perubahan perilaku tersebut membuat kebiasaan menonton ikut berubah.
Sebuah artikel RRI mengenai kartun era 2000-an menyebut masa tersebut sebagai salah satu periode keemasan tayangan kartun di televisi Indonesia.
RRI juga mencatat sejumlah kartun yang dulu populer kini sudah jarang terlihat di televisi.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata kartun menghilang, melainkan cara masyarakat menonton telah berubah.
Dari Menunggu Jadwal TV Jadi Memilih Sendiri
Perbedaan paling terasa antara generasi 2000-an dan anak-anak sekarang adalah cara mendapatkan tontonan.
Dulu:
“Jam berapa Doraemon mulai?”
Sekarang:
“Mau nonton di platform mana?”
Dulu anak-anak harus menyesuaikan diri dengan jadwal stasiun televisi. Sekarang, platform digital justru menyesuaikan diri dengan penonton.
Perubahan ini juga membuat pengalaman menonton menjadi lebih personal.
Anak tidak harus menunggu Minggu pagi untuk melihat kartun favorit. Mereka dapat memilih judul, episode dan waktu menonton sendiri.
Namun, kenangan kartun tetap sulit digantikan
Meski teknologi berubah, nostalgia terhadap kartun era 2000-an tetap kuat.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa tersebut, menonton televisi bukan hanya soal melihat sebuah cerita.
Ada rutinitas yang menyertainya: bangun pagi, sarapan, duduk di depan televisi, berebut remote dengan saudara hingga bergegas menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum acara favorit dimulai.
Karena itu, ketika Doraemon, Naruto, SpongeBob, Avatar atau Shaun the Sheep kembali dibicarakan, yang muncul bukan sekadar ingatan terhadap sebuah serial.
Yang muncul adalah kenangan terhadap masa ketika hiburan terasa sederhana.
Tidak ada kewajiban memilih dari ratusan judul.
Tidak ada tombol skip episode.
Tidak ada algoritma yang menentukan tontonan berikutnya.
Cukup menyalakan televisi dan menunggu karakter favorit muncul di layar.
Mungkin itulah alasan mengapa kartun-kartun tersebut tetap memiliki tempat khusus di hati generasi yang tumbuh bersamanya.
Kartunnya mungkin tidak lagi mendominasi televisi seperti dulu. Namun bagi mereka yang pernah menunggunya setiap pagi, kenangannya masih tetap hidup.
